RSS

Ilmu Ukur Tanah

17 Mar
Tujuan ILMU UKUR tambang :
1. Menyajikan secara grafis (rencana/bagian dr rencana) pekerjaan bwh tnh, btk dan kejadian gambaran penyebaran bhn galian serta struktur yang ada dr kenampakan perm bumi.
2. Memecahkan berbagianianai permasalahan dlm ILMU UKUR TAMBANG (eksplorasi, konstruksi, eksploitasi).
Hal-Hal penting dlm ILMU UKUR TAMBANG
1. Penerangan pada underground traversing untuk pembacaan sudut vertikal/horizontal, benang silang, pita ukur dll sangat dibutuhkan.
2. Daerah pengukuran tdk luas/terbatas sehingga sulit dlm pemasangan instrument maupun pengukurannya.
3. Menggunakan plumbobs Dengan tali penggantungnya pada titik station sehingga untuk penetapannya lebih sulit drpada pengukuran permukaan.
4. Rambu tdk digunakan krn tinggi mine haulage tunnel biasanya lebih pendek dr rambu sebagian gantinya Dengan menggunakan plumbobs.

INSTRUMENT & PERALATAN ILMU UKUR TAMBANG
1. Instrumen Optik : theodolite
2.Dumpey level : alat untuk menentukan elevasi di bwh tnh Dengan perbedaan ketinggian Dengan cara menarik garis ketinggian.
3. Rambu
4. Kompas : kompas ayun, tali
5. Pita ukur/meteran:
-untuk setting stasiun ukur dan melakukan pekerjaan Dengan teliti digunakan ukuran 200 ft x 3/8 in, skala ukur digulung.
-untuk pengukuran dipermukaan digunakan 300-400 ft, skala dindai setiap 5-10 ft
-untuk offset, tinggi instrumen, height of shot digunakan 6-8 ft
6. Plumb bob
7. Lampu penerangan
 
Keuntungan :
-lampu baterai lebih berat dr lampu karbit, sebaiknya memiliki ikat pinggang extra untuk tempat baterai.
-lampu baterai hrs diisi setiap hari tetapi surveyor masih membutuhkan lampu karbit saat mereka bekerja di daerah terpencil yang jauh dr listrik.
8. Kaca pembesar
9. Stambangtion
10. tempat peralatan yang berisi : plumb bob, tali plumb bob extra, alat untuk menutup sambungan Dengan saluran kompressor, tongkat pancang, kotak yang berisi pengait dan material sekrup, paku, tali manila, kain katun tipis.
11. Peralatan kantor : penthograph, planimeter, penggaris baja, copy flex, kalkulator, tinta warna.

METODE PENGUKURAN
Pembacaan Sudut Horizontal

1. Pembacaan Langsung
teleskop disetel di belakang sasaran Dengan plat pada nol menggunakan penjepit bwh, kemudian teleskop dibalik ke depan sasaran menggunakan penjepit atas sehingga sudut terbaca. Instrumen terbagi dr 0-360 Dengan arah ke kanan diukur searah jarum jam.

2. Defleksi
teleskop di set di belakang sasaran Dengan posisi jarum pada titik nol menggunakan penjepit bwh kemudian teleskop dibalik ke depan sasaran menggunakan penjepit atas dan vernier akan terbaca. Instrumen terbagi dr 0-180 pada akhir. Sudut yang terbaca mrpkn sudut defleksi/deviasi dr titik tembak ke kiri/kanan dr salah satu titik akhir.

3. Dengan Bearing
Teleskop dibalik dan diset di belakang sasaran Dengan piringan yang telah disetel pada benang terakhir subjek yang terbaca pada stasiun sebelumnya menggunakan penjepit bawah, teleskop dibalik ke sasaran tembakan menggunakan penjepit atas dan bearing subjek tembakan terbaca pada piringan. Instrumen terbagi dlm bbrp kuadran seperti sebuah kompas Dengan titik 0 pada U-S dan titik 90 pada T-B.

4. Dengan Azimuth
Teleskop dibalik dan diset di belakang sasaran Dengan setting piringan pada azimuth terakhir subjek seperti pembacaan dr station sebelumnya Dengan menggunakan penjepit bawah, teleskop dibalikan ke sasaran tembakan menggunakan penjepit atas dan bearing subjek tembakan terbaca dr piringan. Instrumen terbagi dr 0-360 ke arah kanan/searah jarum jam. Sesudah mengambil FS piringan yang ada dikiri dijepit dan Dengan menggunakan posisi seperti ini tanpa seting ulang kecuali hrs melaksanakan pengambilan BS pada station berikutnya.

