RSS

Category Archives: Batuan

Zeolite

1.  PENDAHULUAN

Zeolit alam merupakan senyawa alumina-silikat terhidrasi yang secara fisik dan kimia memiliki daya sebagai bahan penyerap (adsorpsi), penukar kation, dan katalis.

Di Indonesia, zeolit baru sekitar 10 tahun dikenal untuk diusahakan dan dimanfaatkan. Untuk itu, penelitian dan pengembangan ter-hadap mineral zeolit untuk ber-bagai keperluan masih berlanjut. Di negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang, zeolit telah digunakan secara luas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri manufaktur, dan konstruksi.

2.  GEOLOGI

2.1.     Mula Jadi

Mineral-mineral yang termasuk dalam grup zeolit pada umumnya dijumpai dalam batuan tufa yang terbentuk dari hasil sedimentasi debu vulkanik setelah mengalami proses alterasi.

Secara geologi, endapan zeolit terbentuk karena proses sedimentasi debu vulkanik pada lingkungan danau yang bersifat alkali (air asin), proses disgenetik (metamorfosa tingkat rendah), dan proses didrotermal.

a. Endapan sedimen vulkanik

Endapan jenis ini dicirikan oleh zona mineralogi secara lateral akibat perubahan komposisi air danau, yaitu mulai dari indikasi debu vulkanik yang tidak teralterasi dan tersingkap pada batas cekungan danau, diikuti oleh zona zeolit non-analsimik, dan akhirnya terbentuk zona natrium felspar ditengah cekungan. Strukturnya sangat sederhana, dengan ketebalan hingga beberapa meter. Daerah penyebaran cukup luas dan mempunyai konsentrasi tinggi untuk jenis mineral zeolit tertentu.

Secara umum, dijumpai di daerah yang bersifat asam dan kering, yang terdapat mineral klinoptilolit, erionit, khabazit, dan fillipsit.

b. Endapan Zeolit yang Berasal dari Hasil alterasi Air Tanah

Endapan jenis ini dicirikan oleh lapisan tufa zeolitik yang tebal. Zona zeolitik yang terbentuk lebih bersifat vertical disebabkan oleh perubahan komposisi kimia sebagai akibat dari reaksi air tanah.

Ketebalan endapan ini dapat mencapai ratusan meter. Mineral yang pada umumnya dijumpai adalah klinoptilolit dan mordenit.

c. Endapan Zeolit Jenis Diagenetik

Endapan jenis ini dicirikan oleh perlapisan sampai ratusan meter dengan pola sebaran sangat luas, namun kandungan mineral zeolit sangat rendah.

Ciri lain jenis endapan ini adalah struktur geologi yang komplek, sebagai akibat proses tektonik. Endapan zeolit ini mengandung mineral heulandit dan laumontit.

d. Endapan Zeolit Hidrothermal

Endapan zeolit jenis ini dicirikan oleh zona mineralisasi klinoptilolit dan morderit pada daerah intrusi yang terdangkal dan terdingin.

Meskipun endapan zeolit jenis ini mempunyai kadar yang tinggi, keterdapatannya di alam sangat terbatas, sehingga kurang begitu ekonomis untuk ditambang.

2.2 Mineralogi

Zeolit alam merupakan senyawa alumino-silikat terhidrasi, dengan unsur untama yang terdiri dari kation alkali dan alkali tanah. Senyawa ini berstruktur tiga dimensi dan mempunyai pori yang dapat diisi oleh molekul air. Rumus empiris zeolit alam adalah :

M2/nO.Al2O3. x (SiO2).yH2O; dengan

M     : kation alkali atau alkali tanah,

n      : valensi kation,

x      : suatu harga dari 2 – 10

y      : suatu harga dari 2 – 7

Sebagai contoh, formula unit sel dari klinoptilolit merupakan mineral zeolit paling umum dijumpai, yaitu :

(Na, K)2O.Al2O3.10SiO2.8H2O

atau dapat ditulis :

(Na3K3)(Al6Si30O72).24H2O

Ion Na+ dan K+ merupakan kation yang dapat dipertukarkan, sedangkan atom Al dan Si merupakan struktur kation dan oksigen akan membentuk struktur tetrahedron pada zeolit. Molekul-molekul air yang terdapat dalam zeolit merupakan molekul yang mudah lepas.

Zeolit alam terbentuk dari reaksi antara batuan tufa asam berbutir halus dan bersifat rhyiolitik dengan air pori atau air meteorik.

Komponen utama pembangunan struktur zeolit adalah struktur bangun primer (SiO4)4- yang mampu membentuk struktur tiga dimensi. Muatan listrik yang dimiliki oleh kerangka zeolit, baik yang terdapat dipermukaan maupun di dalam pori menyebabkan zeolit dapat berperan sebagai penukar kation, penyerap, dan katalis.

Pori-pori terbentuk dengan cara pengusiran air pada pemanasan di atas 100 oC. Keadaaan itu memungkinkan zeolit dapat penyerap molekul-molekul yang bergaris tengah lebih kecil dari pori-pori zeolit tersebut. Kandungan air yang terperangkap dalam rongga zeolit biasanya antara 10 – 35 %.

Perbandingan antara atom Si dan Al yang bervariasi akan menghasilkan banyak jenis atau spesies zeolit yang terdapat di alam. Sampai saat ini telah ditemukan lebih dari 50 jenis zeolit. Namun mineral pembentuk zeolit terbesar hanya ada sembilan jenis, yaitu analsim, khabazit, klinoptilolit, erionit, mordenit, ferrierit, heulandit, laumontit, dan fillipsit (Tabel 1).

Di Indonesia, jenis mineral zeolit yang terbanyak adalah klinoptilolit dan mordenit.

Struktur kristal zeolit membentuk suatu kerangka tetrahedron berantai dalam bentuk tiga dimensi. Pada kristal zeolit, kedudukan atom pusat tetrahedron ditempati oleh atom Si dan Al, sedangkan atom-atom oksigen berada pada sudut-sudutnya.

Kedudukan atom Al dalam posisi tetrahedron perlu tambahan muatan positif sebagai penetral muatan listrik, seperti kation logam alkali atau alkali tanah. Keadaan itu menyebabkan zeolit dapat bersifat sebagai penukar kation. Sementara pori-pori yang tedapat di dalam struktur kristal zeolit diisi oleh molekul air. Pada umumnya pori-pori tersebut mencapai 20 – 30% dari total volume kristal.

Struktur kristal zeolit mempunyai sifat hidrofoik serta memperlihatkan sifat afinitas yang sangat kuat terhadap molekul air. Dengan demikian semua aplikasi penyerapan dan reaksi-reaksi lainnya memerlukan proses dehidrasi terlebih dahulu untuk mencapai kondisi bebas air. Perlu diketahui bahwa semua proses penyerapan, katalis dan penukaran kation terjadi di dalam struktur kristal zeolit ini.

Secara garis besar, struktur zeolit dibangun dalam tiga bagian utama, yaitu  (Gambar 1) :

  • Unit bangun primer (TO4), yaitu tetrahedro dari empat oksigen dengan atom pusat tetrahedra (T) adalah Si4+ dan Al 3+. Semua atom oksigen mengambil bagian di antara dua tetrahedra, (TO2)n.
  • Unit bangun sekunder, yaitu susunan tetrahedra yang membentuk cincin, seperti cincin tunggal berbentuk lingkar empat, enam, delapan atau berbentuk kubus serta cincin ganda lingkar empat, prisma heksagonal atau gabungan dari dua cincin lingkar empat.
  • Polihedra besar yang simetri dan tersusun atas kudung oktahedra, 11 hedra atau unit ganelimit.

2.3 Cadangan Zeolit di Indonesia

Indikasi adanya endapan di berbagai tempat yang telah diketahui, secara umum dijumpai pada sebaran batuan berumur tersier.

Beberapa daerah di Indonesia yang diperkirakan mempunyai cadangan zeolit sangat besar dan berpotensi untuk dikembangkan, yaitu Jawa Barat dan Lampung. Daerah potensi zeolit ini dapat dilihat pada Lampiran A.

Di Indonesia mutu bentonit pada setiap lokasi berbeda-beda (Tabel  2).

 

3.  PERTAMBANGAN

3.1 Penambangan

Secara umum, penambangan zeolit dilakukan secara tambang terbuka. Peralatan yang digunakan dapat yang  sederhana hingga mekanis, tergantung kepada kapasitas produksi (skala menengah ke atas), penggalian zeolit dengan cara pemboran dan peledakan tidak dapat dihindari, mengingat kekerasan zeolit cukup tinggi.

Tahap penambangan zeolit terdiri atas :

  • Pengupasan tanah penutup.
    • Penggalian zeolit, manual atau dengan pemboran dan peledakan.
    • Pemuatan.
    • Pengangkutan.

Produk tambang zeolit berukuran 20 – 30 cm, atau sesuai dengan mesin peremuk utama yang digunakan.

3.2 Pengolahan

Pengolahan zeolit dilakukan dalam dua tahapan, yaitu pengecilan ukuran dan proses aktivasi (Gambar 2).

a. Pengecilan Ukuran

Pengecilan ukuran dilakukan melalui beberapa tingkatan, yaitu mulai dari peremukan (crushing) sampai dengan penggerusan (grinding).

Tahapan ini adalah untuk memperoleh ukuran produk sesuai dengan tujuan pemanfatan. Produk yang dihasilkan dapat secara langsung digunakan (bidang pertanian dan peternakan) atau diproses aktivasi terlebih dahulu.

Tingkatan dan peralatan yang digunakan dalam tahap pengecilan ukuran adalah :

Peremukan :

  • Crusher dan screen (ayakan).
    • Ukuran produk 3 cm.

b. Aktivasi

Proses aktivasi bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat khusus zeolit dengan membuang unsur pengotor yang terdapat di dalam zeolit. Ada dua cara yang digunakan dalam proses aktivasi zeolit, yaitu pemanasan dan kimia.

Pemanasan

Pemanasan dilakukan dalam suatu tungku putar (rotary kiln) dengan menggunakan hembusan udara panas pada suhu 200 – 400oC anatar 2-3 jam, tergantung kandungan unsur pengotor, serta stabilitas zeolit terhadap panas.

Stabilitas ini dipengaruhi oleh jenis mineral zeolit yang terkandung, atau rasio atom Si dan Al (Tabel 5).

Kimia

Aktivasi secara kimia dilakukan dengan cara peredaman dan pengadukan zeolit dalam suatu larutan asam (H2SO4 atau HCl) atau larutan soda kaustik (NaOH). Mineral mordenit dan klinoptilolip akan melepaskan ion Al 3+. Perubahan konsentrasi asam berakibat perubahan perbandingan atao Si dan Al (Tabel 4).

4.  KEGUNAAN DAN KLASIFIKASI

4.1 Dasar-dasar Penggunaan

Zeolit alam sebenarnya telah lama dikenal dan digunakan, namun hanya terbatas sebagai bahan bangunan (semen pozolan, blok batu ringan, batu untuk ukiran, dan agregate beton ringan). Pada 30 tahun terakhir, kegunaan zeolit dalam berbagai keperluan baru diketahui setelah kandungan mineral zeolit dapat dianalisis secara rinci dengan menggunakan defraksi sinar-X (XRD) mikroskop elektron.

Penelitian dan penggunaan zeolit di sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri, dan pengontrolan polusi telah banyak dilakukan. Dari hasil penelitian tersebut, pada 10 tahun terakhir telah mengubah kedudukan zeolit dari yang hampir tidak mempunyai nilai ekonomi menjadi bahan galian yang ekonomis untuk dikembangkan.

Penggunaan zeolit pada umumnya didasarkan pada sifat-sifat kimia zeolit, seperti penyerap, penukar kation, dan katalis.

  1. Penyerap

Penyerapan adalah proses ikatan suatu molekul atau unsur pada permukaan unsur lain. Penggunaan zeolit sebagai bahan penyerap karena :

  • Zeoit bersifat selektif dan mempunyai kapasitas tukar kation cukup tinggi.
  • Zeolit dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukuran dan bentuk struktur kristal zeolit.

Jika beberapa molekul  memasuki sistem pori zeolit, salah satu molekul akan tertahan berdasarkan pada kepolaran atau efek interaksi molekul dengan zeolit. Mekanisme proses ini ada dua, yaitu penyerapan fisik atau gaya vanderaxials dan penyerapan kimia atau gaya tarik elektrostatik. Kedua mekanisme itu dapat berjalan secara bersamaan bergantung sifat unsur yang diserap, keasaman permukaan, daya tukar kation zeolit, dan kandungan kelembaban sistem.

2.Penukar Kation

Kation-kation dalam zeolit dapat dipertukarkan dengan kation lain dalam suatu larutan. Hal ini disebabkan oleh ion-ion dalampori-pori kristal zeolit selalu memelihara kenetralan muatan listriknya. Selain itu juga disebabkan ion-ion tersebut yang dapat bergerak bebas. Kapasitas pertukaran kation tergantung kepada ukuran, muatan ion, dan jenis zeolit.

Selain sebagai penukar kation, zeolit juga dapat berfungsi sebagai gugus hidroksil (OH) pada zeolit memegang peranan penting. Gugus hidroksil pada zeolit dapat dibentuk dengan metoda deamonisasi melalui proses pertukaran ion NH 4+ pada seolit.

3. Katalis

Reaksi katalistik terjadi di dalam pori-pori kristal zeolit. Sifat zeolit yang sangat penting sebagai katalis adalah ukuran pori-pori dan volume kosong yang besar. Akan tetapi, sifat ini sangat jarang dijumpai pada zeolit alam, sehingga pemanfaatan zeolit buatan sebagai katalis lebih umum. Selain itu, kedudukan kation dalam struktur zeolit dan perbandingan atom Si dan Al juga mempengaruhi sifat zeolit sebagai katalis.

4.2 Penggunaan Zeolit

a. Bidang Pertanian dan Perkebunan

Berdasarkan kapasitas pertukaran kation dan retensivitas terhadap air yang tinggi, zeolit sekarang ini telah banyak digunakan untuk memperbaiki sifat tanah, terutama tanah yang banyak mengandung pasir (kandungan lempung sedikit) dan tanah podzolik. Fungsi zeolit disini adalah sebagai bahan pemantap tanah (soil con-ditioner), pembawa pupuk (fertilizer carrier), pengontrol pelepasan ion NH4+ dan K+ (slow release fertilizer), dan sebagai pengontrol cadangan air.

Dalam penggunaan zeolit sebagai pemantap tanah masalah penting yang harus diketahui adalah jenis kation dominan yang terkandung dalam zeolit. Zeolit dengan kandungan ion Na+ yang tidak lebih tinggi daripada kation yang dapat dipertukarkan akan memberikan hasil (panen) yang baik. Namun bila ion Na+ berlebihan akan menyebabkan banyak ion ini masuk ke dalam tanah, sehingga dapat menimbulkan keracunan dan hambatan dlam proses osmosa pada tanaman. Sebaliknya, zeolit dengan kandungan ion K+ yang tingi akan mempersulit terjadinya proses pertukaran kation dengan ion NH 4+, sehingga zeolit ini tidak cocok untuk pertanian. Oleh karena itu, zeolit jenis klinoptilolit lebih umum digunakan karena kandugnan ion Na+ lebih tinggi dibandingkan ion K+.

