RSS

Tag Archives: bahan galian

Tahapan-Tahapan Dalam Usaha Pertambangan

1.PROSPEKSI
             a.      Pengertian Prospeksi
Prospeksi merupakan langkah awal usaha pertambangan yang bertujuan untuk menemukan adanya atau terdapatnya bahan galian yang mempunyai proses untuk diselidiki atau di eksplorasi lebih lanjut.  Prospeksi ini tidak selalu harus ada dalam setiap kegiatan atau aktivitas pertambangan, tetapi jika dalam awal kegiatan pertambangan, suatau lokasi mempunyai prospek untuk diselidiki lebih lanjut, atau dilakukan kegiatan eksplorasi, maka kegiatan prospeksi langsung dilewati dan kegiatan pertambangan langsung berada dalam tahapan eksplorasi.
              b.     Metode Prospeksi
Penelusuran jejak serpihan mineral (Tracing Float)  
Tracing float merupakan metode untuk menemukan letak sumber serpihan mineral (mineral cuts = float) yang umumnya berupa urat bijih (vein) endapan primer di tempat-tempat yang elevasinya tinggi. Caranya adalah dengan mencari serpihan atau potongan mineral-mineral berharga (emas, intan, kasiterit, dll) yang keras, tidak mudah larut dalam asam maupun basa lemah dan memiliki berat jenis yang tinggi dimulai dari kelokan di hilir sungai.
Pada kelokan sungai sebelah dalam diambil beberapa genggam endapan pasir lalu dicuci dengan dulang atau lenggang (pan/batea/horn). Bila dari dalam dulang itu ditemukan serpihan mineral berharga, maka pendulangan di kelokan sungai diteruskan ke hulu sungai sampai serpihan mineral berharga itu tak ditemukan lagi.
Selanjutnya pencarian serpihan itu dilakukan ke kiri-kanan tepian sungai dengan cara mendulang tumpukan pasir yang ada di tepian sungai tersebut. Pekerjaan ini diteruskan ke lereng-lereng bukit disertai dengan penggalian sumur uji dan parit uji sampai serpihan itu menghilang dan sumber serpihan yang berupa endapan primer itu ditemukan. Tetapi mungkin juga sumber serpihan mineral berharga itu tidak ditemukan.
Penyelidikan dengan sumur uji (Test Pit)
Untuk memperoleh bukti mengenai keberadaan suatu endapan bahan galian di bawah tanah dan mengambil contoh batuan (rock samples)-nya biasanya digali sumur uji (test pit) dengan mempergunakan peralatan sederhana seperti cangkul, linggis, sekop, pengki, dsb.
Bentuk penampang sumur uji bisa empat persegi panjang, bujur sangkar, bulat atau bulat telur (ellip) yang kurang sempurna. Tetapi bentuk penampang yang paling sering dibuat adalah empat persegi panjang; ukurannya berkisar antara 75 x 100 m sampai 150 x 200 m. Sedangkan kedalamannya tergantung dari kedalaman endapan bahan galiannya atau batuan dasar (bedrock)nya dan kemantapan (kestabilan) dinding sumur uji. Bila tanpa penyangga kedalaman sumur uji itu berkisar antara 4 – 5 m.
Agar dapat diperoleh gambaran yang representatif mengenai bentuk dan letak endapan bahan secara garis besar, maka digali beberapa sumur uji dengan pola yang teratur seperti empat persegi panjang atau bujur sangkar (pada sudut-sudut pola tersebut digali sumur uji) dengan jarak-jarak yang teratur pula (100 – 500 m), kecuali bila keadaan lapangan atau topografinya tidak memungkinkan.
Dengan ukuran, kedalaman dan jarak sumur uji yang terbatas tersebut, maka volume tanah yang digali juga terbatas dan luas wilayah yang rusak juga sempit.
Penyelidikan dengan Parit Uji (Trench) 
Pada dasarnya maksud dan tujuannya sama dengan penyelidikan yang mempergunakan sumur uji. Demikian pula cara penggaliannya. Yang berbeda adalah bentuknya; parit uji digali memanjang di permukaan bumi dengan bentuk penampang trapesium dan kedalamannya 2-3 m, sedang panjangnya tergantung dari lebar atau tebal singkapan endapan bahan galian yang sedang dicari dan jumlah (volume) contoh batuan (samples) yang ingin diperoleh. Berbeda dengan sumur uji, bila jumlah parit uji yang dibuat banyak dan daerahnya mudah dijangkau oleh peralatan mekanis, maka penggalian parit uji dapat dilakukan dengan dragline atau hydraulic excavator (back hoe).
Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya agar kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila kebetulan kedua parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya, maka jurusnya (strike) dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk menentukan bentuk dan ukuran urat bijih yang lebih tepat dibuat parit-parit uji yang saling sejajar dan tegak lurus terhadap jurus urat bijihnya.
Metode geofisika (Geophysical Prospecting)
Metode geofisika dipakai sebagai alat untuk menemukan adanya perbedaan (anomali) yang disebabkan oleh adanya endapan bahan galian yang tersembunyi di bawah permukaan bumi. Pada umumnya endapan bahan galian yang tersembunyi di bawah permukaan bumi itu memiliki satu atau lebih sifat-sifat fisik yang berbeda dari sifat fisik batuan di sekelilingnya, sehingga perbedaannya itu dapat dicatat (diukur) dengan peralatan geofisika. Metode geofisika ini memang mahal dan hasilnya tidak selalu teliti dan meyakinkan, karena tergantung dari kepiawaian dalam melakukan interpretasi terhadap anomali dan data geologi yang diperoleh. Walaupun demikian metode ini bisa sangat membantu dalam mengarahkan kegiatan eksplorasi di kemudian hari
Metode geokimia ( Geochemistry Prospecting)
Metode geokimia dipergunakan untuk merekam perubahan-perubahan komposisi kimia yang sangat kecil, yaitu dalam ukuran part per million (ppm), pada contoh air permukaan (air sungai), air tanah, lumpur yang mengendap di dasar sungai, tanah dan bagian-bagian dari tanaman (pepohonan) seperti pucuk daun, kulit pohon dan akar yang disebabkan karena di dekatnya ada endapan bahan galian atau endapan bijih (ore body). Pada dasarnya semua endapan bahan galian pada saat terbentuk akan “merembeskan” sebagian kecil unsur kimia atau logam yang dikandungnya ke lapisan batuan di sekelilingnya. ”Rembesan” unsur kimia atau logam inilah yang ditelusuri dengan metode geokimia. Oleh sebab itu prospeksi geokimia biasanya dilakukan di sepanjang aliran sungai dan daerah aliran sungai (DAS) serta di daratan.
Prospeksi geokimia hanya mampu membantu melengkapi data dan informasi untuk mengarahkan di daerah mana prospeksi geofisika harus dilakukan. Tetapi prospeksi geokimia sangat bermanfaat untuk penyelidikan di daerah yang bila diselidiki dengan geofisika tidak efektif, terutama untuk pengamatan awal di daerah terpencil yang luas. Setiap contoh air, tanah dan komponen tumbuh-tumbuhan yang diambil dengan teliti dan sistematis dari daerah yang sedang diteliti, kemudian harus dianalisis secara kimiawi dengan reagen yang khas dan hanya peka untuk unsur kimia atau logam tertentu (a.l. Cu, Pb, Zn, Ni dan Mo) walaupun kadar unsur kimia atau logam itu sangat rendah. Hasil analisis kimia khusus itu dipetakan untuk dipelajari adanya anomali geokimia yang antara lain disebut halos.
Prospeksi geokimia biasanya berlangsung tidak terlalu lama (0,5-1,0 tahun), sedangkan jumlah contoh (sample) yang diambil dari setiap tempat tak banyak (1-2 kg).
2. EKSPLORASI
          a. Pengertian Eksplorasi
Eksplorasi merupakan kegiatan lanjutan dari prospeksi atau penyelidikan umum yang bertujuan untuk mendapatkan kepastian tentang endapan bahan galian tersebut yang meliputi bentuk, ukuran, letak kedudukan, kualitas (kadar) endapan bahan galian serta karakteristik fisik endapan bahan galian dan batuan samping.
           b. Tahapan Dalam Perencanaan Kegiatan Eksplorasi
Tahap Eksplorasi Pendahuluan
Menurut White (1997), dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang diperlukan masih kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga berskala kecil 1 : 50.000 sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :
a. Studi Literatur
          Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-faktor geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.
b. Survei Dan Pemetaan
Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.
Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).
 Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.
Ø  Tahap Eksplorasi Detail
Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik, maka diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%), sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko dapat dihindarkan.
    Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan, kemiringan, dan penyebaran cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada) akan sangat memudahkan perencanaan kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu lainnya
Studi Kelayakan
Kegiatan ini merupakan tahapan akhir dari rentetan penyelidikan awal yang dilakukan sebelumnya sebagai penentu apakah kegiatan penambangan endapan bahan galian tersebut layak dilakukan atau tidak. Dasar pertimbangan yang digunakan meliputi pertimbangan teknis dan ekonomis dengan memperhatikan keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan hidup.
Pada tahap ini dibuat rencana produksi, rencana kemajuan tambang, metode penambangan, perencanaan peralatan dan rencana investasi tambang. Dengan melakukan analisis ekonomi berdasarkan model, biaya produksi penjualan dan pemasaran maka dapatlah diketahui apakah cadangan bahan galian yang bersangkutan dapat ditambang dengan menguntungkan atau tidak.
3. PERSIAPAN PENAMBANGAN
Kegiatan ini meliputi penyiapan infrastruktur dan lahan kerja penambangan yang antara lain meliputi pembuatan jalan, pembabatan semak/pohon, penupasan tanah penutup, pembangunan kantor, gedung, bengkel, dll.
4. PENAMBANGAN
