RSS

Category Archives: Tambang Terbuka (Open Pit Mining)

INVESTIGASI GEOTEKNIK

1    TUJUAN INVESTIGASI

Investigasi geoteknik atau penyelidikan tanah dan batuan sebagai alas bagi konstruksi jalan rel adalah tahap yang krusial dalam perencanaan jalan kereta api. Pengalaman menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan jalan kereta api dapat membengkak akibat penyelidikan yang tidak memadai. Biaya dalam tahap penyelidikan geoteknik seringkali ditekan hingga serendah mungkin, sehingga penyelidikan dilakukan dalam tingkat yang amat kasar, hal ini pada akhirnya membuahkan parameter tanah yang tidak cukup representatif. Parameter tanah yang tidak mencerminkan kondisi tanah yang sesungguhnya bermuara pada kesalahan dalam perencanaan.

Tujuan investigasi geoteknik adalah untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan kondisi tanah dan air tanah pada suatu lokasi tertentu. Untuk mendapatkan informasi tersebut pada umumnya dilakukan dengan pengeboran (boring and drilling), dimana contoh tanah diambil untuk diuji lebih lanjut. Tujuan investigasi geoteknik secara umum dapat diuraikan sebagai berikut.

  • Profil perlapisan tanah

Untuk memperoleh profil perlapisan tanah, maka diperlukan pemboran untuk mengambil contoh tanah pada kedalaman yang berbeda-beda. Dari profil perlapisan tanah informasi penting yang harus diperoleh adalah sebagai berikut:

  1. Informasi berkenaan dengan jenis lapisan tanah, tebalnya dan kemiringan lapisan-lapisan tersebut.
  2. Lokasi lapisan tanah keras atau lapisan batuan
  • Variasi perlapisan tanah secara horizontal yang meliputi seluruh proyek.
  • Kondisi air tanah yang meliputi: a) digunakan untuk menentukan letak muka air tanah dan tekanannya dan b) digunakan untuk menentukan permeabilitas tanah.
  • Sifat-sifat fisik tanah dan batuan.
  • Sifat-sifat mekanika tanah dan batuan, seperti kekuatan dan kompressibiltas.
  • Hal-hal khusus pada perlapisan tanah, seperti adanya lapisan tipis material lapuk, adanya kantung-kantung kerikil pada lapisan pasir dan lain-lain.
  • Informasi-informasi khusus lainnya, seperti adanya kandungan bahan kimia dalam air tanah, diketahuinya kondisi pondasi struktur di dekat proyek.

 

2    PROSEDUR INVESTIGASI

Prosedur investigasi geoteknik umumnya melewati tahap-tahapan sebagai berikut:

  • Reconnaisance
  • Investigasi pendahuluan
  • Investigasi rinci
  • Penyelidikan selama konstruksi

Tahap-tahap investigasi yang disebutkan di atas pada hakikatnya menunjukkan tingkatan investigasi yang diperlukan. Tahap investigasi tertentu akan memberi petunjuk apakah perlu melakukan investigasi pada tahap berikutnya. Sebagai contoh, informasi yang diperoleh dalam tahap reconnaissance akan menjadi petunjuk untuk melakukan investigasi pendahuluan berkenaan dengan hal-hal yang perlu diinvestigasi lebih lanjut.  Dalam melakukan investigasi tidak selalu diperlukan melakukan 4 tahap investigasi secara berturut-turut. Jika dianggap cukup, maka investigasi hanya sampai pada tahap investigasi pendahuluan, tergantung pada tingkat kompleksitas perlapisan tanah yang ada dan struktur yang akan dibangun.

 

Tags: , , , ,

Ruang Lingkup Perencanaan Tambang

Agar perencanaan tambang dapat dilakukan dengan lebih mudah, masalah ini biasanya dibagi menjadi tugas-tugas sebagai berikut :

1. Penentuan Batas dari Pit

Menentukan batas akhir dari kegiatan penambangan (ultimate pit limit) untuk suatu cebakan bijih. Ini berarti menentukan berapa besar cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan kadarnya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan bijih tersebut. Dalam penentuan batas akhir dari pit, nilai waktu dari uang belum diperhitungkan.