Penahanan ion NH4+ dalam struktur kristal zeolit dapat mencegah proses oksidasi ion NH4+ menjadi ion NO3+ oleh nitrifying bacteria. Selain itu, keadaan ini juga dapat mengontrol pemakaian pupuk jenis amonium secara berlebihan.

Penggunaan zeolit, terutama jenis klinoptilolit telah mempelihatkan hasil, yaitu berupa peningkatan ketersediaan unsur nitrogenn dalam tanah. Keberhasilan ini akan lebih terlihat lagi bila zeolit tersebut digunakan pada tanah yang kandungan lempungnya sedikit (sandy soil, coarse textured soils, dan highly permeable).

Penelitian pemanfaatan zeolit untuk pertanian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknoligi Mineral dengan Pusat Penelitian Tanah Bogor pada tahun 1985, diketahui bahwa hasil penelitian tanaman padi dalam laboratorium dan rumah kaca :

  • Sampai dengan umur tanaman satu bulan, penambahan 250 ppm zeolit pada lahan tanaman padi dan tanpa penambahan NPK memberikan pengaruh yang sama dengan kondisi kontrol. Namun, pada umur berikutnya, peningkatan dosis zeolit akan menyebabkan peningkatan anak tanaman pada dalam jumlah cukup tinggi.
  • Pemupukan dengan NPK dan penambahan 1.000 ppm zeolit akan menghasilkan gabah tertinggi dan jumlah anak terbanyak dibandingkan dengan pemberian zeolit pada tingkat dosis lainnya.
  • Pada skala lapangan, kenaikan produksi lahan pertanian secara optimal didapat dengan memakai zeolit sebanyak 6 ton/ha.

Tanah pertanian yang berupa tanah pozolan merah-kuning merupakan lahan yang kurang subur dan perlu diperbaiki. Secara umum, tanah jenis ini memiliki sifat kimia kurang baik, sedangkan sifat fisiknya tidak mantap karena stabilitas agregat kurang, sehingga mudah terkena erosi. Selain itu, kandungan mineral kaolinit juga tinggi, sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman agak kurang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, bahwa perlakuan terhadap tanah pozolan merah-kuning dengan kalsit dan zeolit memberikan pengaruh nyata, yaitu :

  • Penambahan 6 ton zeolit dan 2 ton kapur per ha, produksi bijih kedelai kering per ha meningkat 566,4 %, atau 1450 ton/ha daripada tanpa penambahan zeolit dan kapur yang hanya mencapai besarnya 0,256 ton/ha.
  • Penambahan 6 ton zeolit per ha, produksi jagung per ha meningkat 141 %, atau 230 ton per ha dibandingkan dengan produksi lahan tanpa penambahan zeolit yang besarnya 0,95 ton per ha.

Di Jepang, pemanfaatan zeolit untuk peningkatan produksi pertanian telah lama diterapkan. Menurut Minato (1968), penambahan 40 ton zeolit jenis klinoptilolit pada sawah seluas 1 are bersama-sama pupuk standar (Urea/NPK), dapat meningkatkan penyediaan nitrogen sebesar 63 %. Menurut Kazru Tori (1975), penambahan satu ton zeolit jenis klinoptilolit per ha dapat meningkatkan produksi padi 17 %, wortel 65 %, apel 13 – 14 %, terung 55 %, dan gandum 13 %.

b. Bidang Peternakan

Dalam bidang peternakan, zeolit telah digunakan secara komersial, terutama di negara-negara Eropa dan Jepang. Di Indonesia, zeolit telah digunakan sebagai imbuh pakan ternak babi dan ayam. Penggunaan untuk ternak domba dan sapi hingga sekarang masih dalam tahap penelitian.

Penggunaan zeolit dalam bidang peternakan didasarkan kepada dua sifat zeolit yang penting, yaitu :

  • Kapasitas pengikat ion NH 4+ yang berasal dari ammonia sangat besar.
    • Afinitas zeolit terhadap ion-ion yang bersifat racun.

Pada ternak ruminansia (domba, sapi, babi, ayam, dan lain-lain), proses pecernaan protein dan non protein nitrogen (NPN) sangat berbeda bila dibandingkan dengan proses pencernaan pada ternak non ruminansia. Pada ransum ternak ruminansia, baik protein maupun non protein nitrogen akan dicerna menjadi ammonik. Proses pencernaan nitrogen dalam ransum tersebut biasanya berlangsung cepat sehingga banyak protein yang tidak dapat dimanfaatkan oleh jasad renik (bakteri) untuk sintesis protein di dalam tubuh. Keadaan ini menyebabkan banyak protein yang hilang dalam bentuk urin.

Penambahan zeolit ke dalam ransum, menyebabkan kelebihan ion NH4+ dapat diikat oleh zeolit sehingga dapat dimanfaatkan oleh bakteri untuk sin-tesa protein sesuai kebutuhan. Jadi, fungsi zeolit di sini adalah sebagai buffer ion NH4+. Adanya mekanisme tersebut, pemanfaatan protein oleh ternak ruminansia lebih efisien, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi ternak.

Spesifikasi zeolit yang digunakan sebagai imbuh makan ternak dapat dilihat pada Tabel 5, yang cara penggunaan zeolit tersebut adalah :

  • Zeolit digerus sampai -200 mesh.
    • Bunga matahari juga digerus.
    • Kedua bahan di atas dicampur dengan rumput.

c. BiPerikanan

Yang dimaksud lahan perikanan di sini adalah berupa tambak, kolam, perikanan laut, dan lainnya.

Fungsi zeolit untuk perikanan adalah sebagai pengontrol kandungan ion NH4+ di dalam air. Pada umumnya, ion ini berasal dari kotoran ikan dan sisa makanan yang membusuk. Dengan pemberian zeolit, pada ruangan yang sama jumlah ikan dapat dipelihara lebih banyak. Sebagai contoh, ikan salmon sekitar 30.000 ekor dapat dipelihara dalam sangkar di sungai dengan kandungan ion NH4+ tetap terkontrol pada 0,15 ppm dengan pemberian zeolit setiap 6 – 8 hari.

 

Tabel 6. Spesifikasi Zeolit Sebagai Imbuh Makanan Ternak

Analisis Kimia Spesifikasi
SiO2 64,50 %
TiO2 0,32 %
Al2O3 11,95 %
Fe2O3 0,45 %
Na2O 4,22 %
CaO 1,21 %
MgO 0,13 %

Pada peternakan udang, kendala yang dihadapi adalah hasil panen yang rendah (1 ton per ha per tahun). Di Taiwan,  produksi tambak udang dapat mencapai 20 ton/ha/tahun. Hasil panen tambak udang yang rendah ini disebabkan oleh sirkulasi air yang belum baik sehingga tingkat kematian benur masih tinggi. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan memperbaiki sestem pengairan dan pemanfaatan zeolit.

Pada tambak dengan sistem  pengairan yang hanya mengandalkan air pasang surut air laut serta kepadatan penebaran undang yang tinggi akan menimbulkan masalah akumulasi amoniak. Berdasarkan penelitian, pada kandungan ion NH4+ sekitar 0,2 ppm, pernafasan dan pencernaan udang akan terganggu dalam waktu 35 hari.

Zeolit dapat mengatasi masalah polusi di tambak udang, terutama polusi yang terbentuk oleh ion NH3+, S2- , NH4+, Fe3+, dan Mn2+, baik yang berasal dari ekskresi udang itu sendiri maupun dari pembusukan sisa makanan. Percobaan yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara pada tambak udang windu dengan menggunakan zeolit memberikan hasil :

  • Kelangsungan hidup benur dari rata-rata 25 % menjadi 87 %.
    • Produksi tambak udang dari 4,36 kg per petak menjadi 12 kg per petak (7 x 4 m2).

Jumlah penggunaan zeolit pada tambak udang tergantung tujuan pemakaian, yaitu :

  • Untuk menyerap unsur NH4, H2S, Fe, dan unsur logam lain, dipakai zeolit 300 kg/ha/bulan.
  • Untuk perawatan dan pembersihan tambak, baik yang berasal dari kotoran dan sisa pakan udang maupun kotoran dari luar, dapat dilakukan dengan penaburan zeolit sekitar 50 gr/m2 setiap 7 – 10 hari.
  • Untuk tambak baru atau tambak selesai panen, pada dasar tambak ditebarkan zeolit sebanyak 500 kg/ha.

dBidang Industri

Pengeringan dan Pemurnian Gas

Zeolit  telah umum digunakan dalam proses pemurnian gas methan (biogas), gas alam, dan lain-lain.

Secara umum, gas methan yang terbentuk  dari pembusukan sampah atau kotoran binatang mempunyai komposisi CH+ (50%), CO2 (40%), dan sisanya (10%) berupa unsur belerang. Gas methan ini masih sangat kotor, bersifat korosif, dan nilai kalor sangat rendah. Tahap pekerjaan untuk memurnikan gas methan tersebut adalah :

  • Gas methan mula-mula dikeringkan dan dihilang unsur belerangnya.
  • Gas methan kering kemudian dialirkan melalui tabung-tabung yang berisi bubuk zeolit kering (zeolit jenis khabazit atau erionit).
  • Dalam tabung tersebut gas CO2 akan terserap dan terikat, sehingga dihasilkan gas methan yang murni.

Sama halnya dengan gas methan, dalam pemurnian gas alam juga digunakan zeolit (khabazit dan erionit) yang berfungsi menyerap gas CO2.

Mengingat sifat zeolit yang dapat menyerap gas CO2, maka zeolit dapat dimanfatkan untuk hal pencemaran udara dan air. Pencemaran tidak hanya terjadi karena adanya partikel yang tidak diinginkan tetapi dapat disebabkan pula oleh kadar oksigen yang menurun.

Pemakaian zeolit untuk meningkatkan konsentrasi zat asam dalam air merupakan suatu cara yang sangat mudah dan murah. Secara umum, peningkatan konsentrasi oksigen adalah dengan cara mengalirkan udara kotor (tercemar) ke dalam tabung-tabung yang telah diisi dengan bubuk zeolit yang telah diaktivasi dengan asam (Tabel 7).

Jenis zeolit yang dapat untuk untuk meningkatkan konsentrasi oksigen adalah mordenit, klinoptilolit, khabazit, erionit, dan analsim. Keistimewaan mordenit adalah mempunyai sifat tambahan, yaitu mampu menyerap gas nitrogen (N) secara terpisah yang kemudian diubah menjadi ikatan atau senyawa Na-N-H.

Proses peningkatan konsentrasi iksigen dapat dikerjakan pada temperatur kamar. Cara penggunaan zeolit sebagai bahanpemurnian oksigen adalah :

  • Digunakan empat buah tangki yang berisi tepung zeolit.
    • Dua tangki berdiameter 1 meter dan tinggi 6 meter digunakan untuk mengisap gas CO2 dan uap air.
    • Dua tangki yang lain dipakai untuk mengisap gas N2 (nitrogen).
    • Udara yang dialirkan melalui tangki-tangki tersebut akan keluar menjadi udara jenuh oksigen (80% O2).

Bahan Pengisi (Filler)

Zeolit dapat digunakan pada industri kertas dan kayu lapis (multipleks) sebagai pengisi (filler).

Pada industri kertas, zeolit jenis klinoptilolit dapat menghasilkan kertas berkualias super untuk menggantikan fungsi kaolin atau kalsium karbonat. Zeolit yang digunakan berukan 0,7 – 15 mikron. Spesifikasi zeoit sebagai pengisi dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Spesifikasi Zeolit sebagai Pengisi Kertas

Spesifikasi Nilai
Analisi Kimia : SiO2 TiO2 Al2O3 Fe2O3 Na2O K2O CaO.MgO Hilang pijar 55 – 56 % 0,03 % 28 – 30 % 0,5 % 0,05 % 7 % 2 % 6 – 7 %
Analisa Fisika : Ukuran butir : 300 mesh + 10 mesh – 5 mesh Brightness pH 0,05 % W 25,00 % 54,00 % 70 – 73 % 9,1 – 9-3

Sumber : Referensi Bahan Galian 1997, M Arifin

Pada industri kayu lapis, zeolit digunakan dalam bentuk pasta yang berfungsi sebagai pengisi dan perekat sebelum dilakukan penekanan dan pemanasan

Bahan Keramik

Pada suhu 500oC dan tekanan 2.000 Mpa, zeolit -Y akan berubah menjadi Jadeite (batu giok), yang merupakan batu permata yang sangat dan kaku. Reaksi perubahan fisika dan kimia zeolit – Y tersebut adalah :

Na(AlO2)2 4H2O —–à NaAlSi2O6 + 4H2O

Zeolit (dalam bentuk penukar magnesium) akan meleleh menjadi glas pada  suhu 1600oC dan pada suhu 10.000oC akan mengalami proses rekristalisasi membentuk kordirit, yang reaksinya adalah :

 

Mg(AlO2)4 (SiO2)5 —à Mg2Al4Si5O18MgX

Kordirit merupakan Bahan keramik yang komposisinya dapat diubah sebelumnya dengan cara penukaran kation.

e. Bidang Energi

 

Gasifikasi Batubara

Zeolit digunakan sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara, terutama batubara yang berkadar belerang dan atau nitrogen tinggi. Penggunaan zeolit dapat membantu untuk memperoleh gas batubara yang bersih karena zeolit tersebut dapat menyerap unsur-unsur pengotor. Cara lain dalam proses gasifikasi batubara, terutama batubara insitu, yaitu dengan menghembuskan gas oksigen (oksigen cair) ke dalam endapan tersebut.

Karena biaya untuk mencairkan dan memurnikan oksigen sangat mahal, maka dapat digunakan zeolit untuk membuat gas oksigen yang sesuai dengan kadar yang dikehendaki. Selain itu, bahaya kebakaran oksigen murni dapat dihindarkan atau dapat diperkecil.

 

Industri Perminyakan

Dalam industri perminyakan, zeolit selain digunakan sebagai petunjuk paleo environment pada lapangan minyak bumi, juga dapat digunakan pada proses pemurnian. Tujuan pemakaian zeolit di sini adalah untuk menyerap air dan karbon dioksida yang terkandung di dalam minyak bumi. Jenis zeolit yang dapat digunakan dalam proses ini adalah khabazit, klinoptilolit, dan mordenit. Penggunaan zeolit ini dapat berlangsung lama dan berulang-ulang dalam lingkungan yang bersifat asam.

Walaupun penggunaan zeolit alam kurang efektif bila dibandingkan dengan zeolit sintetis, namun zeolit alam mudah diperoleh dalam jumlah besar dengan biaya yang sangat murah. Dengan sedikit pengolahan, yaitu dengan menghilangkan unsur pengotornya, zeolit alam dapat digunakan sebagai bahan penyerap, penyaring, dan katalis minyak bumi yang sangat murah dengan hasil yang cukup memuaskan.