Kegiatan penambangan yang dimaksud adalah kegiatan yang ditujukan untuk membebaskan dan mengambil bahan galian dari dalam kulit bumi, kemudian dibawa ke permukaan untuk dimanfaatkan. Penambangan bahan galian ini dibagi atas tiga bagian yaitu tambang terbuka, tambang bawah tanah, dan tambang bawah air.
5. PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
Bahan galian yang sudah selesai ditambang pada umumnya harus diolah terlebih dahulu di tempat pengolahan. Hal ini disebabkan antara lain oleh tercampurnya pengotor bersama bahan galian, perlu spesifikasi tertentu untuk dipasarkan serta kalu tidak diolah maka harga jualnya relative lebih rendah jika dibandingkan dengan yang sudah diolah.
Adapun tujuan pengolahan bahan galian adalah sebagai berikut:
  • Untuk menyesuaikan spesifikasi. Bahan galian hasil penambangan (raw material), pada umumnya tidak sesuai dengan spesifikasi bahan galian yang diinginkan oleh konsumen. Untuk itu, agar sesuai dengan kebutuhan konsumen, dilakukan pengolahan bahan galian. Contohnya ialah proses pencucian dan pengecilan ukuran batubara, pembuatan tepung dolomite dan kapur.
  • Untuk meningkatkan nilai tambah bahan galian. Pada umumnya kegiatan pengolahan bahan galian bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan galian ini berupa industry pengolahan, baik berskala industry rumah tangga maupun yang berskala sedang dan besar. Contohnya adalah pembuatan batu press, genteng press, batu krawang, semen pozzoland, semen Portland, dan ubin keramik.
  • Untuk mengurangi volume dan ongkos angkut. Pada proses pengolahan bahan galian, akan dapat dikurangi volume bahan galian yang berarti juga akan mengurangi ongkos angkut. Misalnya pada pengolahan 30 ton bijih tembaga, hanya akan menghasilkan kensentrat tembaga dan emas sebanyak lebih kurang satu ton. Berarti ongkos angkut yang dikurangi sebanyak 29 ton.
Cara pengolahan bahan galian, secara sederhana dapat dibagi atas tiga macam yaitu sebagai berikut:
  1. Pengolahan bahan galian secara fisika. Yaitu dengan cara memberikan perlakuan fisika seperti peremukan (crushing), penggerusan (milling), pencucian (washing), dan pengeringan (drying), dan pembakaran suhu rendah (baking). Misalnya penggilingan tepung dolomite, tepung kapur, penggilingan dan pencucian tanah liat.
  2. Pengolahan secara fisik dan kimiawi, tanpa ekstraksi metal. Contoh yang tergolong pengolahan secara fisika dan kimia tanpa ekstraksi metal ini adalah pengolahan batubara skala menengah dengan menggunakan reagens kimia.
  3. Pengolahan bahan galian secara fisika dan kimia dengan ekstraksi metal. Contoh pengolahan bahan galian secara fisika dan kimia dengan ekstraksi metal ini adalah pengolahan logam mulia baik skala kecil maupun skala besar.
 6. PENGANGKUTAN
Pengangkutan adalah segala usaha untuk memindahkan bahan galian hasil tambang atau pengolahan dan pemurnian dari daerah penambangan atau tempat pengolahan dan pemurnian ke tempat pemasaran atau pemanfaatan selanjutnya dari bahan galian tersebut.
7. PEMASARAN BAHAN GALIAN
Pemasaran adalah kegiatan untuk memperdagangkan atau menjual hasil-hasil penambangan dan pengolahan bahan galian.
·         Berdasarkan tipenya, pasar atau tempat penjualan bahan galian dibagi atas 4 macam yaitu sebagai berikut:
1.      Pasar yang dikuasai oleh produsen (captive market)
Yaitu pasar yang sudah dikuasai oleh produsen, baik secara monopoli, afiliasi perusahaan, ikatan formal, ataupun non formal ataupun misalnya produsen juga mempunyai pabrik pengolahan bahan galian tersebut.
2.      Pasar yang dikuasai pembeli
Yaitu pasar yang pembelinya hanya satu perusahaan, satu wilayah atau hanya satu negara.
3.      Pasar bebas
Yaitu pasar yang tidak ada ketergantungan antara pembeli dan penjual, masing-masing pihak bebas mencari pembeli dan penjual.
4.      Pasar yang dikuasai penjual
Yaitu pasar yang dikuasai penjual karena minimnya produsen yang memproduksi bahan galian tersebut.
·         Berdasarkan jangka waktu penjualannya pasar dapat dibagi atas 2 macam, yaitu sebagai berikut:
1.      Penjualan berdasarkan kontrak jangka panjang
Pasar kontrak jangka panjang yaitu pasar yang penjualan produknya dengan kontrak jangka panjang, misalnya lebih dari satu tahun.
2.      Penjualan spot
Penjualan spot yaitu penjualan sesaat atau satu atau dua kali pengiriman atau order saja.
Berdasarkan lokasinya pasar dibagi atas 3 macam, yaitu sebagai berikut.
  1. Pasar lokal. Pasar local yaitu pasar yang hanya berada dalam satu kabupaten atau provinsi dimana bahan galian tersebut ditambang atau dieksploitasi.
  2. Pasar regional. Pasar regional yaitu pasar yang berada dalam cakupan lintas provinsi dan juga melewati Negara bertetangga.
  3. Pasar internasional. Pasar internasional yaitu pasar yang cakupannya melintasi batas-batas Negara, misalnya Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, dan sebagainya.
8. REKLAMASI

Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan tersebut.

 

SUmber : http:// sangpem belajardua. blogspot. com/

 
Leave a comment

Posted by on March 19, 2013 in Mine Planning, Reklamasi Tambanag

 

Tags: , , ,

Andesit

Andesit termasuk jenis batuan beku kategori menengah sebagai hasil bentukan lelehan magma diorit. Nama andesit sendiri diambil berdasarkan tempat ditemukan, yaitu di daerah Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Peranan bahan galian ini penting sekali di sektor konstruksi, terutama dalam pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, gedung, jembatan, saluran air/irigasi dan lainnya. Dalam pemanfaatannya dapat berbentuk batu belah, split dan abu batu. Sebagai negara yang sedang membangun, Indonesia membutuhkan bahan galian ini yang terus setiap tahun.

andesit fileqMula Jadi

Jenis magma diorit merupakan salah satu magma terpenting dalam golongan kapur alkali sebagai sumber terbentuknya andesit. Lelehan magma tersebut merupakan kumpulan mineral silikat yang kemudian menghablur akibat pendinginan magma pada temparatur antara 1500 – 2500 C membentuk andesit berkomposisi mineral felspar plagioklas jenis kalium felspar natrium plagioklas, kuarsa, felspatoid serta mineral tambahan berupa hornblenda, biotit dan piroksen.

Andesit bertekstur afanitik mikro kristalin dan berwarna gelap.

 

Mineralogi

Mineral yang ada dalam andesit ini berupa kalium felspar dengan jumlah kurang 10% dari kandungan felspar total, natrium plagioklas, kuarsa kurang dari 10%, felspatoid kurang dari 10%, hornblenda, biotit dan piroksen. Penamaan andesit berdasarkan kepada kandungan mineral tambahannya yaitu andesit hornblenda, andesit biotit dan andesit piroksen.

 

Sifat Kimia dan Fisika

Komposisi kimia dalam batuan andesit terdiri dari unsur-unsur, silikat, alumunium, besi, kalsium, magnesium, natrium, kalium, titanium, mangan, fosfor dan air.  Prosentasi kandungan unsur-unsur tersebut sangat berbeda di beberapa tempat. Sebagai contoh, dalam Tabel 1., diperlihatkan komposisi kimia yang terdapat di Desa Kalirejo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Andesit berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan warna dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan. Berbutir halus sampai kasar, andesit mempunyai kuat tekan berkisar antara 600 – 2400 kg/cm2 dan berat jenis antara  2,3 – 2,7, bertekstur porfiritik, keras dan kompak.

Tabel 1. Komposisi kimia Andesit

 

Senyawa Komposisi (%)
SiO2 47,55
Al2O3 18,37
Fe2O3 8,19
CaO 7,11
MgO 2,25
Na2O 1,70
K2O 2,16
TiO2 0,59
MnO 0,22
P2O5 0,30
H2O 0,52

 

 

2.3.      Potensi dan Cadangan

 

Potensi andesit di Indonesia sangat besar dan tersebar di setiap propinsi. Hasil inventarisasi dan eksplorasi oleh Direktorat Sumberdaya Mineral pada awal 1997, cadangan andesit tercatat sekitar 2,1 juta ton (Tabel 2).

 

PERTAMBANGAN

Eksplorasi

 

Kegiatan eksplorasi andesit dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :

  1. Penelitian geologi

Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui batas penyebaran secara lateral, termasuk mengumpulkan segala informasi geologi dan pemetaan topografi. Peta topografi pada tahap ini berskala 1 : 500;

  1. Penelitian geofisika

Penelitian yang umum dilakukan berupa pendugaan geolistrik, yaitu penelitian berdasarkan sifat tahanan jenis batuan.

Kegiatan ini diselaraskan dengan data geologi permukaan ataupun bawah permukaan. Hasil interpretasi disajikan dalam bentuk penampang geologi yang didasarkan kepada hasil pengolahan data pengukuran geolistrik dengan menghubungkan setiap titik duga satu dengan yang lainya. Keadaan geologi ini akan memperlihatkan penyebaran, baik secara vertikal maupun lateral pada suatu penampang. Pendugaan geolistrik secara umum akan menyajikan data lapisan tanah pucuk dan lapisan andesit;

c.  Pemboran

Kegiatan ini dilakukan untuk pengecekan secara rinci data endapan bagi keperluan perhitungan cadangan;

  1. Pengambilan contoh

Kegiatan ini dimaksudkan untuk keperluan analisis laboratorium dan mekanika batuan;

 

  1. Perhitungan cadangan

Perhitungan cadangan yang terdapat di daerah penyelidikan dilakukan dengan cara metoda penampang (cross section method) yang sangat cocok untuk  batuan yang penyebarannya homogen serta ketebalannya relatif merata.

Volume cadangan dihitung per luas penampang yang dimensinya adalah di antara dua luas daerah penampang dan ketebalan pada titik-titik eksplorasi di sekelilingnya.

Dengan menjumlahkan volume seluruh penampang yang ada di daerah penyelidikan tersebut, maka jumlah cadangan dapat diketahui.

 

Penambangan

Metode penambangan yang biasa diterapkan terhadap andesit adalah tambang terbuka (quarry). Bentuk topografi bahan galian umumnya berbentuk bukit, dan penambangan dimulai dari puncak bukit (top hill type) ke arah bawah (top down) secara bertahap membentuk jenjang (bench). Secara garis besar tahapan kegiatan penambangan dapat diuaraikan sebagai berikut :

  1. Persiapan (development)

Meliputi pembangunan sarana dan prasarana tambang antara lain jalan, perkantoran, tempat penumpukan (stockpile), mobil-isasi peralatan, sarana air, work-shop, listrik (genset), serta poliklinik;

  1. Pembersihan permukaan (land clearing)

Perbersihan permukaan lahan yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar dengan alat konvensional atau buldoser;

  1. Pengupasan lapisan penutup (stripping overburden)

Mengupas tanah penutup dilakukan dengan buldoser atau back hoe. Tanah penutup didorong dan dibuang ke arah lembah (disposal area) yang terdekat, namun bila tumpukan hasil pengupasan ini jauh dari disposal area pembuangan-nya dapat dibantu dengan dump truck.

  1. Pembongkaran  (lossening).

Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membongkar andesit dari batuan induknya sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Untuk melaksanakan pekerjaan ini dilakukan dengan cara pemboran dan peledakan. Dalam kegiatan pemboran perlu ditentukan geometri lubang tembak yang meliputi berden, kedalaman, pemampat, subdrilling dan spasi. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan pemboran adalah crawler rock drill (CRD) dan kompresor.

Sedangkan untuk kegiatan peledakan digunakan bahan peledak ANFO/ damotin. Dalam kegiatan peledakan ini, untuk mendapatkan ukuran produk yang diinginkan ditentukan melalui perubahan spasi lubang ledak; makin rapat ukuran semakin kecil ukuran produknya.

 

  1. Pemuatan (loading).

Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat muat mekanis untuk memuat hasil kegiatan pembongkaran ke dalam alat angkut yaitu truk;

  1. Pengangkutan (transporting)

Bongkahan andesit diangkut ke lokasi unit peremukan menggunakan dump truck.

Peremukan

 

Pengolahan andesit adalah mereduksi ukuran yang sesuai dengan berbagai kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui unit peremukan   (crushing plant). Tahapan pengolahan meliputi :

1     Peremukan dengan primary crusher seperti jaw crusher, cone crusher atau gyratory crusher yang dilanjutkan dengan Secondary crusher;

2     Pengangkutan menggunakan ban berjalan;

3     Pemisahan menggunakan pengayak (screen);

4     Penghalus ukuran dengan rotopactor.

 

Dari proses peremukan akan menghasilkan beberapa macam ukuran antara lain :

  • jenis sirtu
  • ukuran – 50 + 30 mm
  • ukuran – 30 + 20 mm
  • ukuran – 20 + 10 mm
  • ukuran – 10 + 4 mm
  • ukuran – 4 m (abu-abu).

Jenis peralatan pada unit peremukan terdiri dari :

  • Pengumpan grizzly getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur banyaknya umpan masuk ke dalam peremuk berahang (jaw crusher) dan ayakan pemisah dengan sirtu;
  • Pengumpan getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur banyaknya umpan masuk ke dalam peremuk rahang II (secondary crusher);
  • Peremuk, digunakan untuk memperkecil ukuran yang sesuai dengan permintaan. Alat yang digunakan adalah :
    • Peremuk tingkat 1, yaitu peremuk berahang (jaw crusher) jenis single toggle;
    • Peremuk tingkat II yaitu peremuk berahang II, memakai tipe 80 dan 71, dengan ukuran masing-masing 36 x 10 dan 36 x 4.

Bagan alir proses peremukan terlihat pada Gambar 3. Untuk kepentingan lain seperti pembuatan hias, lantai, nisan dan peralatan rumah tangga, perlu dilakukan tahap pengolahan, pemahat-an, penghalusan, dan pemolesan.

 

KEGUNAAN DAN SPESIFIKASI.

Kegunaan

Andesit banyak digunakan untuk sektor konstruksi, terutama infrastruktur seperti sarana jalan raya, jembatan, gedung-gedung, irigasi, bendungan dan perumahan, landasan terbang, pelabuhan dan lain-lain.

Untuk menguji kualitas batuan dapat dilakukan dengan uji kuat tarik, kuat tekan, kuat geser, densitas, berat jenis dan lain-lain. Hasil dari uji itu akan diperoleh sifat-sifat elastisitas dari batuan. Sifat ini berperan penting sehubungan dengan pemanfaatan batuan itu sendiri.

Uji kuat tarik pada prinsipnya adalah dengan memberi beban atau gaya pada sisi contoh andesit yang berbentuk silinder (penekanan diametral) sampai contoh batuan tersebut pecah (Gambar 4).

Perhitungan besaran kuat tarik diberikan dengan persamaan sebagai berikut :

Tt = 2.Fc/ D.L  ; atau    Tt  = Fc/ r.L

Keterangan :

Tt         = kuat tarik, (kg/cm2)

Fc        = gaya/bebas sampai contoh

batan pecah, (kg)

D         = garis tengah contoh, (cm)

L          = panjang contoh, (cm)

r           = jari-jari contoh, (cm)

Uji kuat tekan dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan (Tc), batas elastis (Te), modulus elastisitas/Young modulus (E), dan Poissons ratio (V). Kuat tekan dihitung dengan rumus :

Tu = Pu/A

Keterangan :

Tu = kuat tekan uniaxial, (kg/cm2)

Pu = beban maksimum pada saat contoh  batuan pecah, (kg)

A    = luas permukaan contoh, (cm2)

Spesifikasi

Andesit banyak digunakan di sektor kontruksi. Pemanfaatan yang lain adalah untuk bahan baku pembuatan dimension stone, patung seni dan sebagainya.

  1. Kontruksi/bangunan

Dalam bentuk agregat, andesit banyak digunakan untuk pembangunan jembatan, pembuatan galangan kapal untuk dermaga,  pondasi  jalan   kereta api, bendungan/dam dan sebagainya.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk kebutuhan konstruksi dan bangunan menurut SII. 0378-80 (Tabel 4).

  1. Dimension stone

Pada pembuatan dimension stone andesit dipotong berdasarkan ukuran tertentu, dipahat, diampelas/diasah, kemudian dipoles agar dapat dimanfaatkan untuk keperluan : batu hias, tegel, dan peralatan rumah tangga.

PERKEMBANGAN DAN PROSPEK

Krisis ekonomi Indonesia sejak Juli 1997 menyebabkan lumpuhnya dunia usaha di dalam negeri termasuk pula pembangunan infrastruktur seperti  jalan raya, jembatan, irigasi, dan pengembang sektor perumahan/real estate, sebagai pemakai utama   andesit. Dengan membaiknya kurs rupiah terhadap dolar diharapkan akan membawa ke arah pemulihan perekonomian Indonesia sehingga dunia usaha akan bergairah kembali.

Cadangan andesit di Indonesia berjumlah milyaran ton, tersebar merata di seluruh daerah Indonesia. Dari kenyataan itu, untuk masa mendatang diperkirakan pengusahaan andesit di Indonesia akan mengalami peningkatan sejalan dengan kembali dimulainya pembangunan perumahan baik RSS, RS maupun real estat, juga pembangunan sektor konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan dsb. Identifikasi faktor yang mempengaruhi pasar, baik itu sektor pendukung maupun penghambat pengembangan usaha pertambangan andesit adalah :

  • cadangan; potensi andesit di Indonesia jelas memungkinkan dengan jumlah cadangan yang besar dan lokasinya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia;
  • tenaga kerja; cukup melimpah, biaya operasi tenaga kerja murah adalah faktor yang menguntungkan baik bagi perusahaan maupun pemerintah;
  • konsumen; perkembangan sektor kontruksi (jalan dan perumahan) dan sektor industri yang mulai membaik merupakan indikator akan meningkatnya tingkat kebutuhan andesit di sektor ini. Oleh karena itu pengembangan pertambangan andesit dengan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan sektor ini cukup memberikan harapan.

Perkembangan konsumsi andesit di sektor industri dalam kurun waktu 1987 -1997 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dengan laju perubahan tahunan sebesar 0,44%. Jenis industri barang-barang dari semen, genteng, dan barang bukan logam lainnya merupakan pemakai utama komoditas ini (Tabel 4).

 

andesit di sektor industri

 

Tahun Andesit (ton)
1987 2.174.000
1988 2.679.000
1989 2.797.000
1990 2.290.000
1991 3.048.000
1992 3.183.000
1993 3.323.000
1994 3.469.000
1995 3.622.000
1996 3.782.000
1997 3.940.000

Sumber : Biro Pusat Statistik, diolah kembali

 

Di sektor konstruksi, konsumsi andesit sebagai indikatornya adalah pemakaian di sub sektor perumahan.

Pembangunan perumahan di Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan melalui pihak lain/investor seperti Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI).

Pembangunan perumahan di Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan investor seperti Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI).

Menurut data dari BPS, dalam kurun waktu tahun 1987 – 1996 melalui Perumnas telah dibangun sebanyak 328.425 unit yang terdiri dari 127.023 unit Perumahan Sederhana, 190.442 unit Perumahan Inti, dan 10.960 unit Rumah Susun (Rusun). Dalam kurun waktu yang sama telah dibangun sebanyak 163.247 unit melalui KPR-BTN yang terdiri dari 143.940 unit melalui developer swasta dan 19.307 unit melalui developer Perumnas. Adapun melalui REI dalam kurun waktu tersebut jumlah terbesar yang dicapai adalah sebanyak 268.432 unit.

Khusus untuk KPR-BTN, Rumah Sederhana (RS) dan Rumah Sangat Sederhana (RSS), pada 2000 BTN mentargetkan sekitar 100.000 unit rumah. Hal ini diperkuat pula oleh perkiraan pemerintah bahwa pada tahun 2000 menyediakan dana sebesar Rp. 1,2 triliun untuk program pembangunan perumahan bagi masyarakat golongan penghasilan rendah.

Perekonomian Indonesia yang cenderung membaik diperkirakan kebutuhan akan perumahan terutama tipe yang dibangun melalui KPR-BTN akan semakin meningkat di masa mendatang, dan ini berarti kebutuhan akan andesit juga akan meningkat. Demikian juga halnya dalam pembangun gedung-gedung pusat pertokoan, pusat perkantoran swasta ataupun pemerintahan, pembangunan dan pemeliharaan jalan, jembatan serta sarana irigasi yang setiap tahun diperkirakan akan terus meningkat merupakan peluang bagi pertambangan andesit.

Dari sisi teknologi, secara umum penambangan andesit dapat dilakukan secara sederhana atau mekanis/ peledakan. Jumlah investasi yang dibutuhkan relatif kecil sehingga turut mendorong pengembangan usaha pertambangan andesit.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pembangunan pertambangan andesit adalah jumlah pengusahaan andesit non-formal. Selain itu, adanya beberapa kontraktor konstruksi yang juga merupakan pemasok andesit yang keberadaannya tersamar dan sulit diketahui, akan menutup peluang pihak lain yang akan berusaha menjadi pemasok andesit.

Masalah lingkungan dan tata guna lahan juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan. Perusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan penambangan akan terjadi. Penggunaan lahan berpotensi andesit untuk kegiatan sektor lain akan berakibat areal yang boleh ditambang menjadi terbatas.

 

Pesatnya kegiatan pembangunan menyebabkan peningkatan pendayagu-naan sumber daya alam termasuk andesit. Kebutuhan bahan galian tersebut bagi pembangunan menjadi sangat besar, di sektor konstruksi maupun di sektor  industri.

Potensi andesit yang demikian besar patut disyukuri dengan mulai membaiknya perekonomian di dalam negeri dan diharapkan di waktu  mendatang dapat menarik minat para pengusaha tambang untuk mengembangkan usaha   andesit, yang berarti pula memperluas lapangan kerja dalam rangka pemberdayaan perekonomian masyarakat.

 

Sumber : http://achmadinblog.wordpress.com/tag/batuan/

 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2013 in Batuan, Geology

 

Tags: , , ,

Survey Tinjau 1


Penyelidikan Lapangan

Pengumpulan Data Sekunder
Kegiatan Pengumpulan data sekunder dilakukan pada saat sebelum berangkat ke lapangan dan yang perlu dikumpulkan guna melengkapi laporan akhir ini adalah sebagai berikut :
a.         Data potensi/produksi sumber daya mineral dan batubara Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral (Neraca Sumber Daya Mineral)
b.         Peta geologi yang mencakup wilayah Kabupaten
c.         Peta Topografi  yang semuanya berskala 1 : 250.000.
d.         Data potensi/produksi sumber daya mineral non logam Kabupaten Dalam Angka
Pengumpulan Data Primer
Pengumpulan data primer yang dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dalam kegiatan uji petik,  meliputi :
a.       Membuat lintasan pengamatan mineral non logam setelah mempelajari peta geologi setempat hubungannya dengan bahan galian yang akan dijumpai sesuai jaringan jalan yang ada (berdasarkan peta topografi)
b.       pengamatan  singkapan endapan, meliputi: arah jurus perlapisan, struktur geologi, hubungan dengan formasi pembawa bahan galian, karakteristik endapan (warna, tekstur, sifat fisik), posisi geografis setiap titik lokasi pengamatan (menggunakan GPS) dan mencatatnya pada buku lapangan beserta sketsa/foto singkapan
c.    pengambilan conto mineral non logam di daerah uji petik dan lokasi lainnya untuk analisis fisika/kimia di laboratorium
d.    evaluasi dan analisis sementara di lapangan
e.    preparasi contoh yang akan dianalisis
Analisis Laboratorium
Analisis laboratorium dilakukan terhadap contoh bahan galian non logam yang mewakili setiap formasi pembawa bahan galian. Dari kegiatan uji petik di lapangan dilakukan pengambilan conto batuan di dua kabupaten sebanyak 65 (enam puluh lima) conto batuan, dengan perincian 30 (tiga puluh) conto di di daerah Kabupaten A, dan 35 (tiga puluh lima) conto di daerah Kabupaten B. Setelah dilakukan seleksi sesuai keperluan dilakukan  analisis terhadap beberapa conto, seperti tabel di bawah ini:
TABEL 3. JENIS DAN BANYAK CONTO YANG DIANALISIS
WILAYAH
ANALISIS KIMIA
PETRO-
GRAFI
ANALISIS BUTIR
XRD
KERAMIK
POLES
BLEACHING POWER
METHYLINE
BLUE
Kab. A
13
2
2
-
3
-
2
2
Kab. B
9
5
3
-
-
2
-
-
3.3. Pengolahan  Data
Evaluasi dan analisis data termasuk semua kegiatan pengidentifikasian, pengelompokkan dan pengujian data, baik data lapangan maupun data laboratorium serta perbandingan hasil analisis data dengan tujuan memperoleh informasi atau kesimpulan atas pelaksanaan  inventarisasi dan evaluasi mineral non logam di kedua kabupaten tersebut di atas.
Adapun urutan pengolahan data menjadi suatu laporan akhir adalah sebagai berikut :
a.         Memindahkan data tekstual lapangan  menjadi data digital, khususnya mengenai lokasi bahan galian, baik dari data sekunder maupun data yang didapat pada saat penyelidikan
b.         Mengolah data peta topografi (Bakosurtanal)   dari bentuk  gambar peta (image) ke dalam bentuk digital dengan program tertentu. Dan mengeditnya untuk mendapatkan peta topografi (digital) setiap kabupaten, yang akan digunakan sebagai bahan inventarisasi dan evaluasi keterdapatan dan sebaran bahan galian dengan menggabungkan data ketinggian (kontur) dengan sebaran geologi serta keterdapatan bahan galian, sehingga didapatkan bentuk geometri dari bahan galian (dalam skala 1 : 250.000), khususnya bahan galian yang identik sengan sebaran geologi,  seperti batuan intrusi: andesit, dan granit. Untuk memudahkan penghitungan sumber daya bahan galian tersebut.
c.         Membuat peta lokasi sumber daya mineral non logam dengan Skala 1 : 250.000 dari data digital yang telah diolah pada point b.
d.         Membuat peta lokasi bahan galian  daerah uji petik
e.         Membuat Data Lokasi  Sumber Daya Mineral Non Logam sesuai format yang telah ditentukan.
f.          Membuat laporan akhir sesuai format yang ditentukan

ALAT YANG DIGUNAKAN

  • Kompas Geologi
  • Palu Geologi
  • Loupe Geologi
  • GPS(Global Positioning System)
  • Meteran
  • Kantong Conto Batuan
  • Foto Tustel
  • Ransel, tas lapangan, buku lapangan dan alat tulis lainnya
 
Leave a comment

Posted by on April 5, 2012 in Eksplorasi

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,273 other followers