2. Perancangan Pushback

Merancang bentuk-bentuk penambangan (minable geometries) untuk menambang habis cadangan bijih tersebut mulaid ari titik masuk awal hingga ke batas akhir dari pit.  Perancangan pushback atau tahap-tahap penambangan ini membagi ultimate pit menjadi unit-unit perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah perancangan tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana. Pada tahap ini elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke dalam rancangan penambangan karena urut-urutan penambangan pushback telah mulai dipertimbangkan.

3. Penjadwalan Produksi

Menambang bijih dan lapisan penutupnya (waste) di atas kertas, jenjang demi jenjang mengikuti urutan  pushback, dengan menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk tiap  pushback yang diperoleh dari tahap 2).  Pengaruh dari berbagai kadar batas (cut off grade) dan berbagai tingkat produksi bijih dan waste dievaluasi dengan menggunakan kriteria nilai waktu dari uang, misalnya  net present value.  Hasilnya akan dipakai untuk menentukan sasaran jadwal produksi yang akan memberikan tingkat produksi dan strategi kadar batas yang terbaik.

4. Perencanaan tambang berdasarkan urutan waktu

Dengan menggunakan sasaran jadwal produksi yang dihasilkan pada tahap 3), gambar atau peta-peta rencana penambangan dibuat untuk setiap periode waktu (biasanya per tahun).  Peta-peta ini menunjukkan dari bagian mana di dalam tambang datangnya bijih dan  waste untuk tahun tersebut.  Rencana penambangan tahunan ini sudah cukup rinci, di dalamnya sudah termasuk pula jalan angkut dan ruang kerja alat, sedemikian rupa sehingga merupakan bentuk yang dapat ditambang. Peta rencana pembuangan lapisan penutup (waste dump) dibuat pula untuk periode waktu yang sama sehingga gambaran keseluruhan dari kegiatan penambangan dapat terlihat.

5. Pemilihan Alat

Berdasarkan peta-peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup dari tahap 4) dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu.  Dengan mengukur profil jalan angkut ini, kebutuhan armada alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk setiap periode (setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu lainnya (dozer, grader, dll.) dihitung pula.

6. Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital

Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat dihitung jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai sasaran produksi.  Jumlah dan jadwal kerja dari personil yang dibutuhkan untuk operasi, perawatan dan pengawasan dapat ditentukan.  Akhirnya, ongkos-ongkos operasi, kapital dan penggantian alat dapat dihitung.
 

Tags: , , , , ,

Reklamasi Tambang

PENUTUPAN TAMBANG

 

     Pada dasarnya, selain pertambangan batubara memberikan manfaat ekonomi langsung, tidak dipungkiri pertambangan juga berpotensi menyebabkan gangguan lingkungan, termasuk fungsi lahan dan hutan. Tekanan yang besar terhadap isu lingkungan diakibatkan oleh perilaku beberapa pelaku usaha pertambangan, memang harus dikoreksi. Juga kadang, ketidaktahuan masyarakat terhadap industri pertambangan secara makro. Ketidaktahuan, kadang memunculkan presepsi keliru terhadap industri pertambangan secara keseluruhan. Padahal, salah satu tujuan kegiatan pertambangan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi bagi pelaku usaha pertambangan, segala yang menyebabkan ketidaktahuan masyarakat, termasuk isu keruskan lingkungan, harus di luruskan.
Industri pertambangan batubara, termasuk PT. Berau Coal, memiliki keterkaitan yang erat dengan upaya global melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Komitmen utuk melakukan pembangunan berkelanjutan, sangatlah penting bagi perusahaan untuk mendapatkan dan mempertahankan “izin sosial operasi” dalam masyarakat.
Masa depan industri pertambangan tergantung dari warisan yang ditinggalkannya. Reputasi perusahaan, tidak saja dinilai pada saat memberikan manfaat selama operasi tambang. Namun, juga tidak dilepaskan dari beberapa jauh tanggung jawab perusahaan terhadap proses penutupan tambang.
Di masa sekarang, kalangan industri pertambangan telah menyadari bahwa untuk mendapatkan akses ke sumber daya di masa depan, mereka harus menunjukkan mampu menutup tambang (mine closure) secara efektif dan mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya masyarakat tempat tambang beroperasi. Ekspektasi dari regulasi dan pemangku kepentingan semakin tinggi, sehingga untuk dapat mencapai hasil maksimal, diperlukan metode yang benar serta diparalel dengan konsultasi dengan pemangku kepentingan secara rutin.
Pentupan tambang yang buruk atau bahkan ditelantarkan akan menyebabkan masalah warisan yang sulit bagi pemerinyah, masyarakat, perusahaan dan pada akhirnya akan merusak citra industri pertambangan secara keseluruhan.
BAGAIMANA DENGAN BERAU COAL
Metode Penambangan
Setiap langkah korporasi, termasuk konsep pentupan tambang PT. Berau Coal, tidak lepas dari motto perusahaan To Be Useful to Mankind in Enhancing their Quality of Life. Dengan dasar ini, penerangan pengelolaan pasca tambang selalu mencangkup program yang menjamin adanya keberlanjutan ekonomi, sosial dan perlindungan lingkungan. Program penutupan tambang, justru sudah dimulai sejak tahap operasi tambang dilakukan sampai menjelang areal tersebut siap untuk dikembalikan ke pemerintah bila telah memenuhi kriteria keberhasilan pasca tambang.
Sebelum membicarakan pentupan tambang Berau Coal, terlebih dahulu kita mesti mengerti, bagaimana Berau Coal menambang batubara ?