5. Dengan Repetisi
Teleskop yang berada pada posisi normal diset ke belakang sasaran Dengan piringan pada posisi nol memakai penjepit bawah, kemudian tanpa loncatan dibalik kedepan sasaran tembakan menggunakan penjepit atas dan sudut terbaca dr piringan sertambang dicatat, selanjutnya tanpa diset ulang pembacaan 2 dilakukan. Pembacaan sudut dpt diulang pada saat pembacaan ke 2 kapan saja diinginkan. Vernier dibaca pada akhir pengukuran dan sudut ini berbeda nomor repetisinya, dimana sudut antara subjek sudut terakhir hrs sesuai Dengan setting pertama. Instrumen terdiri dr 0-360 ke arah kanan.

Bearing :  
Suatu sudut yang diukur ke kiri/kanan antara garis utara, selatan dengan titik tertentu
Azimuth :
Suatu sudut yang diukur dr titik utara ke suatu titik tertentu menurut arah jarum jam.

Pembacaan Sudut Vertikal
Sudut vertikal didpt Dengan menghubungkan jarak miring peta untuk menentukan jarak horizontal dan vertikal antara pojok2 pada akhir pencatatan. Sudut vertikal diukur langsung dimana sudut yang ada diatas/bwh garis horizontal diukur hanya 1 kali.

Pengukuran Jarak 
1. Dengan rangkaian/ikatan
2. Dengan pembacaan stadia
3. Dengan perekaman :
-pengukuran singkat antar pancang
-pengukuran panjang Dengan rentang2 bebas

Ploting
1. Dengan sudut dan jarak
2. Dengan cara azimuth / bearing dan jarak
3. Dengan cara koordinat.

PENGUKURAN TAMBANG BAWAH TANAH
Tujuan:
-Mengetahui arah/kemajuan penggalian bwh tnh
-Mengetahui volume broken ore/bat yang tergali
-Mengetahui posisi/keddkn lub bukaan thd permukaan topografi.

Macamnya:
-Pengukuran sudut horizontal (double)
-Pengukuran sudut vertikal (double)
-pengukuran jarak
-pengukuran tinggi alat/instrumen
-pengukuran tinggi plumb bob yang digantung
-pengukuran kiri dan kanan instrumen maupun plumb bob untuk mengetahui lebar bukaan
-kolom catatan, mis : tinggi level

Data yang harus diambil:
a. Dengan kompas :
1. Surface Traversing :
-Azimuth BS, Azimuth FS, Vertical angle (VA) FS, slope distance (SD) FS  
2. Underground traversing :
-Azimuth BS, Azimuth FS, Vertcal Angle FS, Slope Distance FS, Detil ke arah FS meliputi (jarak instrument ke dinding sebelah kiri bukaan/L dan jarak instrumen ke dinding sebelah kanan/R bukaan)

b. Dengan Theodolite
1. Surface traversing :
Tinggi instrumen, Skala lingk Horizon BS, skala lingk Hor FS, Vertical angle FS, jarak optis FS (Ba, Bb, Bt)
2. Underground traversing
Tinggi Instrumen, tinggi unting FS, skala lingk Hor BS, skala lingk hor FS, vertical angle FS, slope distance, detil ke arah FS meliputi (jarak instrumen ke dinding sebelah kiri bukaan/L, jarak instrumen ke dinding seb kanan bukaan/R, tinggi bukaan dr floor ke roof)
Data yang hrs dihitung :
-Azimuth awal dr base line   – Bearing FS
-Angle rght                      -Horizontal distance
-Azimuth FS                         -Latitude
-Departure                            -Vertical distance
-Koordinat titik FS                 -Grade
-Tinggi titik FS

Prosedur:
1. Pasang alat
2. Mencatat tinggi Instrumen
3. Mencatat jarak kanan kiri instrumen
4. Mengatur instrumen termasuk penyeimbangan nivo
5. Mulai pada 0 dan mengambil BS Dengan gerak perlahan
6. Melepaskan penggerak atas dan bidik FS
7. Membaca dan mencatat HA, melepaskan penggerak bagianian bwhnya dan putar lingkaran Vertikal ke depan operator dan baca VA
8. Mengarahkan teleskop ke BS Dengan menggerakan penggerak bagian bawah
9. Melepaskan penggerak bagian atas dan bidik FS
10. Membaca HA dan VA, pada sudut data pembacaan VA untuk ke 2 kalinya tdk perlu. Jangka HA dibaca double ulangi proses setelah posisi 0 dan tempatkan teleskop dlm posisi langsung
11.Setelah semua pengukuran reguler lengkap, pembantu membawa ujung 0 dr pita ke patok FS dan diukur SD. Sebelum memulai pengukuran instrument hrs ditempatkan ke arah patok FS.
12. Gerakan ke patok FS dan catat HS
About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2012 in Perpetaan

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,275 other followers

%d bloggers like this: