RSS

Laporan Stoikiometri

25 Feb

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang

Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa kimia yang ditandai dengan berubahnya satu zat menjadi zat lain. Reaksi kimia merupakan pusat perhatian dari ilmu kimia.

Suatu bidang kimia yang mempelajari aspek kuantitatif unsure dalam suatu senyawa atau reaksi kimia disebut stoikiometri. Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu “Stoicheon” yang berarti unsure atau elemen dan “metron” yang berarti mengukur. Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam suatu reaksi atau istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan – hubungan kuantitatif dari reaksi kimia atau senyawa kimia.

Dasar dari semua hitungan stoikiometri adalah pengetahuan tentang massa atom atau massa molekul. Pengetahuan tentang stoikiometri sangat penting dalam merencanakan suatu eksperimen maupun dalam industry nantinya, dimana kita dapat mencampurkan atau mereaksikan zat pereaksi dalam jumlah yang sesuai dan kita dapat memperkirakan jumlah produk yang dihasilkan.

Jumlah zat kimia dinyatakan dalam mol. Dalam perhitungan kimia satuan mol digunakan untuk satuan jumlah. Satu mol zat adalah banyaknya zat tersebut yang mengandung 6.02×1023 partikel, yang partikel tersebut dapat berupa atom, molekul atau ion.

Sedangkan massa suatu mol zat yang dinyatakan dalam gram disebut massa molar, yang dalam gram sama banyak dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Kita perlu mengetahui bobot molar zat – zat untuk meramalkan atau menafsirkan hasil – hasil perubahan kimia.

 

1.2           Tujuan Percobaan

 

1.2.1        Menentukan titik maksimum dan titik minimum pada percobaan.

1.2.2        Menentukan reaksi eksoterm dan reaksi endoterm pada percobaan.

1.2.3        Menentukan pereaksi pembatas dan pereaksi siasa pada percobaan.

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

            Dalam bahasa kimia, tiap zat murni yang diketahui, baik unsure maupun senyawa, mempunyai nama dan rumus uniknya sendiri. Cara tersingkat untuk memberikan suatu reaksi kimia ialah menulis rumus untuk tiap zat yang terlibat dalam bentuk suatu persamaan kimia. Suatu persamaan kimia meringkaskan sejumlah besar informasi mengenai zat – zat yang terlibat dalam reaksi. Persamaan ini tidaklah sekedar pernyataan kualitatif yang menguraikan zat – zat yang terlibat, tetapi juga pernyataan kuantitatif, yang menjelaskan berapa banyak pereaksi dan hasil reaksi terlibat. Proses membuat perhitungan yang didasarkan  pada rumus – rumus dan persamaan – persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri.

Stoikiometri adalah memberikan reaksi kimia yang pereaksi – pereaksinya bergabung dengan nisbah bilangan bulat sederhana. Persamaan kimia merupakan suatu cara untuk menyatakan reaksi kimia menggunakan seperangkat lambing bagi partikel yang berperan serta (atom, molekul, ion, dll) misalnya :

xA + yB → zC + wD

            Panah tunggal digunakan untuk reaksi tak reversible, panah ganda untuk reaksi yang reversible. Bila reaksi melibatkan berbagai fase, fase ini biasanya dicantumkan dalam tanda kurung sesudah lambing (s = padat, l = cair, g = gas, aq = berair). Bilangan x, y, z, dan w menunjukkan jumlah relative molekul yang bereaksi dan dinamakan koefisien stoikiometrik. Jumlah koefisien pereaksi dikurangi jumlah koefisien produk (x + y – z – w) disebut jumlah stoikiometrik. Jika jumlah ini nol, persamaannya seimbang. Kadang – kadang persamaan kimia umum dapat ditulis sebagai.

V1A1 + V2A2 + … → VnAn + Vn+1 + An+1 + …

            Dalam hal ini, ∑V1A1 = 0, dengan perjanjian bahwa koefisien stoikiometri disini ialah ∑V1. Koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah partikel dari zat yang terlibat dalam reaksi. Oleh karena 1 mol setiap zat mengandung jumlah partikel yang sama, maka perbandingan jumlah partikel sama dengan perbandingan jumlah mol. Jadi, koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi.