PT. Berau Coal dan kebanyakan pertambangan batubara di Indonesia, dilakukan dengan metode tambang terbuka (open pit/surface mining). Selain ada metode lain, metode tambang bawah tanah (under ground mining). Kriteria utama yang digunakan sebagai acuan dalam pemilihan metode pertambangan, besarnya nilai perbandingan tanah penutup (waste) yang harus digali dengan volume atau tonage batubara yang dapat ditambang. Perbandingan ini dikenal dengan istilah stripping ratio atau waste/coal ratio. Selama perbandingan ini masih memberikan margin keuntungan yang dapat diterima, tambang terbuka masih dianggap ekonomis. Selain alasan teknik lainnya, seperti sebagian besar cadangan batubara di Indonesia terdapat pada dataran rendah atau pegunungan dengan topografi yang landai, lapisan penutup yang tidak terlalu tebal serta kemiringan yang relatif kecil (< 30 derajat). Sebelum kegiatan penambang dimulai, pemahaman terhadap desain dan perancangan tambang harus cermat, terutama menyangkut tata letak dan perencanaan bukan tambang operational (pit slope design), penentuan target produksi awal dan pekerjaan development, jadwal produksi batubara serta stripping overburden, rencana penggalian dan penempatan waste. pada dasarnya, kegiatan penambangan dimulai dengan pembukaan lahan (land clearing), pengupasan dan penyelamatan tanah (soil removal) dan pemindahan penutup batubara (overburden removal) dan penambangan batubara.

TEKNIK REKLAMASI 

Dengan metode tambang terbuka (open pit) yang dilakukan PT. Berau Coal sampai sekarang, lahan bekas penambangan yang sudah selesai di tambang segera dilakukan reklamasi dan revegetasi. Reklamasi merupakan kegiatan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah rusak baik itu akibat penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan tersebut. Pelaksanaan reklamasi dan revegetasi , dapat dilakukan pula secara bersamaan sejauh dengan kemajuan aktifitas penambangan. Untuk bekas tambang yang tidak dapat ditutup kembali, pemanfaatan dapat dilakukan dengan berbagai cara serta tetap memperhatikan aspek lingkungan, seperti untuk pemanfaatan sebagai kolam cadangan air, pengembangan ke sektor wisata air, pembudidayaan ikan.
Kegiatan pengelolaan pengupasan tanah dan penimbunan tanah, tidak dapat dilepaskan dari proses bagaimana tanah yang diangkut dibawa ke lokasi penimbunan tanah (soil stockpile).

Penyelamatan Soil

Kadang tanah hasil pengupasan segera digunakan sebagai pelapis tanah yang telah ditentukan elevasi dan kemiringannya. Selanjutnya, dilakukan proses perapian dan pembuatan drainase serta jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Untuk mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk meningkatkan kesuburan tanah di daerah penimbunan dan reklamasi permanen, lapisan tanah penutup ini diperlukan penanaman dengan menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) jenis polongan.
Untuk keperluan tanaman reklamasi, pembibitan menjadi bagian yang sangat penting. Fasilitas pembibitan untuk memproduksi semai atau bibit yang diperluan untuk revegetasi, diperlukan beberapa jenis tanaman yang menjadi pilihan antara lain sengon, kaliandra, johar, trembesi, ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu,  sungkei, sawit, dan kakao.

REVEGETASI LAHAN BEKAS TAMBANG

Untuk penanaman tanaman penutup tanah (cover crops), Berau Coal memilih campuran jenis tanaman polongan seperti Centrasema pubescens, Colopogonium mucoides, mucuna. Jumlah 200 kg per hektar. Sistim yang dipilih, adalah jalur atau spot pada daerah yang direvegetasi.

Penanaman Cover Crops Sistem Spot
Penanaman LCC Sistem Paritan Pada Slop

 

Penanaman LCC Sistem Paritan
Kombinasi LCC ( CM, CP, Mucuna)

Selanjutnya, penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh dilakukan bersamaan dengan penanaman cover crops. Jarak yang dipilih 4m X 4m dan 5m X 5m.

Penanaman Pionir dan LCC
Pemasangan Plang Revegetasi
Tanaman Pioner (Sengon Laut) untuk Revegetasi
Perawatan Tanaman Sistem Jalur

Untuk pilihan tanaman sisipan yang umurnya lebih lama, dilakukan setelah daerah reklamasi berumur sekitar 2-3 tahun. Proses waktu lebih untuk mendapatkan agar kondisi tajuknya mencukup, sehingga iklim mikro mendukung tanaman jenis sisipan. Jarak lebih disesuaikan dengan jenis tanamannya, namun biasanya 5m x 5m dan 10m X 10m.
Penyebaran tanaman penutup tanah dengan bantuan hydroseeding juga telah diperaktekkan di Berau Coal. Luasan yang diuji sebesar 40 ha, dan difokuskan pada area reklamasi yang cukup curam yang tidak dapat dikerjakan secara manual. Dalam kurun waktu 2 minggu, biji tanaman penutup tanah (cover crops) sudah terlihat tumbuh.
Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman pada lahan bekas tambang, dapat ditentukan dari presentasi daya tumbuhnya, presentasi penutupan tajuknya, pertumbuhannya, perkembangan akarnya, penambahan spesies pada lahan tersebut, peningkatan humus, pengurangan erosi dan fungsi sebagai filter alam. Dengan cara ini, dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai dalam merestorasi lahan bekas.
Terakhir untuk mendapatkan keberhasilan revegetasi, dilakukan dengan pemeliharaan rutin meliputi pemupukan berkala, penyaringan, pendangiran, pemangkasan dan penyulaman.

Tanaman Sisipan (Jenis buah-buahan)
Perawatan Tanaman Sisipan
PENUTUP

Pada pasca tambang, kegiatan utama dalam merehabilitasi lahan bertujuan untuk mengupayakan agar ekosistem berfungsi lebih optimal. Penaatan lahan bekas tambang disesuaikan dengan penetapan tataruang wilayah bekas tambang. Sehingga, lahan bekas tambang dapat difungsikan menjadi kawasan lindung ataupun budidaya.
Berau Coal, dalam melakukan perencanaan penutupan tambang selalu memadukan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial dari semua tahapan operasional tambang. Dengan perencanaan penutupan tambang yang baik ternyata terbukti keberhasilannya di Berau Coal. Daerah terganggu menjadi berkurang, Potensi erosi tanah dapat dikurangi, meningkatkan kualitas air, meminimalkan resiko potensi air asam tambang dan tentunya keberhasilan revegetasi di daerah reklamasi yang dapat dukungan kehidupan satwa yang ada di sekitarnya. (Disarikan serta diedit dari : Artikel Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara PT. Berau Coal).

 

sumber : http://wwwenvdept-environmental.blogspot.com/p/reklamasi-revegetasi_11.html

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,273 other followers