Sejak tahun 1970, zeolit jenis klinoptilolit dan mordenit telah digunakan sebagai bahan katalis, isomerisasi, hidrogenasi, alkalinisasi, dan bahan polimerisasi. Zeolit jenis khabazit digunakan sebagai bahan pengering gas H2, F2 dan pemurni hidrokarbon yang mengandung klorin (Cl2) dan flourin (F2). Mordenit aktif dapat dipakai sebagai katalis untuk menguraikan ikatan hidrokarbon, sebaliknya erionit dapat digunakan sebagai pembawa katalis pada pembuatan senyawa hidrokarbon.

 

Energi Matahari

Dalam industri energi matahari, zeolit dipakai sebagai bahan penyerap dan pelepasan panas kembali, teritama jenis khabasit dan klinoptilolit.

Penyerapan dan pelepasan panas radiasi matahari digunakan untuk pembuatan alat pemanas dan pendingin ruangan (air conditioner) atau alat pemanas air (heater). Selain itu, panas radiasi matahari juga dapat diubah fungsinya sebagai sumber energi listrik.

Sebetulnya, fungsi zeolit untuk energi matahari adalah untuk menciptakan keadaan kering di siang hari dan lembab di malam hari. Proses pengeringan dan pelembaban oleh mineral zeolit dapat menghasilkan panas sampai beberapa ratus BTU untuk setiap kilogram zeolit.

Zeolit dapat menyerap panas secara merata ke segala arah dengan kapasitas besar, yang berbeda dengan bahan penyerap lain yang kini banyak digunakan.

f. Kelestarian Lingkungan

Dalam masalah lingkungan hidup, zeolit digunakan sebagai bahan penghilang bau (deodorizer), penghilang warna, dan bahan pengontrol polusi sebagai subtitusi mineral fosfat dalam detergen.

Penggunaan zeolit sebagai bahan pengontrol polusi didasarkan kepada kemampuan zeolit untuk mengubah kation suatu limbah dalam jumlah besar secara selektif.

Untuk menghilangkan kesadahan dari pemakaian detergen, biasa digunakan sodium trifosfat sebagai pelembut air (water softener). Bahan kimia ini sangat berbahaya bila berada dalam air secara berlebihan karena dapat mempercepat pertumbuhan lumut hijau yang dapat mengurangi kadar oksigen dalam air.

Di negara Eropa (Jerman Barat dan Belanda) pengurangan pemakaian detergen fosfat sudah dilakukan. Masalah yang timbul, zeolit tidak larut tetapi membentuk suspensi dalam air, sehingga pemakaian detergen zeolit memerlukan modifikasi mesin cuci. Untuk itu, zeolit berukuran halus dan berbentuk bundar lebih disukai.

Spesifikasi zeolit yang digunakan untuk pengelolaan lingkungan dapat dilihat pada Tabel 9.

g. Bahan Bangunan

Penggunaan zeolit sebagai bahan bangunan dan ornamen telah dilakukan sejak jaman Romawi kuno.

Penggunaan tersebut meliputi jalan, pondasi rumah atau bangunan, saluran air, jembatan, bahan perekat atau plester, danlain-lain. Juga, ornamen yang dibuat untuk dinding berukir dan patung.

Seperti halnya perlit, obsidian, dan pitchstone, zeolit juga dapat dibuat menjadi pelet ringan. Cara ini dapat dilakukan dengan cara pemanasan zeolit hingga temperatur 1.400oC.

Di Jepang, zeolit jenis klinoptilolit di-panaskan hingga temperatur 550 oC lalu didinginkan di udara terbuka. Bahan lalu dicampur dengan plester dolomit dan air dengan rasio 1 : 1, lalu dicetak tekan dan dikeringkan dalam tungku sekitar dua jam. Produk yang dihasilkan adalah bata ringan dengan berat 0,75 kg dan kuat tekan 47 kg/cm2.

 

h. Industri Pesawat

Dalam indsutri ini, zeolit kemungkinan dapat digunakan sebagai saringan molekuler.

4.3 Zeolit Buatan

Di pasaran terdapat tiga jenis bahan kimia yang kegunaannya sama degnan zeolit alam, yaitu karbor aktif, silika gel, dan zeolit buatan. Akan tetapi berdasarkan penelitian, kemampuan karbon aktif dan silika gel sebagai bahan penyerap tidak melebihi zeolit alam.

Zeolit buatan dapat dihasilkan dengan dua cara, yaitu clay convertion proces dan hydrogel process. Jenis zeolit buatan yang dihasilkan tersebut adalah zeolit A, zeolit Y, zeolit K-G, zeolit alfa, zeolit 2K-5, danlain-lain.

Pada clay convertion process digunaakn bahan baku kaolin sebagai sumber silika dan alumina. Reaksi perubahan kimia dari proses tersebut adalah :

500 – 600oC

2Al2SiO5(OH4)    à   Al2Si2O7 + 4 H2O

Kaolin                  metakaolin

100 oC

6Al2Si2O7 + 12NaOH + 21H2O   à  Na12(AlO2)12(SiO2)1227H2O

metakaolin                zeolit A

Berdasarkan reaksi tersebut, untuk menghasilkan 1 ton zeolit A diperlukan bahan-bahan :

- kaolin                   :  1.414 lb,

- metakaolin            :  1.217 lb,

- sodium hidroksida   :  438 lb,

- air reaksi               :  345 lb.

Pada hydrogel process digunakan bahan baku alumino-silikat gel alkali tanah.

Tahapan proses pekerjaan  adalah :

  • Masukan 2.090 gr H2O ke dalam suatu ketel resin, dan larutkan 162,2 gr NaOH.
    • Tambahkan 425 gr sodium aluminat yang mengandung Al2O3 24 %, Na2O 20 %, dan H2O 56 % berat.
    • Dinginkan hingga suhu 100oF dan kemudian ditambahkan 570 silika kalsinasi.
    • Pendinginan dipertahankan pada suhu 100oF selama 24 jam dengan pengadukan perlahan, dan setelah itu suhu ditingkatkan hingga 212oF dan dipertahankan selama 24 jam dengan pengadukan perlahan.
    • Dinginkan secepatnya dengan air dan disaring untuk memisahkan padatan dari larutannya.
    • Padatan dicuci dengan air panas dan keringkan dalam oven bertekanan pada temperatur 250oF.
    • Produk yang dihasilkan adalah 464 gr zeolit Y yang berkomposisi Na2O Al2O3 nH2O.

Zeolit buatan lebih murni dan mempunyai kemampuan lebih luas dibandingkan dengan zeolit alam, terutama sebagai bahan katalis. Walaupun demikian, prospek pengembangan zeolit buatan belum memberikan peluang karena zeolit alam dapat diperoleh dalam jumlah besar dengan biaya lebih murah, sedangkan teknologi pemanfaatannya masih belum mencapai titik optimal.

5. PERKEMBANGAN DAN PROSPEK

Di masa mendatang, perkembangan zeolit di Indonesia diperkirakan semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin berkembangnya jumlah ataupun ruang lingkup penggunaan zeolit, serta perkembangan teknologi pengolahannya yang semakin dapat memenuhi kriteria zeolit untuk berbagai keperluan.

Ditinjau dari sisi teknologi dan potensi sumberdaya, pengembangan zeolit tidak menjadi masalah. Terdapat beberapa lokasi cadangan zeolit di Jawa Barat dan Lampung yang dapat dikembangkan, walaupun penyelidikan rinci terhadap kedua lokasi cadangan tersebut belum pernah dilakukan.

Secara teknis, pengembangan tambang zeolit baru melalui berbagai tahap kegiatan antara lain :

  • Evaluasi cadangan,
    • rancang-bangun tambang,
    • studi kelayakan.

Dalam kasus ini, evaluasi tambang zeolit baru hanya didasarkan pada rencana kapasitas pabrik terpasang sebesar 12.000 ton/tahun, sehingga tingkat produksi tambang diperkirakan sebesar 15.000 ton/tahun. Kelayakan ekonomi tambang zeolit .

 

Sumber : Achmadin.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2013 in Batuan, Geology

 

Tags: , , ,

Andesit

Andesit termasuk jenis batuan beku kategori menengah sebagai hasil bentukan lelehan magma diorit. Nama andesit sendiri diambil berdasarkan tempat ditemukan, yaitu di daerah Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Peranan bahan galian ini penting sekali di sektor konstruksi, terutama dalam pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, gedung, jembatan, saluran air/irigasi dan lainnya. Dalam pemanfaatannya dapat berbentuk batu belah, split dan abu batu. Sebagai negara yang sedang membangun, Indonesia membutuhkan bahan galian ini yang terus setiap tahun.

andesit fileqMula Jadi

Jenis magma diorit merupakan salah satu magma terpenting dalam golongan kapur alkali sebagai sumber terbentuknya andesit. Lelehan magma tersebut merupakan kumpulan mineral silikat yang kemudian menghablur akibat pendinginan magma pada temparatur antara 1500 – 2500 C membentuk andesit berkomposisi mineral felspar plagioklas jenis kalium felspar natrium plagioklas, kuarsa, felspatoid serta mineral tambahan berupa hornblenda, biotit dan piroksen.

Andesit bertekstur afanitik mikro kristalin dan berwarna gelap.

 

Mineralogi

Mineral yang ada dalam andesit ini berupa kalium felspar dengan jumlah kurang 10% dari kandungan felspar total, natrium plagioklas, kuarsa kurang dari 10%, felspatoid kurang dari 10%, hornblenda, biotit dan piroksen. Penamaan andesit berdasarkan kepada kandungan mineral tambahannya yaitu andesit hornblenda, andesit biotit dan andesit piroksen.

 

Sifat Kimia dan Fisika

Komposisi kimia dalam batuan andesit terdiri dari unsur-unsur, silikat, alumunium, besi, kalsium, magnesium, natrium, kalium, titanium, mangan, fosfor dan air.  Prosentasi kandungan unsur-unsur tersebut sangat berbeda di beberapa tempat. Sebagai contoh, dalam Tabel 1., diperlihatkan komposisi kimia yang terdapat di Desa Kalirejo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Andesit berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan warna dalam keadaan lapuk berwarna abu-abu kecoklatan. Berbutir halus sampai kasar, andesit mempunyai kuat tekan berkisar antara 600 – 2400 kg/cm2 dan berat jenis antara  2,3 – 2,7, bertekstur porfiritik, keras dan kompak.

Tabel 1. Komposisi kimia Andesit

 

Senyawa Komposisi (%)
SiO2 47,55
Al2O3 18,37
Fe2O3 8,19
CaO 7,11
MgO 2,25
Na2O 1,70
K2O 2,16
TiO2 0,59
MnO 0,22
P2O5 0,30
H2O 0,52

 

 

2.3.      Potensi dan Cadangan

 

Potensi andesit di Indonesia sangat besar dan tersebar di setiap propinsi. Hasil inventarisasi dan eksplorasi oleh Direktorat Sumberdaya Mineral pada awal 1997, cadangan andesit tercatat sekitar 2,1 juta ton (Tabel 2).

 

PERTAMBANGAN

Eksplorasi

 

Kegiatan eksplorasi andesit dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu :

  1. Penelitian geologi

Kegiatan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui batas penyebaran secara lateral, termasuk mengumpulkan segala informasi geologi dan pemetaan topografi. Peta topografi pada tahap ini berskala 1 : 500;

  1. Penelitian geofisika

Penelitian yang umum dilakukan berupa pendugaan geolistrik, yaitu penelitian berdasarkan sifat tahanan jenis batuan.

Kegiatan ini diselaraskan dengan data geologi permukaan ataupun bawah permukaan. Hasil interpretasi disajikan dalam bentuk penampang geologi yang didasarkan kepada hasil pengolahan data pengukuran geolistrik dengan menghubungkan setiap titik duga satu dengan yang lainya. Keadaan geologi ini akan memperlihatkan penyebaran, baik secara vertikal maupun lateral pada suatu penampang. Pendugaan geolistrik secara umum akan menyajikan data lapisan tanah pucuk dan lapisan andesit;

c.  Pemboran

Kegiatan ini dilakukan untuk pengecekan secara rinci data endapan bagi keperluan perhitungan cadangan;

  1. Pengambilan contoh

Kegiatan ini dimaksudkan untuk keperluan analisis laboratorium dan mekanika batuan;

 

  1. Perhitungan cadangan

Perhitungan cadangan yang terdapat di daerah penyelidikan dilakukan dengan cara metoda penampang (cross section method) yang sangat cocok untuk  batuan yang penyebarannya homogen serta ketebalannya relatif merata.

Volume cadangan dihitung per luas penampang yang dimensinya adalah di antara dua luas daerah penampang dan ketebalan pada titik-titik eksplorasi di sekelilingnya.

Dengan menjumlahkan volume seluruh penampang yang ada di daerah penyelidikan tersebut, maka jumlah cadangan dapat diketahui.

 

Penambangan

Metode penambangan yang biasa diterapkan terhadap andesit adalah tambang terbuka (quarry). Bentuk topografi bahan galian umumnya berbentuk bukit, dan penambangan dimulai dari puncak bukit (top hill type) ke arah bawah (top down) secara bertahap membentuk jenjang (bench). Secara garis besar tahapan kegiatan penambangan dapat diuaraikan sebagai berikut :

  1. Persiapan (development)

Meliputi pembangunan sarana dan prasarana tambang antara lain jalan, perkantoran, tempat penumpukan (stockpile), mobil-isasi peralatan, sarana air, work-shop, listrik (genset), serta poliklinik;

  1. Pembersihan permukaan (land clearing)

Perbersihan permukaan lahan yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar dengan alat konvensional atau buldoser;

  1. Pengupasan lapisan penutup (stripping overburden)

Mengupas tanah penutup dilakukan dengan buldoser atau back hoe. Tanah penutup didorong dan dibuang ke arah lembah (disposal area) yang terdekat, namun bila tumpukan hasil pengupasan ini jauh dari disposal area pembuangan-nya dapat dibantu dengan dump truck.

  1. Pembongkaran  (lossening).

Pekerjaan ini dimaksudkan untuk membongkar andesit dari batuan induknya sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Untuk melaksanakan pekerjaan ini dilakukan dengan cara pemboran dan peledakan. Dalam kegiatan pemboran perlu ditentukan geometri lubang tembak yang meliputi berden, kedalaman, pemampat, subdrilling dan spasi. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan pemboran adalah crawler rock drill (CRD) dan kompresor.

Sedangkan untuk kegiatan peledakan digunakan bahan peledak ANFO/ damotin. Dalam kegiatan peledakan ini, untuk mendapatkan ukuran produk yang diinginkan ditentukan melalui perubahan spasi lubang ledak; makin rapat ukuran semakin kecil ukuran produknya.

 

  1. Pemuatan (loading).

Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan alat muat mekanis untuk memuat hasil kegiatan pembongkaran ke dalam alat angkut yaitu truk;

  1. Pengangkutan (transporting)

Bongkahan andesit diangkut ke lokasi unit peremukan menggunakan dump truck.

Peremukan

 

Pengolahan andesit adalah mereduksi ukuran yang sesuai dengan berbagai kebutuhan. Untuk kegiatan ini dilaksanakan melalui unit peremukan   (crushing plant). Tahapan pengolahan meliputi :

1     Peremukan dengan primary crusher seperti jaw crusher, cone crusher atau gyratory crusher yang dilanjutkan dengan Secondary crusher;

2     Pengangkutan menggunakan ban berjalan;

3     Pemisahan menggunakan pengayak (screen);

4     Penghalus ukuran dengan rotopactor.

 

Dari proses peremukan akan menghasilkan beberapa macam ukuran antara lain :

  • jenis sirtu
  • ukuran – 50 + 30 mm
  • ukuran – 30 + 20 mm
  • ukuran – 20 + 10 mm
  • ukuran – 10 + 4 mm
  • ukuran – 4 m (abu-abu).

Jenis peralatan pada unit peremukan terdiri dari :

  • Pengumpan grizzly getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur banyaknya umpan masuk ke dalam peremuk berahang (jaw crusher) dan ayakan pemisah dengan sirtu;
  • Pengumpan getar, suatu alat yang berfungsi sebagai pengatur banyaknya umpan masuk ke dalam peremuk rahang II (secondary crusher);
  • Peremuk, digunakan untuk memperkecil ukuran yang sesuai dengan permintaan. Alat yang digunakan adalah :
    • Peremuk tingkat 1, yaitu peremuk berahang (jaw crusher) jenis single toggle;
    • Peremuk tingkat II yaitu peremuk berahang II, memakai tipe 80 dan 71, dengan ukuran masing-masing 36 x 10 dan 36 x 4.

Bagan alir proses peremukan terlihat pada Gambar 3. Untuk kepentingan lain seperti pembuatan hias, lantai, nisan dan peralatan rumah tangga, perlu dilakukan tahap pengolahan, pemahat-an, penghalusan, dan pemolesan.

 

KEGUNAAN DAN SPESIFIKASI.

Kegunaan

Andesit banyak digunakan untuk sektor konstruksi, terutama infrastruktur seperti sarana jalan raya, jembatan, gedung-gedung, irigasi, bendungan dan perumahan, landasan terbang, pelabuhan dan lain-lain.

Untuk menguji kualitas batuan dapat dilakukan dengan uji kuat tarik, kuat tekan, kuat geser, densitas, berat jenis dan lain-lain. Hasil dari uji itu akan diperoleh sifat-sifat elastisitas dari batuan. Sifat ini berperan penting sehubungan dengan pemanfaatan batuan itu sendiri.

Uji kuat tarik pada prinsipnya adalah dengan memberi beban atau gaya pada sisi contoh andesit yang berbentuk silinder (penekanan diametral) sampai contoh batuan tersebut pecah (Gambar 4).

Perhitungan besaran kuat tarik diberikan dengan persamaan sebagai berikut :

Tt = 2.Fc/ D.L  ; atau    Tt  = Fc/ r.L

Keterangan :

Tt         = kuat tarik, (kg/cm2)

Fc        = gaya/bebas sampai contoh

batan pecah, (kg)

D         = garis tengah contoh, (cm)

L          = panjang contoh, (cm)

r           = jari-jari contoh, (cm)

Uji kuat tekan dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan (Tc), batas elastis (Te), modulus elastisitas/Young modulus (E), dan Poissons ratio (V). Kuat tekan dihitung dengan rumus :

Tu = Pu/A

Keterangan :

Tu = kuat tekan uniaxial, (kg/cm2)

Pu = beban maksimum pada saat contoh  batuan pecah, (kg)

A    = luas permukaan contoh, (cm2)

Spesifikasi

Andesit banyak digunakan di sektor kontruksi. Pemanfaatan yang lain adalah untuk bahan baku pembuatan dimension stone, patung seni dan sebagainya.

  1. Kontruksi/bangunan

Dalam bentuk agregat, andesit banyak digunakan untuk pembangunan jembatan, pembuatan galangan kapal untuk dermaga,  pondasi  jalan   kereta api, bendungan/dam dan sebagainya.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk kebutuhan konstruksi dan bangunan menurut SII. 0378-80 (Tabel 4).

  1. Dimension stone

Pada pembuatan dimension stone andesit dipotong berdasarkan ukuran tertentu, dipahat, diampelas/diasah, kemudian dipoles agar dapat dimanfaatkan untuk keperluan : batu hias, tegel, dan peralatan rumah tangga.

PERKEMBANGAN DAN PROSPEK

Krisis ekonomi Indonesia sejak Juli 1997 menyebabkan lumpuhnya dunia usaha di dalam negeri termasuk pula pembangunan infrastruktur seperti  jalan raya, jembatan, irigasi, dan pengembang sektor perumahan/real estate, sebagai pemakai utama   andesit. Dengan membaiknya kurs rupiah terhadap dolar diharapkan akan membawa ke arah pemulihan perekonomian Indonesia sehingga dunia usaha akan bergairah kembali.

Cadangan andesit di Indonesia berjumlah milyaran ton, tersebar merata di seluruh daerah Indonesia. Dari kenyataan itu, untuk masa mendatang diperkirakan pengusahaan andesit di Indonesia akan mengalami peningkatan sejalan dengan kembali dimulainya pembangunan perumahan baik RSS, RS maupun real estat, juga pembangunan sektor konstruksi lainnya seperti jalan, jembatan dsb. Identifikasi faktor yang mempengaruhi pasar, baik itu sektor pendukung maupun penghambat pengembangan usaha pertambangan andesit adalah :

  • cadangan; potensi andesit di Indonesia jelas memungkinkan dengan jumlah cadangan yang besar dan lokasinya tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia;
  • tenaga kerja; cukup melimpah, biaya operasi tenaga kerja murah adalah faktor yang menguntungkan baik bagi perusahaan maupun pemerintah;
  • konsumen; perkembangan sektor kontruksi (jalan dan perumahan) dan sektor industri yang mulai membaik merupakan indikator akan meningkatnya tingkat kebutuhan andesit di sektor ini. Oleh karena itu pengembangan pertambangan andesit dengan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan sektor ini cukup memberikan harapan.

Perkembangan konsumsi andesit di sektor industri dalam kurun waktu 1987 -1997 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dengan laju perubahan tahunan sebesar 0,44%. Jenis industri barang-barang dari semen, genteng, dan barang bukan logam lainnya merupakan pemakai utama komoditas ini (Tabel 4).

 

andesit di sektor industri

 

Tahun Andesit (ton)
1987 2.174.000
1988 2.679.000
1989 2.797.000
1990 2.290.000
1991 3.048.000
1992 3.183.000
1993 3.323.000
1994 3.469.000
1995 3.622.000
1996 3.782.000
1997 3.940.000

Sumber : Biro Pusat Statistik, diolah kembali

 

Di sektor konstruksi, konsumsi andesit sebagai indikatornya adalah pemakaian di sub sektor perumahan.

Pembangunan perumahan di Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan melalui pihak lain/investor seperti Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI).

Pembangunan perumahan di Indonesia dilakukan melalui dua cara yaitu dibangun oleh perorangan dan investor seperti Perumnas, KPR-BTN, dan Real Estate Indonesia (REI).

Menurut data dari BPS, dalam kurun waktu tahun 1987 – 1996 melalui Perumnas telah dibangun sebanyak 328.425 unit yang terdiri dari 127.023 unit Perumahan Sederhana, 190.442 unit Perumahan Inti, dan 10.960 unit Rumah Susun (Rusun). Dalam kurun waktu yang sama telah dibangun sebanyak 163.247 unit melalui KPR-BTN yang terdiri dari 143.940 unit melalui developer swasta dan 19.307 unit melalui developer Perumnas. Adapun melalui REI dalam kurun waktu tersebut jumlah terbesar yang dicapai adalah sebanyak 268.432 unit.

Khusus untuk KPR-BTN, Rumah Sederhana (RS) dan Rumah Sangat Sederhana (RSS), pada 2000 BTN mentargetkan sekitar 100.000 unit rumah. Hal ini diperkuat pula oleh perkiraan pemerintah bahwa pada tahun 2000 menyediakan dana sebesar Rp. 1,2 triliun untuk program pembangunan perumahan bagi masyarakat golongan penghasilan rendah.

Perekonomian Indonesia yang cenderung membaik diperkirakan kebutuhan akan perumahan terutama tipe yang dibangun melalui KPR-BTN akan semakin meningkat di masa mendatang, dan ini berarti kebutuhan akan andesit juga akan meningkat. Demikian juga halnya dalam pembangun gedung-gedung pusat pertokoan, pusat perkantoran swasta ataupun pemerintahan, pembangunan dan pemeliharaan jalan, jembatan serta sarana irigasi yang setiap tahun diperkirakan akan terus meningkat merupakan peluang bagi pertambangan andesit.

Dari sisi teknologi, secara umum penambangan andesit dapat dilakukan secara sederhana atau mekanis/ peledakan. Jumlah investasi yang dibutuhkan relatif kecil sehingga turut mendorong pengembangan usaha pertambangan andesit.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pembangunan pertambangan andesit adalah jumlah pengusahaan andesit non-formal. Selain itu, adanya beberapa kontraktor konstruksi yang juga merupakan pemasok andesit yang keberadaannya tersamar dan sulit diketahui, akan menutup peluang pihak lain yang akan berusaha menjadi pemasok andesit.

Masalah lingkungan dan tata guna lahan juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan. Perusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan penambangan akan terjadi. Penggunaan lahan berpotensi andesit untuk kegiatan sektor lain akan berakibat areal yang boleh ditambang menjadi terbatas.

 

Pesatnya kegiatan pembangunan menyebabkan peningkatan pendayagu-naan sumber daya alam termasuk andesit. Kebutuhan bahan galian tersebut bagi pembangunan menjadi sangat besar, di sektor konstruksi maupun di sektor  industri.

Potensi andesit yang demikian besar patut disyukuri dengan mulai membaiknya perekonomian di dalam negeri dan diharapkan di waktu  mendatang dapat menarik minat para pengusaha tambang untuk mengembangkan usaha   andesit, yang berarti pula memperluas lapangan kerja dalam rangka pemberdayaan perekonomian masyarakat.

 

Sumber : http://achmadinblog.wordpress.com/tag/batuan/

 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2013 in Batuan, Geology

 

Tags: , , ,

Bentonit

PENDAHULUAN

Potensi endapan bentonit di Indonesia cukup besar dan tersebar di beberapa lokasi, yaitu di Pulau Jawa dan Sumatera dengan jumlah cadangan lebih dari 380 juta ton.

bentonite

Berdasarkan sifat kimianya, bentonit dibedakan menjadi dua, yaitu sodium (Na) dan Calsium (Ca) bentonit. Pemakai utama Na-bentonit adalah untuk lumpur bor dalam kegiatan pemboran. Sementa- ra Ca-bentonit dipakai sebagai penyerap (penjernih) di industri minyak goreng.

Salah satu indikator kenaikan produksi Ca-bentonit dapat dtunjukkan oleh produksi minyak goreng. Hampir di atas 70 % dari total konsumsi digunakan dalam industri ini.  Untuk Na-bentonit jumlah pemakaian banyak tergantung kepada eksplorasi minyak bumi dan gas.

GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN

Mula Jadi

Secara umum, mula-jadi endapan bentonit ada empat macam, yaitu hasil pelapukan, hydrothermal, transformasi, dan sedimentasi.

Endapan hasil pelapukan;

Faktor pembentukan endapan ben-tonit hasil pelapukan adalah kondisi komposisi mineral batuan, komposisi kimia dari air, dan daya lalu air pada batuan asal. Yang terakhir ini dapat dikemukakan sebagai : iklim, berbagai relief dan tumbuh-tumbuhan yang berada di atas batuan.

Pembentukan bentonit hasil pelapukan adalah akibat reaksi antara ion-ion hidrogen (H+) dalam air tanah dengan senyawa silikat. Ion H+ tersebut berasal dari asam karbon akibat pembusukan zat-zat organik di dalam tanah.

Mineral penting saat pembentukan lempung adalah plagioklas, kalium-feldspar, biotit, muskovit, sedikit kandungan senyawa alumina dan ferro- magnesia. Plagioklas sangat reaktif, berjumlah banyak dan sumber utama dari kation dan silika dalam air tanah.

Larutan hydrotermal

Larutan hydrotermal merupakan larutan bersifat asam dengan kandungan klorida, belerang, karbon dioksida dan silika. Komposisi larutan berubah karena ada reaksi dengan batuan gamping menjadi larutan alkali yang bersifat basa, lalu terbawa keluar dan akan tetap bertahan selama unsur alkali dan alkali tanah tetap terbentuk akibat penguraian batuan asal.

Pada alterasi hydrotermal relatif lemah, mineral-mineral asal menentukan hasil alterasi tersebut. Pada alterasi sangat lemah, mineral-mineral yang kaya dengan unsur magnesium cenderung membentuk klorit. Pada alterasi lemah, adanya unsur alkali dan alkali tanah akan membentuk monmorilonit kecuali kalium, mika, feromagnesia dan feldspar. Monmorillonit terjadi karena adanya unsur magnesium.

Endapan transformasi

Endapan bentonit hasil transformasi/ devitrifikasi debu gunung api terjadi dengan sempurna apabila debu diendapkan di dalam cekungan seperti danau atau laut. Mineral gelas gunung api lambat laun akan mengalami devitrifikasi.

Endapan sedimen

Monmorilonit bisa juga terjadi sebagai endapan sedimen dalam kondisi basa (alkalin). Mineral hasil sedimentasi terbentuk dalam cekungan dan bersifat basa dan tidak berasosiasi dengan tufa, seperti atapulgit, sepiolit, mon-morillonit, karbonat, silika pipih, fosfat laut dan sebagainya. Lingkungan ini banyak mengandung larutan silika yang terendapkan dalam bentuk flint, kristobalit, atau senyawa alumunium dan magnesium.

Secara umum, Ca-bentonit terjadi dari alterasi mineral dalam batuan beku dan metamorfik yang biasanya ter-dapat dekat dengan permukaan. Hal ini disebabkan ion Na+ dalam lempung bentonit bersifat tidak mantap dan mudah diganti oleh ion Ca+, dan juga ion H+ pada tingkat pelapukan selanjutnya. Sebaliknya, Keberadaan Na-bentonit di daerah tropis hanya dijumpai pada tempat dalam yang mengalami proses pelapukannya tidak berkepanjangan.

Mineralogi

Bentonit adalah istilah lempung mon-morillonit dalam dunia perdagangan dan termasuk kelompok dioktohedral. Penamaan jenis lempung tergantung dari penemu atau peneliti, misal ahli geologi, mineralogi, mineral industri dan lain-lain.

Dalam keadaan awal, Na-bentonit berkemampuan tinggi untuk menyerap warna dan dapat ditingkatkan lagi dengan melalui proses pengolahan dan pemanasan.

Bentonit dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan kandungan alu-munium silikat hydrous, yaitu activated clay dan fuller’s Earth. Activated clay adalah lempung yang kurang memiliki daya pemucat, tetapi daya pemucatnya dapat ditingkatkan melalui pengolahan tertentu. Sementara itu, fuller’s earth digunakan di dalam fulling atau pembersih bahan wool dari lemak. Berdasarkan tipenya, bentonit dibagi menjadi dua, yaitu :

a.    Tipe Wyoming (Na-bentonit – Swelling bentonite)

Na bentonit memiliki daya mengembang hingga delapan kali apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air. Dalam keadaan kering berwarna putih atau cream, pada keadaan basah dan terkena sinar matahari akan berwarna mengkilap. Perbandingan soda dan kapur tinggi, suspensi koloidal mempunyai pH: 8,5-9,8, tidak dapat diaktifkan, posisi pertukaran diduduki oleh ion-ion sodium (Na+).

Penggunaan yang utama adalah untuk  lumpur (bor) pembilas dalam kegiatan pemboran, pembuatan pellet biji besi, penyumbat kebocoran bendungan/kolam.

b.   Mg, Ca-bentonit - non swelling bentonite)

Tipe bentonit ini kurang mengembang apabila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi di dalam air, tetapi secara alami atau setelah diaktifkan mempunyai sifat menghisap yang baik. Perbandingan kandungan Na dan Ca rendah, suspensi koloidal memiliki  pH: 4-7. Posisi pertukaran ion lebih banyak diduduki oleh ion-ion kalsium dan magnesium. Dalam keadaan kering bersifat rapid slaking, berwarna abu-abu, biru, kuning, merah dan coklat. Penggunaan bentonit dalam proses pemurnian minyak goreng perlu aktivasi terlebih dahulu.

Potensi dan Cadangan

Endapan bentonit Indonesia tersebar di P. Jawa, P. Sumatera, sebagian P. Kalimantan dan P. Sulawesi, dengan cadangan diperkirakan lebih dari 380 juta ton, serta pada umumnya terdiri dari jenis kalsium (Ca-bentonit) .

Beberapa lokasi yang sudah dan sedang dieksploitasi, yaitu di Tasik-malaya, Leuwiliang, Nanggulan, dan lain-lain. Indikasi endapan Na-bentonit terdapat di Pangkalan Brandan; Soro-langun-Bangko; Boyolali (Lampiran).

Pertambangan

Eksplorasi

Pekerjaan yang dilakukan dalam eksplorasi pendahuluan atau detail antara lain pemetaan dan pembuatan sumur uji atau pemboran. Pada eksplorasi detail pembuatan peta dilakukan dalam skala lebih kecil (1: 1.000), dan jarak titik sumur uji atau pemboran lebih dekat.

a.    Pemetaan

Pemetaan dilakukan untuk membuat peta topografi dan situasi daerah dalam menunjang kegiatan eksplorasi, evaluasi endapan, dan perencanaan penambangan.

Pengukuran dilakukan dengan alat ukur theodolith pada area yang diinginkan dengan titik ikat ukur yaitu titik triangulasi. Dilakukan juga penen-tuan dan pengukuran lokasi titik bor atau sumur uji dengan interval 25-100 meter.

Dari hasil pengukuran, lalu dibuat peta topografi  dan  situasi   dengan   skala diinginkan yang menggambarkan letak titik sumur uji atau titik bor, tempat penggalian endapan, penyebaran endapan, jalan, dan lain-lain.

b.   Pembuatan sumur uji, atau pemboran

Pembuatan sumur uji atau pemboran (dengan bor tangan atau bor mesin) adalah untuk mengetahui sebaran endapan secara lateral dan vertikal, tebal endapan, tebal lapisan tanah penutup, struktur batuan, dan data lain melalui pengambilan conto, pengukuran stratigrafi endapan, serta hasil analisis contoh tersebut di laboratorium.

Dari hasil pemeriksaan uji conto di laboratorium dapat diketahui kualitas dan kuantitas endapan bentonit, penyebaran serta ketebalan tanah penutupnya. Lalu, data tersebut dievaluasi, sehingga dapat ditentukan nilai keekonomiannya.

Penambangan

Kebanyakan endapan bentonit terdapat dekat dengan permukaan tanah atau ada yang sudah tersingkap akibat proses pelapukan, oleh karena itu penambangan dilakukan dengan cara penambangan terbuka sistim jenjang (Gambar 1).

Lapisan tanah atas dikupas dan dipindah ke suatu tempat penimbunan, yang akan digunakan untuk menimbun daerah endapan bila selesai ditam-bang, sehingga bekas penambangan dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Peralatan yang digunakan dalam proses penggalian dan pengupasan tanah penutup, antara lain: power scraper, dragline scraper, dragline excavator, dan power shovel.

4.3 Pengolahan

Hasil penggalian endapan bentonit dari tambang berupa bongkah-bongkah, (raw material) diangkut dengan truk ke pabrik untuk diolah melalui beberapa tahapan proses, yaitu penghancuran, pemanasan, penggilingan dan pengayakan (Gambar 2).

a.     Pengembangan  bentonit

Bentonit mempunyai sifat menyerap sebab ukuran partikel koloidnya  amat kecil dan memiliki kapasitas permukaan ion yang tinggi.

Pengembangan bentonit disebabkan oleh adanya penggantian isomorphous pada lapisan oktohedral (Mg oleh Al) dalam menghadapi kelebihan muatan di ujung kisi-kisinya. Adanya gaya elektrostatis yang mengikat kristal pada jarak 4,5o dari permukaan cukup kuat untuk mempertahanan ion di per-mukaan unit-unitnya, dan tetap men-jaga unit itu tidak saling merapat.

Bila dicampur air akan mengembang, maka jarak antara unit makin melebar dan lapisannya membentuk serpihan, serta memiliki permukaan luas jika dalam zat pengsuspensi.

b. aktivasi bentonit

Aktivasi bentonit  bertujuan untuk me-naikkan daya adsorpsi dan memperoleh sifat bentonit yang diinginkan.

Montmorillonit memiliki struktur ber-tingkat dan kapasitas pertukaran ion yang aktif di bagian dasar.  Oleh karena itu, strukturnya dapat diganti seperti struktur bagian dasar, yaitu dengan penambahan asam agar terjadi penggantian ion-ion K+, Na+ dan Ca+2 dengan H+ dalam ruang interlamelar, dan akan melepaskan ion-ion Al+3, Fe+3 dan Mg+2 dari kisi strukturnya sehingga lempung lebih aktif.

Aktivasi bentonit sangat dipengaruhi oleh konsentrasi asam. Biasanya dipakai asam sulfat.  Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sifat dasar, distribusi ukuran pori, keasaman, dan nilai SiO2 atau Al2O3 dari endapan bentonit. Faktor-faktor tersebut tergantung juga pada komposisi mineral lempung bentonit dan cara aktivasi.

Beberapa hasil aktivasi dapat diterangkan seperti di bawah ini.

1) Aktivasi dengan pemanasan

Pada proses penjernihan minyak sawit dengan bentonit sebagai absorben memperlihatkan bahwa bentonit mulai aktif menyerap warna pada suhu 80o – 130 oC. Tingkat kejernihan tidak begitu besar setelah suhu mencapai 140-150 oC, bahkan cenderung menurun. Pada proses pemucatan minyak kedele penghilangan warna minimum pada suhu sekitar 100o C.

2) Pengaruh waktu

Pengontrolan minyak dengan tanah pemucat sangat dipengaruhi oleh waktu. Pada kondisi suhu, tekanan, dan jumlah tanah pemucat yang sama menunjukkan bahwa hasil penghilangan warna maksimum pada temperatur tertentu, dan cenderung menurun bila kontak diperpanjang. Penurunan pemucatan karena daya serap lempung akan habis.

3) Pengaruh tekanan

Proses penghilangan warna dari bahan pemucat dipengaruhi juga oleh luas permukaan tanah pemucat yang dikontakkan dengan minyak. Dengan menurunkan tekanan pori-pori tanah pemucat sampai tekanan atmospir, bentonit akan terdeareasi, sehingga luas permukaan akan lebih besar. Tekanan yang umum dilakukan di industri-industri adalah 5,077 mm Hg.

c. Aktivasi bentonit untuk lumpur bor

Aktivasi bentonit untuk lumpur bor adalah proses merubah Ca-bentonit menjadi Na-bentonit dengan cara penambahan senyawa alkali, yaitu sodium karbonat (NaCO3) dan sodium hidroksida (NaOH). Dengan aktivasi ini diharapkan terjadi perubahan sifat hidrasi, dispersi, reologi, swelling, dan sifat lainnya dari bentonit, sehingga dapat digunakan untuk lumpur bor.

Agar reaksi lebih sempurna perlu diperhatikan aspek waktu kontak, penekanan dan aspek lainnya.

Aktivasi dan proses mengubah Ca-bentonit menjadi Na-bentonit telah banyak dilakukan, sebagai contoh dapat dilihat pada [2] dan [5].

PENGGUNAAN DAN PESIFIKASI

Ada dua jenis bentonit yang dipakai dalam industri, yaitu Sodium (Na) bentonit dan Ca-bentonit. Na-bentonit dimanfaatkan sebagai bahan perekat, pengisi (filler), lumpur bor, sesuai sifatnya mampu membentuk suspensi kental setelah bercampur dengan air. Sedangkan Ca-bentonit banyak dipakai sebagai bahan penyerap.

Untuk lumpur pemboran, bentonit bersaing dengan jenis lempung lain, yaitu atapulgit, sepiolit dan lempung lain yang telah diaktifkan.

Dengan penambahan zat kimia pada kondisi tertentu, Ca-bentonit dapat dimanfaatkan sebagai bahan lumpur bor setelah melalui pertukaran ion, sehingga terjadi perubahan menjadi Na-bentonit dan diharapkan terjadi peningkatan sifat reologi dari suspensi mineral tersebut Agar mencapai persyaratan sebagai bahan lumpur sesuai dengan spesifikasi standar, perlu ada penambahan polimer. Hal itu dapat dilakukan melalui aktivasi bentonit untuk bahan lumpur bor.

Sifat bentonit yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pemanfaatannya adalah :

  • Komposisi dan jenis mineral yang dikandung dalam bentonit, antara lain monmorillonit, kaolinit, illit, kwarsa, plagioklas, kristobalit, dan lainnya.
  • Komposisi kimia, yaitu unsur-unsur kimia yang terkandung antara lain, SiO2, Al2O3, CaO, MgO, Na2O, Fe2O3 H2O dll.
  • Sifat teknologi.
  • Sifat pertukaran ion; sifat ini antara lain, sifat pemucatan, adhesi, sifat penyerapan dan sifat lainnya.

Penggunaan

Na-bentonit (sodium bentonit)

1) Sebagai lumpur bor

Fungsi utama Na-bentonit sebagai lumpur bor adalah :

  • menaikkan daya suspensi air pembilas;
  • pendingin dan pelumas mata bor;
  • menahan kotoran bor tidak mengendap walaupun kegiatan pemboran sedang dihentikan;
  • sebagai penahan stang/tali bor yang makin berat dengan bertambahnya kedalaman atau panjang stang bor yang digunakan;
  • menahan tekanan air, gas atau minyak yang keluar dari batuan yang ditembus dan mencegah peresapan kembali, serta penguat lapisan atau penahan pada dinding lubang bor dan mencegah terkadinya urug.

Bentonit untuk  pemboran minyak dan gas bumi harus memiliki sifat mengembang sesuai standar API yang biasa disebut RP 29, RP 13B, atau dari OCMA.

2) Pengecoran Logam

Bentonit yang dipakai pada industri pengecoran logam besi atau bukan besi adalah bentonit alam dan sintetis yang berfungsi sebagai bahan pengikat dalam alat cetak.

Dalam dunia perdagangan, bentonit alam disebut juga bentonit Wyoming, sedangkan bentonit sintetis disebut brekbond 2 (Inggris) dan berkonit (Italia). Sifat daya tahan terhadap panas dari kedua jenis bentonit tersebut tidak sebaik lempung tahan api yang berupa butiran seperti kuarsa, zircon, kromit dan lain-lain.

Jumlah bentonit yang dipakai untuk pengecoran logam antara 4 – 6 % dari berat alat cetak. Pengecoran pada suhu dan tekanan tinggi diperlukan pengikatan yang lebih sempurna dengan pemakaian bentonit antara 8 – 10 % dari jumlah berat alat cetak. Apabila alat cetak mengalami keausan atau rusak, pembaharuan cukup dengan menambahkan bentonit 0,1 – 1 % dari jumlah berat alat cetak.

Persyaratan bentonit untuk pembuatan alat cetak pengecoran logam (besi baja) biasanya mengacu kepada syarat standar Steel Founder’s Society of America (SFSA). Syarat tersebut didasarkan pada kandungan uap air, konsentrasi CaO, derajat pH dan batas cair. Nilai batas cair bagi lempung bentonit atau jenis lempung lain harus lebih besar dari 600o C.

3) Pembutan pelet konsentrat besi dan logam Lain

Pemanfaatan bentonit dalam proses pembuatan pelet konsentrat bijih besi dianggap cukup mahal. Selain itu, apabila dipakai campuran bentonit sekitar 1 % dapat terjadi kontaminasi, kadar besi  turun 0,6 % dan silika naik  0,5 %. Untuk itu, perlu ditambahkan batu gamping dan kokas. Batu gamping (kapur tohor=CaO) atau kapur padam (Ca(OH)2) berfungsi menurunkan suhu pembakaran dan mencegah terjadinya retak-retak, sementara kokas berfungsi untuk mengikat kelebihan silikat dan terbentuknya silikon karbid yang dapat digunakan sebagai bahan penggosok, pemoles atau ampelas.

4) Teknik sipil

Pemakaian bentonit dalam teknik sipil masih terbatas pada pembangunan konstruksi beton, seperti jembatan, bendungan dan bangunan yang berhubungan langsung dengan air tanah dan air laut. Sifat bentonit yang dimanfaatkan adalah sifat tiksotropinya.

Tujuan pemakaian Na-bentonit adalah untuk menunjang kekuatan dinding diafragma dan tembok/fondasi yang masuk ke dalam tanah. Selain sebagai penyelubung, juga berfungsi sebagai penahan atau pengisi lubang, celah dan pori-pori batuan atau formasi di sekitar dinding atau tembok/fondasi. Bentonit yang digunakan 3 – 10 %.

5) Bahan pencuci atau pemutih

Pemakaian Na-bentonit sebagai bahan pemutih dan pencuci termasuk mahal, tetapi memberikan hasil yang baik dan banyak dilakukan. Atas pertimbangan biaya, fungsi bentonit banyak digantikan oleh lempung asam aktif atau fuller’s earth.

6) Penggunaan lainnya

Penggunaan Na-bentonit di bidang pertanian dan peternakan (sebagai katalis), pembuatan cat dan lain-lain dipandang sangat mahal. Sebagai subtitusi Na-bentonit dipakai lempung asam, fuller’s earth, pirofilit, atau talk yang lebih mudah diperoleh dan dari sisi harga lebih murah. Walaupun demikian, penggunaan bentonit untuk tujuan tersebut masih dilakukan oleh industri atau pengusaha tertentu.

Dalam industri pakan ternak (terutama unggas) bentonit berfungsi sebagai pengikat dengan pembuatan sama seperti pembuatan pelet konsentrat bijih besi dan ogam lain), yaitu 1-2 % dari berat pakan yang diolah.

Ca-bentonit (kalsium bentonit)

Berbeda dengan Na-bentonit, Ca-ben-tonit tidak memiliki sifat mengembang yang baik sebab tidak adanya ion Na+ di dalam kesatuan sel pada kisi kristal montmorilonit (Tabel 1).

Pemakaian Ca-bentonit pada dasarnya sama dengan pemakaian lempung yang tergolong fuller’s earth, antara lain untuk lumpur pemboran, pencuci dan pembersih minyak bakar, minyak goreng, industri obat-obatan, kimia, kertas, keramik dan lainnya. Tetapi pemanfaatan yang utama adalah untuk pembuatan sodium bentonit sintetis, dan  bahan baku pembuatan lempung aktif.

Pemakaian Ca-bentonit untuk bahan pembuatan sodium bentonit lebih banyak keuntungan daripada jenis lempung lain, kecuali lempung asam, terutama saat penggerusan, penyaringan dan pengeringan. Ca-bentonit  memiliki sifat pertukaran ion yang baik dan menghasilkan produk sampingan yang berharga, yaitu bahan pemutih sintetis precipitated calcium carbonate (PCC).

Biasanya, bahan yang digunakan mempunyai kelembaban sekitar 33 % dan ukuran butir 5 cm. Bahan lalu dikeringkan hingga kelembaban antara 3-10 %, selanjutnya digerus dengan ukuran butir mencapai 90 – 100 mesh.

Selain yang diterangkan di atas terdapat lempung sejenis yang pemanfaatannya sama atau hampir sama dengan Bentonit, yaitu atapulgit, sepiolit, dan lempung asam.

Spesifikasi Produk

Di Industri Hilir

Di indonesia, sebagian besar penggunaan Ca-bentonit adalah di industri penjernihan minyak kelapa sawit. Untuk menghasilkan minyak kelapa sawit bermutu tinggi diperlukan Ca-bentonit dengan persyaratan tertentu, terutama bleaching power.

Beberapa peryaratan dan spesifikasi bentonit yang perlu diperhatikan dalam pengunaannya di berbagai jenis industri pemakai, antara lain adalah:

a)    Special Foundry Sand; Kuat tekan, kuat tarik dan deformasi.

b)   Special Iron ore Pellet Test; Green drop; hijau, kering dan kuat padat pembakaran (fired compress strengths), deformation; dan tumble determination).

c)    Perdagangan Katalis dan Pemurnian Minyak; Spesifikasi material murni dengan kadar besi dan metal berat rendah. Tes diambil dari BSCRA specification dengan persyaratan sebagai berikut :

  • Moisture content (6-12 %);
  • Green compressive strength;
  • Dry compressive strength;
  • Batas cair (sekitar 600oC);
    • Life test;
    • Komposisi kimia (CaO maks. 0,7 %); pH – 8,2;
      • Kuat panas.

d)    Farmasi dan Kosmetik; Di bidang ini, uji bentonit dibuat terhadap sifat-sifat sebagai berikut : rupa (wujud), bentuk, brightness, residu pada 200 mesh (%), pH (dispersi 2 %), swelling (1/2 gram dalam 10 ml air, setelah 2 jam), Batas cair, formasi gel (dengan MgO setelah 24 jam), cps viscosity (1%, 3% dan 5 % dispersi).

e)    Deproteinizing Wine, (oil, fluids); Untuk Deproteinizing wine, uji bentonit dibuat untuk mengetahui sifat-sifat sebagai berikut: Deproteinizing power, soluble sodium, soluble lead, soluble phosphate. Harus stabil pada panas 500o-600o C, porositas 60-70 %, area permukaan sekitar 120-140 mm/g, pH hampir netral, rasa/bau kecil.

f)     Fuller’s Earth; Fuller’s earth tidak diaktifkan secara komersial dan tidak berbaur terhadap aktivasi dengan asam. Sedangkan atapul-git dan monmorillonite di alam kebanyakan memiliki kemampuan menjernihkan minyak. Selain itu, mempunyai spesifikasi sebagai berikut :

  • Rapatan muatan : 0,45-0,75 g/ml;
    • True density : 2,4 – 2,6 g/ml;
    • pH : 6,5 – 7,5;
    • porositas : 60 – 70 %;
    • area permukaan : 120-140 mm/g;
    • pori-pori berdiameter rata-rata 170 – 200 A;
    • organic diserap 12-15 % bobot clay (clay akan menyerap 30-50% bobot cair organik tanpa kehilangan sifat dan daya mengalir secara bebas).

 

Spesifikasi di Pasaran

Untuk mendapatkan bahan penyerap yang bermutu baik, dapat dilihat sebagai berikut :

perbandingan SiO2 dan Al2O3 lebih tinggi dari kaolinit, yaitu 4/1 -6/1;

  • keasaman yang relatif lebih tinggi dalam air, diperlukan 10 – 150 cc, 0,1 N larutan NaOH untuk menetralisasi 100 gram bahan penyerap dengan indikator phenolphtalin;
  • Densitas yang rendah; 0,65 – 0,80 gram/cc;
  • Kandungan mineral pengotor sedikit, seperti kuarsa, garam-garam terlarut, kalsit dan oksida besi.

Proses penyerapan dikenal ada dua macam, yaitu :

1)    Cara kontak dilakukan dengan cara memanaskan dan mengaduk campuran minyak dan bahan penyerap kemudian diteruskan dengan penyaringan;

2)    Cara perkolasi, yaitu dengan melewatkan minyak yang dicuci pada butir-butir kasar bahan penyerap.

Proses  penjernihan  minyak sawit   dan kelapa dengan operasi  adalah sebagai berikut  (Gambar 3):

  • Bentonit dijemur sampai kering di udara atau dalam oven (70oC);
  • Digiling dan disaring sehingga diperoleh tiga fraksi dengan ukuran 150-100#, 200-150# dan 200#;
  • Masukkan minyak goreng dalam gelas beaker dengan ukuran tertentu sebanyak 500 cc;
  • Menghilangkan residu minyak terlebih dahulu disaring dan bila minyak mengental, penyaringan sambil dipanaskan 50oC.

Persyaratan standar bentonit untuk lumpur bor harus memenuhi standar spesifikasi dari American Petroleum Institute (API) dan Oil Companies Materials Association (OCMA).

 

Spesifikasi dari API

a)    Analisis ayak secara basah : 200 mesh maksimum 4 %;

b)   Kandungan air (sewaktu pengiriman) maksimum 10 %;

c)    Pada contoh basah 22,5 gr bentonit dalam 350 ml air murni :

  • Pembacaan Fann VG Viscometer pada 600 rpm, 30 menit;
  • Yield point minimum tiga kali viscositas plastis;
  • Air tapisan pada 100 psi, suhu 2530 oC & waktu 30 menit maks. 13,5 ml;
  • Air tapisan pada 100 psi, suhu 2530 oC & waktu 30 menit maks. 13,5 ml;
  • Viscositas semu min. 15 cp;
  • Viscositas plastis, min. 8,0 cp;

d)    Hasil pencampuran minimum 94,02 bbl/short ton;

e)    Hasil pencampuran minimum 94,02 bbl/short ton;

f)     Analisis ayak secara kering: + 200 mesh;

g)    Pengembangan 10-12 kali volume kering;

h)    Tidak mengandung bahan-bahan magnetik dan radioaktif.

Spesifikasi dari OCMA adalah:

  • Satu short ton bentonit menghasilkan lumpur dengan viscositas 15 cp dan volume minimum 16 m3;
  • Adukan 7,5 gr bentonit dalam 100 ml air murni tidak boleh memberikan air tapisan < 15 ml.

 

3.3.3  Sifat-sifat Bentonit Komersial

Type bentonit yang diperdagangkan mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia tertentu. Untuk type bentonit swelling dapat dilihat pada Tabel 2.

Spesifikasi bentonit dari industri hilir di Indonesia tidak diperoleh data yang lengkap. Pemakai yang disurvei hanya memberi spesifikasi yang umum.

Berikut spesifikasi bentonit yang dipergunakan atau dikonsumsi oleh industri hilir, seperti industri minyak sawit, logam, kosmetika, dan sabun.

Spesifikasi bentonit di industri sabun (PT. Agrocorb Indonesia) adalah :

Fuller’s earth; Kandungan air :  max  1 %; Ukuran butir (lolos saringan – 325  mesh) : min 90 %.

Industri Barang dari Semen (PT Wijaya Karya) adalah sebagai berikut:
  • berukuran 200-300 mesh;
  • Zn murni : 98-99 %;
  • Kandungan Pb : maks 1 %.

PERKEMBANGAN DAN PROSPEK

Perkembangan Pemasokan dan Permintaan Bentonit Indonesia

Sampai saat ini, produsen Na-bentonit bukan sebagai produsen tambang tetapi hanya sebagai pemasok saja, walaupun ada, jumlah dan kontinuitas produksi dapat dikatakan tidak pasti, sehingga pertumbuhan tahunannya sulit untuk dievaluasi. Kebutuhan Na-bentonit di dalam negeri dipakai dalam kegiatan pemboran menengah dan pemboran dalam.

Sebaliknya, produsen dan produksi Ca-bentonit berkembang cukup pesat. Produsen Ca-bentonit sebagian besar berada di kota besar di P. Jawa, sesuai dengan keberadaan industri pemakai utama bentonit.

Produksi mineral bentonit dalam kurun 1981-1999 secara umum meningkat, dengan laju perubahan tahunan sebesar 22,92 %. Produksi tahun 1981 tercatat sebesar 4.173 ton dan terus meningkat sampai dengan tahun 1996 sebesar 99.208 ton. Pada tahun 1998 produksi mineral bentonit menurun menjadi 83.372 ton dan tahun 1999 naik menjadi 90.435 ton (Tabel 5).

Kenaikan produksi ini tidak terlepas dari konsumsi bentonit di industri pemakai yang terus bertambah dengan laju per-tumbuhan tahunan sebesar 13,79 %, terutama Industri minyak sawit.

Pemakaian bentonit oleh beberapa industri pemakai dengan alasan lebih ekonomis dan kualitas produk akhir. Pemakaian bentonit impor oleh industri minyak sawit lebih ditekankan kepada kemampuan bleaching yang tinggi (> 65 %), karena kemampuan bleaching bentonit domestik dinilai masih sangat rendah (27 – 38 %), sehingga perlu aktivasi terlebih dahulu.

Menjadi masalah krusial dengan pemakaian mineral asal domestik,  karena mutu bahan galian dianggap kurang dapat diandalkan untuk menghasilkan produk-produk dengan kualitas cukup dan baik. Adanya Impor bentonit diperkirakan sebagian besar berupa Na-bentonit yang digunakan dalam kegiatan eksplorasi minyak bumi. Dari Tabel 6., dapat dilihat asal impor bentonit tahun terakhir 1999.

Dalam dunia perdagangan, Ca-ben-tonit juga dikenal dengan nama lain, seperti NKH, Tonsil, Galleon, dan lain-lain.

Pemakai utama Ca-bentonit adalah industri minyak sawit dan minyak kelapa, kemudian diikuti oleh industri margarine, logam untuk bangunan, dan industri mesin cor). Pada tahun 1999, industri minyak sawit mengkonsumsi bentonit,  yaitu  sekitar 70 % (68.910,6 ton), kemudian industri minyak kelapa sekitar 16 % (15.751,1 ton) dan sisanya sebesar 14% (13.782,2 ton) dikonsumsi oleh industri margarine, pengecoran logam, mesin, sabun, kosmetika dan cat.

Ekspor bentonit diperkirakan dari jenis Ca-bentonit. Ekspor bentonit dalam tahun pengamatan walaupun berfluk-tuasi, namun cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan tahunan sebesar 14,67 % untuk volume dan 12,66 % untuk nilainya. Ekspor pada tahun 1999 sebagian besar ditujukan ke Singapura sekitar 89.00 % dan sisanya ke Malaysia dan Taiwan. Ekspor bentonit sebagian besar diperkirakan masih belum diaktivasi  (Tabel 5).

Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) dalam kurun pengamatan hanya naik sekitar 4,86 % per tahun, padahal sampai Juli 1997, perkembangan kenaikan ekonomi nasional cukup menakjubkan. Namun, sejak itu, ditandai dengan nilai rupiah yang merosot, tahun 1998 (PDB) turun 13,2 % dan hanya naik 0,19 % pada tahun 1999 (Tabel 5).

Dari sisi industri pemakai Ca-bentonit industri minyak goreng adalah sebagai pemakai utama untuk pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Untuk dapat dijadikan minyak goreng dilakukan proses penjernihan dengan bentonit, kemudian dilakukan proses deodorizing.

Produksi minyak goreng sawit dalam kurun pengamatan meningkat cukup berarti dengan laju tahunan sebesar 17,51 %. Tahun 1999 produksi minyak goreng telah mencapai 2,4 juta. Kenaikan produksi tersebut didorong oleh pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang otomatis menambah pemakaian bentonit dari jenis kalsium (Tabel 6).

Beberapa industri pemakai bentonit lain yang cukup banyak adalah minyak goreng kelapa dan Industri margarine dengan laju pertumbuhan sebesar 8,22 % dan 25,3 % masing-masing.

Kebutuhan bentonit dalam setiap jenis industri minyak goreng berlainan. Untuk minyak goreng kelapa rata-rata dibutuhkan sekitar 2 persen dari hasil akhir, atau untuk setiap per ton minyak goreng kelapa perlu 20 kg Ca bentonit. Sementara minyak goreng kelapa sawit dibutuhkan lebih tinggi lagi yaitu 4 % atau untuk setiap per ton minyak goreng kelapa sawit dibutuhkan 40 kg kalsium bentonit. Untuk industri margarine, kebutuhan Ca-bentonit prosentasenya lebih tinggi lagi, yaitu berkisar antara 4 – 5 % dari produk akhir atau untuk setiap ton perlu 40 – 50 kg kalsium bentonit.

5.2 Peluang Pengusahaan Mineral Bentonit

Meskipun masih ada hambatan dalam pengolahan bentonit di Indonesia, tetapi peluang pengusahaan mineral bentonit masih tetap terbuka terutama dilihat dari potensi endapan yang cukup besar atau dari sisi kapasitas produksi di industri hilir atau untuk ekspor.

Endapan bentonit Indonesia saat ini masih cukup tinggi (380 juta ton) dan mempunyai prospek yang bagus baik domestik maupun ekspor, karena jenis endapan yang dimiliki kebanyakan dari jenis bleaching clay (untuk penjernihan minyak kelapa sawit

Namun demikian, semua itu harus diikuti dengan penganekaragaman karena jelas nilai tambah yang diperoleh hanya sedikit. Apalagi, adanya keinginan dari pihak industri yang menginginlan bentonit yang instant tanpa harus memikirkan teknik pengolahan aktivasi. Jadi, dalam hal ini kualitas bahan mineral masih tetap menjadi pilihan utama, terutama untuk produk minyak goreng yang bermutu, terutama bagi golongan menengah ke atas. Untuk itu, pendirian pabrik pengolahan bentonit rasanya perlu segera dilaksanakan.

Sementara itu, proyeksi dari Departe-men Perindustrian dan Perdagangan 1992, bahwa kapasitas pabrik pengolahan di Indonesia pada industri kimia dasar pada akhir pelita VI adalah sebesar dari 308.940 ton. Proyeksi tersebut didasarkan bahwa tahun 2000 proyeksi produksi minyak sawit indonesia akan mencapai 7,9 juta ton, bahkan merencanakan sebagai produsen minyak sawit nomor satu di dunia pada tahun 2010 dengan jumlah produksi minyak sawit sebesar 12,3 juta ton.

Dari jumlah produksi minyak sawit tersebut apabila per satuan ton perlu 25-40 kg bentonit diperkirakan lebih dari 300.000 ton per tahun. Namun, sampai tahun proyeksi tersebut belum terpenuhi bahkan tidak sampai dengan 50 % dari kapasitas direncanakan. Bahkan produksi minyak sawit Indonesia hanya mencapai sekitar 2,7 juta ton pada tahun.

Masih tersisanya kapasitas yang ada merupakan kendala karena daya produksi bentonit dalam negeri pada 1999 masih jauh dari proyeksi. Padahal, pada saat itu, selain untuk keperluan domestik, Indonesia merencanakan ekspor bentonit seperti ke Malaysia yang pada tahun 1993 sekurangnya 100.000 ton, karena Negara tersebut telah membutuhkan hampir 200 ribu ton per tahun untuk pengolahan minyak sawit sebesar sekitar 6 juta ton [1]. Jadi, untuk memenuhi konsumsi di industri kimia dasar perlu meningkatkan produksi lebih dari 200%.

Saat ini, prospek kebutuhan bentonit hanya terfokus kepada jumlah penduduk Indonesia sebagai konsumen. Oleh karena itu, apabila pendirian pabrik pengolahan masih berupa angan-angan, prospek pengembangan usaha bentonit ke depan diperkirakan hanya tergantung kepada jumlah penduduk, atau peningkatan daya beli yang cukup untuk membeli produk berkualitas.

Cukup besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan potensi pasar bentonit tersendiri di dalam negeri, dimana pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 203,4 juta orang. Sebagai contoh adalah kebutuhan minyak goreng yang semakin besar akibat jumlah penduduk yang makin bertambah, di lain pihak sampai saat ini minyak goreng berkualitas utama masih terbatas dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan. Sebaliknya masyarakat pedesaan, yang berjumlah cukup besar dan dalam kehidupan sehari-hari secara umum masih memakai minyak goreng dengan kualitas rendah dan sering menimbulkan masalah terhadap cita rasa makanan, bahkan kadang berakibat makanan jadi tidak sehat.

Kebutuhan minyak goreng dengan kualitas baik di masa mendatang diperkirakan akan terus meningkat sejalan pertambahan penduduk dan apabila peningkatan pola hidup sehat masyarakat Indonesia. Untuk menghasilkan minyak goreng dengan kualitas baik, peranan bentonit dalam proses pengolahan minyak sangat penting. Dengan demikian kebutuhan bentonit akan terus bertambah.

Sampai dengan tahun 1999 Ca-bentonit yang diproduksi di dalam negeri masih mempunyai kemampuan bleaching yang kurang diminati, sehingga industri minyak banyak menggunakan bentonit impor. Akan tetapi perkembangan terakhir menunjukkan adanya peningkatan penggunaan Ca-bentonit domestik, yang berarti produsen di dalam negeri telah mampu meningkatkan kualitas Ca-bentonit sesuai dengan permintaan pasar, dan dapat bersaing dengan bentonit impor.

Proyeksi Departemen Perindustrian dan Perdagangan 1992, bahwa kapasitas pabrik pengolahan di Indonesia pada industri kimia dasar pada akhir pelita VI adalah sebesar dari 308.940 ton. Proyeksi tersebut belum terpenuhi bahkan tidak sampai dengan 50 % dari kapasitas direncanakan.

Apabila dikaitkan dengan ketersedian potensi endapan yang cukup besar, adanya peningkatan jumlah produksi minyak kelapa sawit, serta pasar kawasan Asia Pasifik, khususnya di ASEAN terutama (Malaysia, Thailand, dan Indonesia) peluang meningkatkan produksi bentonit akan dapat merangsang para produsen bentonit dalam pengembangan kapasitas pabriknya, atau pendirian produsen baru di Indonesia. Namun demikian, tentu saja harus diikuti dengan usaha peningkatan kualitas untuk dapat bersaing dengan ekspor dari negara lain.

Tanpa usaha itu tidak berarti. Peluang ekspor selama ini terlihat masih terbatas, karena perkembangan ekspor tahunan yang masih berfluktuasi. Namun apabila nilai tukar rupiah bartahan saja atau terus melemah, kemungkinan ekspor bentonit akan mengalami peningkatan walaupun relatif sedikit.  Apalagi impor bentonit yang selama kurun waktu pengamatan mengalami lonjakan.

Saat ini saja Indonesia masih impor bentonit baik jenis kalsium maupun natrium dari Amerika, Jepang, Australia dan bahkan ada yang berasal dari Malaysia, padahal negara disebut terakhir ini bukan penghasil bentonit, juga potansi endapan bentonit yang dimilinya sangat sedikit dibandingkan dengan Indonesia. 20- 48 % dari impor bentonit berupa Ca-bentonit yang penggunaannya sebagian besar di industri minyak goreng. Pemakaian bentonit impor pada industri tersebut lebih dikarenakan daya serap yang lebih diharapkan bisa mencapai lebih dari 4 kali dibandingkan dengan bentonit Indonesia.

Peluang di dalam negeri, lebih ditekankan kepada jumlah penduduk yang tinggi, dan kalau dihitung, konsumsi bentonit di Indonesia hanya sekitar 5 kg/kapita. Perhitungan ini memperlihatkan bahwa daya beli (tingkat kehidupan) di negara Indonesia belum memperlihatkan kemajuan yang berarti. Dengan kata lain konsumsi minyak goreng dengan kualitas terbaik hanya diminati oleh golongan menengah ke atas yang apabila dihitung dengan persentase hanya sekitar 5 % dari 220 juta penduduk Indonesia.

Berdasarkan teori, 1 ton minyak goreng memerlukan bentonit antara 25 – 40 Kg. Jadi, apabila dihitung, dengan produksi minyak goreng saat ini di atas 2,5 juta ton paling sedikit konsumsi bentonit di industri minyak goreng saja mencapai antara 70 – 100.000 ton/tahun.

http://achmadinblog.wordpress.com

 

 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2013 in Batuan, Geology

 

Tags: , , ,

Batu Marmer

PENDAHULUAN

Marmer umumnya tersusun oleh mineral kalsit dengan kandungan mineral minor lainya adalah kuarsa, mika, klhorit, tremolit, dan silikat lainnya seperti graphit, hematit, dan limonit. Nilai komersil marmer bergantung kepada warna dan tekstur.  Marmer yang berkualitas sangat tinggi adalah berwarna putih sangat jernih, sebab kandungan kalsitnya lebih besar dari 90 %. Marmer yang berwarna abu-abu dihasilkan dari kandungan grapit pada batuan tersebut, pink dan merah akibat adanya kandungan hematit,  kuning dan krem sebagai pengaruh dari kandungan limonit.  Marmerpun dicirikan pula oleh gores  arah jarus dan lapisan grapit atau silikat gelapnya. Berdasarkan besar butirnya, tekstur berkisar dari halus hingga kasar.  Sifat sifat lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas marmer adalah porositas, kekuatan regangan dan kekuatan terhadap cuaca.

Marmer merupakan bahan galian yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, bahkan cukup gencar pula muncul ke permukaan yang menimbulkan sensasi pencarian marmer yang dapat tembus cahaya dengan harga penawaran sangat menggiurkan, walaupun hanya sebatas orang-per orang dan diliputi misteri, hobi dan aspek mistik lainnya.

Sebagai bahan galian yang mempunyai nilai jual tinggi karena rona yang sangat indah, artistik, dan aspek kuat tekan dan geser yang tinggi menjadikan bahan galian ini mempunyai pangsa pasar yang  relatif tinggi hingga pada pasar menengah.

Penggunaan marmer biasanya untuk meja, tegel, hiasan dinding, pelengkapan rumah tangga sepeti guci, lampu hias dan lain sebagainya. Untuk tegel, dinding dan meja memerlukan diameter yang besar dan kualitas yang sangat baik dalam artian sedikit sekali adanya retakan dan kandungan minerl bijihnya, sehingga akan menimbulkan kesan dingin walaupun kenas sinar matahari sekalipun.

Sejak zaman dahulu kala marmer sudah memiliki pasar yang baik, sehingga perburuan ke lokasi-lokasi penghasil marmerpun cukup tinggi. Italia merupakan negara pengahsil marmer yang sangat terkenal di dunia, walaupun pada kenyataannya bahanbaku marmer itu sendiri bukan asli dari Italia tetapi dari negara-negara lainnya yang dimasukan terlebih dahulu ke Italia. Marmer dari luar tersebut diproses terlebih dahulu di Intalia yang kemudian dikemas sedmikian rupa dan dipasarkan dengan merek Italia.

Pasar marmer atau batu pualam yang sempat kandas saat krisis melanda kini mulai membaik. Meski dari kualitas pengolahan marmer lokal masih kalah dengan polesan produk impor, namun dari sisi penjualan marmer lokal lebih baik.

Produk lokal dengan impor memang tidak beda jauh seperti dari segi ornamen. Namun, harga marmer lokal lebih murah dibanding dengan yang impor. Oleh karena itu rata-rata konsumen menyukai produk lokal karena selain lebih murah ornamen yang disuguhkan juga hampir sama.  Jika belum cukup jeli, sulit untuk membedakan antara marmer lokal dan impor. Pada umumnya marmer lokal berwarna terang, sedangkan yang impor warnanya agak gelap, seperti warna coklat. Tetapi, tidak berarti seluruh marmer impor berwarna gelap. Karena marmer yang asal Cina juga memiliki warna yang hampir sama dengan marmer lokal, seperti warna krem.

Secara fisik akan nampak jelas dari aspek pori-porinya, dimana marmer impor memiliki pori-pori yang rapat sedangkan marmer lokal kurang rapat. untuk mengetahui pori-pori marmer tersebut rapat atau tidakcukup dengan menyiramkan air pada bagian atas marmer, dan jika meninggalkan bekas basah walau telah dilap dengan kain kering, berarti pori-pori marmer tersebut besar (Mega Sari, Kompas, 2002).

2.    GEOLOGI

2.1  Mula Jadi

Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.

Akibat rekristalisasi tersebut akan menghilangkan struktur asal batuan tersebut tetapi akan membentuk tekstur baru, keteraturan butir. Pembentuk mineral ini di Indonesia yang sudah ditemukan adalah sekitar 30 – 60 juta tahun yang lalu atau berumur Kwarter hingga Tersier.

2.2. Potensi:

Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan selalu ada batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer.  Karena keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di Indonesia penyebaran marmer tersebut cukup banyak, seperti dapat dilihat pada Tabel 2.1.

3.  PERTAMBANGAN

Untuk mengetahui besarnya cadangan suatu tubuh marmer maka biasanya dilakukan eksplorasi geofisika agar diketahui baik penyebaran horizontal maupun vertikal, kemudian dbuat sumur uji dan pemboran untuk mengetahui  ketebalan lapisan. Untuk mengetahui kualitas marmer di suatu lokasi maka diambil sampel yang diuji di laboratorium baik fisika maupun kimia, secara mikroskopis.

Sebelum keluar teknologi baru,  penambangan marmer dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:

  • Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah dengan menggunakan buldozer dan ekskavator menggali tanah yang menutupi tubuh batuan guna menyiapkan kegiatan penambangan
  • Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, pemahatan, dan seleksi tiap blok dan mengangkutnya ke lokasi pengolahan selanjutnya.

Biasanya pemboran dilakukan dengan mengebor vertikal sampai kedalaman 110 cm pada sisi pan jang dengan ukuran 260 cm dan sisi lebar (mendatar) sebesar 135 cm (Asril Riyanto, 1994). Sedangkan pemahatan mendatar dimaksudkan untuk melepas blok dengan ukuran standar 260 x 110 x 135 cm. Kegiatan tersebut dibantu dengan alat angkat/tarik, alat dorong serta alat angkut. Setelah muncul teknologi baru yaitu dengan menggunakan alat pengerat bermata diamond, maka segala kegiatan eksploitasi dilakukan di lokasi marmer tersebut berada. Untuk tahap awal dilakukan pemolaan diameter batu yang akan dibelah dan dipotong, selanjutnya dibor sampai kedalam tertentu lalu dilakukan pengeratan tersebut.

Pengolahan merupakan proses kegiatan memperhalus produk hingga menjadi produk yang siap dipasrkan. Adapaun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

Untuk yang masih menggunakan teknologi lama maka blok batu pualam berukuran ( 260 x 100 x 135 ) cm  digergaji menjadi lempengan-lempengan denganketebalan rata-rata 2 cm.

Lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai ukuran-ukuran standar pesanan

Barang setengah jadi tersebut kemudian digerinda dua tahap dan kemudian disempurnakan atau ditambal da dipoles pada lapisan-lapisan yang berlubang hingga akan dihasilkan marmer yang mengkilap.

4. KEGUNAAN

Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua penampilan yaitu tipe ordinario dan tipe staturio. Tipe ordinario biasanya digunakan untuk  pembuatan tempat mandi, meja-meja toilt, lanati, dinding dan sebagainya, sedangka tipe staturio sering dipakai untuk seni pahat dan patung (Asril, 1994).

5. PERKEMBANGAN DAN ROSPEK

Marmer pada saat ini masih merupakan barang  mewah, kecuali untuk  ukuran yang kecil-kecil sebagai souvenir. Marmer atau batu pualam yang mengkilap biasanya dijadikan salah satu ciri fisik kemewahan sebuah bangunan dan rumah. Kemewahan marmer belum ada yang menandingi karena kualitasnya yang baik dibandingkan produk lantai atau dinding dari bahan lain.

Dilihat dari sisi pembiayaan, membuat lantai dari marmer harus menyiapkan dana yang tidak sedikit. Hanya orang yang memiliki dana berlebih saja yang mampu membelinya, guna menghiasi gedung atau rumah mewah mereka.

Perkembangan yang sangat mencolok adalah dari segi penambangannya, karena saat ini telah lebih simple yaitu dengan menggunakan teknologi  mutakhir. Sedangkan prospek ke depan untuk marmer masih dalam pangsa pasar yang masih terbatas di kalangan menengah samapai kalangan atas, kecuali hanya untuk souvenir yang kecil – kecil saja masih dapat dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah.

Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang eksploitasi marmer adalah PT. Dwi Tunggal Marmer Indah, PT. Gramer, PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT. Gramaron

Beberapa lokasi tambang marmer sudah dieksploitasi, misalnya daerah Citatah di Jawa Barat oleh PT. Kurnia, PT. Bakri Prima Moramo telah  meeksploitasi tahap uji coba di Kecamatan Moramo Kendari, Kec, Wolo, Kecamatan Kasusua, dam Pulau Kbaena Buton dengan kapasitas produksi tambang  90 m3/bulan dan kapasitas pabrik = 1.500 m2/bulan.

PT Citatah Tbk (dikenal dengan PT Citatah Industri Marmer Tbk) bergerak dalam bidang penambangan dan prosesing marmer, yang beroperasi di Citatah dan Sukabumi (Jawa Barat) dan Maros dan Pangkep (Sulawesi Selatan).

Anak perusahaan PT Quarindah Ekamaju Marmer (QEM), yang diakuisisi pada bulan Januari 1996, yang mengelola pabrik Pangkep, sedangkan dua anak perusahaan penjual lainnya Quarindah Citatah (Malaysia) Sdn. Bhd di Kuala Lumpur dan UGM Citatah Inc., Amerika Serikat yang mengelola penjualan di pasar utama regional dan Amerika Serikat.

PT. Citatah telah melakukan eksploitasi di Pangkep Sulawesi Selatan dengan kapasitas terpasang pada tahun 2000 adalah 480.000 meter persegi, ubin 960.000 m2. Sedangkan di Bandung Jawa Barat produk lempengan sebesar 60.000 m2, dan ubin 300.000 m2, di Karawang, Jawa Barat sebanyak 396.000 m2 lempengan tiap tahun.

Pada tahun 1998 kapasitas pabrik di perusahaan mencapai 425,000 m2 termasuk 223,000 m2 lempengan dan 202,000 m2 ubin. Pabrik kedua dibangun di Pangkep untuk melengkapi enam pemotongan ubin pararel dan line penggosok, sedangkan pabrik yang asli disusun kembali kedalam dua line prosesing lempengan. Dengan kapasitas output 130,000 per bulan. Pangkep saat ini merupakan pusat produksi utama bagi perusahaan.

Perkembangan harga marmer di Indonesia, baik yang berasal dari lokasl maupun impor adal marmer lokal yang berasal dari Bandung, Tulung Agung, Bandar Lampung, dan Ujung Pandang, untuk tiap meter perseginya dijual dengan kisaran harga Rp 150.000 – Rp 250.000. Sementara produk impor, yang berasal dari Italia, Cina, India, dan Benua Afrika dijual dengan harga termurah Rp 400.000 per m2 dan tertinggi adalah di atas Rp 1 juta, tergantung pada motifnya serta kehalusan proses pemolesan akhir.

Untuk perbandingan harga marmer tersebut dapat dilhat seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Harga Daftar Marmer Per Meter Persegi

———————————————
Nama                             Harga
————————————————-
Lokal
Milano                             Rp 475.000
Mosaic Torano                 Rp 375.000
Mosaic Bologna                Rp 350.000
Catona                            Rp 150.000
Fucco                              Rp 150.000
Diamond Black                Rp 425.000
Misty Grey                      Rp 300.000
Moca Cream                    Rp 450.000
Empired Red                    Rp 600.000
Brecia Damascati             Rp 725.000

Impor
Verde Patricia (Italia)       Rp 450.000
Fantasi Pink (Cina)           Rp 350.000
Parket Antiquewood         Rp 2.000.000

(Italia)
————————————————-
Sumber: Pinangsia, Kompas Cyber Media, 2002

Produksi marmer tidak secara jelas  muncul, tetapi hanya beberap perusahaan saja yang sudah melakukan kegiatan eksploitasinya seperti telah dibahas di atas yaitu adalah PT. Dwi Tunggal Marmer Indah, PT. Gramer, PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT. Gramaron.

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa Impor marmer pada atahun 1997 berkisar 40 ribu ton yang menurun drastis sekitar 24 % menjadi hanya 9,6 ribu ton , begitupula pada tahun 199 hanya menjadi 3,2 ribu ton. Hal ini akibat kondisi perekonomian Indonesia sehingga sangat mempengaruhi tingkat konsumsi material impor karena dari segi harga tentunya sangat tinggi dengan perubahan nilai tukar rupiah terhdap dolar. Tetapi pada tahun 2000 hingga 2002 impor akan marmer kembali meningkat walaupun masih sekitar 50 % dari angka impor tahun 1997.

Kondisi demikian juga mempengaruhi pada tingkat konsumsi marmer tersebut, dan ada peningkatan pada tahun 1998, para konsumen beralaih sementara pada produk domestik tetapi pada tahun 1999 kembali turun hingga tahun 2002 hanya menjadi 14,3 ribu ton.

Ekspor bahan marmer tercatat di BPS sebagai ekspor barang tambang dan industri yakni pada tahun 200 ekspornya berupa kermamik dan marmer sekitar 596 ton , tetapi turun menjadi 561 ton dan 579 pad atahun 2001 dan 2002. Sedangkan ekspor berupa granit dan marmer adalah sebanyak 28,7 ton  pada tahun 2000 tetapi turun pada tahun 2001 walaupun pad atahun 2002 kembali naik menjadi 28,4 ton.

Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.

Perusahaan yang sudah bergerak dibidang marmer adalah PT. Dwi Tunggal Marmer Indah, PT. Gramer, PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT. Gramaron dan masih ada yang belum tercatat.

Impor marmer mengalami penu-runan drastis ejak tahun 1998 akibat dari krisis moneter di Indonesia, dan konsumen beralih ke produk domestik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Asril Riyanto, 1994, Batu Pualam (Marmer), Bahan Galian Industri) Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, B.30.94.
  2. Alamanda Gemilang, Alamanda Granit  & Marble, 1998, PT. Alamanda Gemilang, Jakarta, http://www.kompas.com/gayahidup/news/0204/29/22537.htm.
  3. Tushadi, 1990. Bahan Galian Industri Indonesia, Direktorat Sumberdaya Mineral, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung.
  4. Pinangsia, Gaya Hidup dan Hiburan, 2002, Kompas Cyber Media.
  5. Puslitbang Teknologi Mineral, Buletin Statistik Komoditi Mineral Indonesia  Nomor 28 tahun 2001, Bandung: Proyek Pengembangan Manajemen Sumber Daya.
  6. Badan Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Non Migas Utama Menurut Sektor, http://www. dperin.go.id/ind/ statistic/e_isic.asp
  7. http://achmadinblog.wordpress.com/tag/batuan/
 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2013 in Batuan, Geology

 

Tags: , , ,

Batuan

Berdasarkan cara pembentukannya batuan dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

1. BATUAN BEKU
batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang membeku. Macam-macamnya adalah :
a. Batu Apung

http://ceriteraku.wordpress.com/2007/09/26/batu-terapung/http://www.ency.tcv.pl/id/wiki/Batu_apung.html

batu apung terbentuk dari pendinginan magma yang mengandung gelembung gas. Ciri-ciri utama batu apung adalah warna ke abu-abuan berpori-pori, bergelembung, ringandan terapung di air.

b. Batu Kaca atau Obsidian

Obsidian

batu Obsidian terbentuk dari larva permukaan yang mendingin dengan cepat. Ciri- ciri utama batu ini adalah warna hitam seperti kaca tidak ada kristal.

c. Batu Basal

Batu Basal terbentuk dari pendinginan lava yang mengandung gelembung gas tetapi gasnya telah menguap. Ciri-ciri utama batu basal terdiri dari atas kristal-kristal yang sangat kecil, berwarna hijau ke abu-abuan dan berlubang-lubang.

d. Batu Granit

The image “http://wb3.itrademarket.com/pdimage/61/843661_granitestonegreen.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Batu granit terbentuk dari pendinginan magma yang terjadi dengan lambat dibawah permukaan bumi. Ciri-ciri utama batu granit yakni warna nya putih sampai abu-abu, kadang-kadang terdiri atas kristal-kristal kasar.

2. BATUAN ENDAPAN (SENDIMEN)
Batuan Sedimen adalah batuan beku atau metamorf yang mengalami proses litifikasi yaitu proses kompaksi dan sementasi. Jenis-jenis Batuan Sedimen antara lain yaitu:

1. BREKSI

Breksi memiliki butiran-butiran yang bersifat coarse yang terbentuk dari sementasi fragmen-fragmen yang bersifat kasar dengan ukuran 2 hingga 256 milimeter. Fragmen-fragmen ini bersifat runcing dan menyudut. Fragmen-fragmen dari Breksi biasanya merupakan fragmen yang terkumpul pada bagian dasar lereng yang mengalami sedimentasi, selain itu fragmen juga dapat berasal dari hasil longsoran yang mengalami litifikasi.
Komposisi dari breksi terdiri dari sejenis atau campuran dari rijang, kuarsa, granit, kuarsit, batu gamping, dan lain-lain.

2. KONGLOMERAT

Konglomerat hampir sama dengan breksi, yaitu memiliki ukuran butir 2-256 milimeter dan terdiri atas sejenis atau campuran rijang, kuarsa, granit, dan lain-lain, hanya saja fragmen yang menyusun batuan ini umumnya bulat atau agak membulat.
Pada konglomerat, terjadi proses transport pada material-material penyusunnya yang mengakibatkan fragmen-fragmennya memiliki bentuk yang membulat.

3. SANDSTONE

Sandstone atau batu pasir terbentuk dari sementasi dari butiran-butiran pasir yang terbawa oleh aliran sungai, angin, dan ombak dan akhirnya terakumulasi pada suatu tempat. Ukuran butiran dari batu pasir ini 1/16 hingga 2 milimeter. Komposisi batuannya bervariasi, tersusun terutama dari kuarsa, feldspar atau pecahan dari batuan, misalnya basalt, riolit, sabak, serta sedikit klorit dan bijih besi. Batu pasir umumnya digolongkan menjadi tiga kriteria, yaitu Quartz Sandstone, Arkose, dan Graywacke.

  • QUARTZ SANDSTONE

Quartz sandstone adalah batu pasir yang 90% butirannya tersusun dari kuarsa.Butiran kuarsa dalam batu pasir ini memiliki pemilahan yang baik dan ukuran butiran yang bulat karena terangkut hingga jarak yang jauh. Sebagian besar jenis batu pasir ini ditemukan pada pantai dan gumuk pasir.

  • ARKOSE

Arkose adalah batu pasir yang memiliki 25% atau lebih kandungan feldspar. Sedimen yang menjadi asal mula dari Arkose ini biasanya hanya mengalami sedikit perubahan secara kimia. Sebagian arkose juga memiliki sedikit butiran-butiran yang bersifat coarse karena jarak pengangkutan yang relatif pendek.

  • GRAYWACKE


Graywacke adalah salah satu tipe dari batu pasir yang 15% atau lebih komposisinya adalah matrix yang terbuat dari lempung, sehingga menghasilkan sortasi yang jelek dan batuan menjadi berwarna abu-abu gelap atau kehijauan.

4. SHALE
Shale adalah batuan sedimen yang memiliki tekstur yang halus dengan ukuran butir 1/16 hingga 1/256 milimeter. Komposisi mineralnya umumnya tersusun dari mineral-mineral lempung, kuarsa, opal, kalsedon, klorit, dan bijih besi. Shale dibedakan menjadi dua tipe batuan, yaitu batu lanau dan batu lempung atau serpih. Batu lanau memiliki butiran yang berukuran anara batu pasir dan batu serpih, sedangkan batu lempung memiliki chiri khas mudah membelah dan bila dipanasi menjadi plastis.

5. LIMESTONE

Limestone atau batu gamping adalah batuan sedimen yang memiliki komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO3). Teksturnya bervariasi antara rapat, afanitis, berbutir kasar, kristalin atau oolit. Batu gamping dapat terbentuk baik karena hasil dari proses organisme atau karena proses anorganik. Batu gamping dapat dibedakan menjadi batu gamping terumbu, calcilutite, dan calcarenite.

  • CALCARENITE


Calcarenite memiliki ukuran butir 1/16 hingga 2 milimeter, batuan ini terdiri dari 50% atau lebih material carbonate detritus, yaitu material yang tersusun terutama atas fosil dan oolit.

  • CALCILUTITE

Calcilutite terbentuk jika ukuran butiran dari calcarenite berubah menjadi lebih kecil hingga kurang dari 1/16 milimeter yang kemudiaan mengalami litifikasi.

  • GAMPING TERUMBU

Batu Gamping terumbu terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu pada perairan yang hangat dan dangkal

6. SALTSTONE

Saltstone terdiri dari mineral halite (NaCl) yang terbentuk karena adanya penguapan yang biasanya terjadi pada air laut. Tekstur dari batuan ini berbentuk kristalin.

7. GIPSUM

Gipsum tersusun atas mineral gipsum (CaSO4.H2O). Sama seperti dengan Saltstone, batuan ini terbentuk karena kandungan uap air yang ada menguap. Tekstur dari batuan ini juga berupa kristalin.

8. COAL

Coal atau batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari kompaksi material yang berasal dari tumbuhan, baik berupa akar, batang, maupun daun. Teksturnya amorf, berlapis, dan tebal. Komposisinya berupa humus dan karbon. Warna biasanya coklat kehitaman dan pecahannya bersifat prismatik.

Batu bara terbentuk pada rawa-rawa pada daerah beriklim tropis yang airnya mengandung sedikit oksigen. Bagian dari tumbuhan jatuh dan mengendap di dasar rawa semakin lama semakin bertambah dan terakumulasi. Material tersebut lama-kelamaan terkubur oleh material di atasnya sehingga tekanannya bertambah dan air keluar, dan kemudian mengalami kompaksi menjadi batu-bara.

3. BATUAN MALIHAN (METMORF)
Batuan malihan adalah batuan yang terjadi oleh peristiwa kimia dalam jangka waktu yang lama, tekanan yang sangat besar dan dalam suhu yang sangat tinggi. Batuan malihan bersal dari batuan beku dan batuan endapan yang berubah karena pengaruh suhu dan tekanan tinggi dalam kerak bumi.
macam-macam batuan malihan atau metamorf adalah :

a. Marmer atau batu Pualam

Marmer adalah batu gamping yang berbah karena tekanan dan suhu tinggi di dalam kerak bumi. Marmer atau batu pualam mempunyai permukaan yang mengkilap dengan garis-garis warna lembut melintang banyak digunakan batu hiasan karena indah dipandang.

b. Batu Sabak
Batu sabak adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan sedimen berbutir halus, misalnya serpih yang berubah karena tekanan dan suhu tinggi

c. Batu Kuarsa
Batu kuarsa berasal dari batu pasir yang berubah karena suhu dan tekanan yang tingi

sumber : .www.geo-eratosthenes.blogspot.com

Untuk keterangan lebih lanjut, kunjungi situs ini: Geology.about.com

 

 
Leave a comment

Posted by on June 3, 2012 in Batuan, Geology

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,275 other followers