Koefisien dalam persamaan kimia menyatakan :

  1. Perbandingan mol – mol zat – zat dalam reaksi
  2. Perbandingan volume gas – gas dalam reaksi

 

Bobot molekul zat adalah jumlah bobot (dari) atom – atom yang ditunjukkan dalam rumusnya. Penggunaan istilah – istilah bobot molekul suatu zat – zat tidak berarti bahwa zat terdiri atas molekul – molekul. Istilah “molekul” merujuk ke suatu partikel netral, tetapi banyak zat yang terbuat dari partikel bermuatan yang disebut ion. Beberapa ahli kimia menggunakan istilah bobot molekul hanya untuk merujuk zat – zat yang terdiri dari molekul. Definisi yang lebih umum mengenai istilah bobot molekul diterima dengan meluas karena memungkinkan penggunaan suatu konsep yang dikenal dalam semua kasus, tanpa memaksa pemakai istilah itu mencari lebih dahulu partikel macam apa yang dikandung oleh zat tertentu itu.

Senyawa stoikiometrik yaitu senyawa yang atom – atomnya bergabung dengan nisbah bilangan bulat yang tepat. Bandingkan dengan senyawa non-stoikiometrik.

Rasio atom dalam setiap senyawa juga menunjukkan jumlah satuan berat atom unsur tersebut. Berat relative diperoleh dengan mengalikan rasio atom dan berat atom. Persen berat setiap unsur dihitung dari berat relatifnya dibagi dengan jumlah berat relatif. Senyawa – senyawa kimia dengan rasio atom integral, seperti nitrit oksida disebut sebagai senyawa stoikiometri. Contoh adalah oksida aluminium, namun kali ini dimulai dengan membagi presentasi berat dengan berat atom dari tabel periodik.

Rumus empiris ialah rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom – atom dari unsure – unsure yang menyusun suatu senyawa. Rumus molekul ialah rumus yang menyatakan jumlah atom – atom dari unsur – unsur yang menyusun satu molekul senyawa.

Metoda eksperimen modern membuktikan bahwa banyaknya atom iualah 6.022×1023 . Bilangan raksasa ini disebut bilangan Avogadro untuk memperingati jasa Amadeo Avogadro, rekan sezaman Dalton yang cerdas. Bobot satu mol suatu zat disebut bobot molar. Bobot molar dalam gram suatu senyawa secara numeris sama dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Banyaknya satu hasil reaksi yang diperhitungkan akan diperoleh jika hasil reaksi itu sempurna disebut rendemen teuritis. Dalam praktek, pemulihan suatu hasil reaksi kurang dari 100 %, kadang – kadang jauh lebih rendah. Rendemen nyata suatu hasil reaksi dibagi dengan rendemen teoritis kali seratus adalah rendemen persentase.Pereaksi pembatas adalah zat yang habis bereaksi dan karena itu membatasi kemungkinan diperpanjangnya reaksi itu.

Pereaksi atau pereaksi – pereaksi lain dikatakan berlebihan, karena tertinggal sejumlah yang tak bereaksi. Perhitungan yang didasarkan persamaan berimbang haruslah dimulai dari banyknya pereaksi pembatas.

Apabila zat – zat yang direaksikan tidak ekuivalen, maka salah satu pereaksi akan habis lebih dahulu, sedangkan pereaksi yang lain bersisa. Jumlah hasil reaksi bergantung pada jumlah pereaksi yang habis lebih dahulu. Oleh karena itu, pereaksi yang habis lebih dahulu disebut pereaksi pembatas.

Terdapat banyak metoda untuk menentukan persentase bobot dari unsur – unsur yang berbeda dalam suatu senyawa. Metoda ini beraneka ragam, bergantung pada macam senyawa dan unsur – unsur yang menyusunnya. Dua metoda klasik ialah analisis pengendapan (dapat digunakan bila terbentuk senyawa yang sedikit sekali larut) dan analisis pembakaran (digunakan secara meluas).

Apabila suatu campuran dari dua jenis zat direaksikan dengan suatu pereaksi dan kedua komponen itu bereaksi, maka persamaan reaksinya harus ditulis secara terpisah.

Segera setelah susunan suatu senyawa ditentukan secara ekperimen data itu, bersama – sama dengan bobot atom yang diketahui, kemudian dapat digunakan untuk menghitung angka banding tersederhana dari atom – atom dalam senyawa itu dan dengan demikian rumus empirisnya. Rumus ini dapat sama dengan rumus molekul, dapat pula  tidak.

Rumus molekul suatu zat merupakan kelipatan bilangan bulat rumus empiris. Untuk menentukan rumus molekul suatu zat, ahli kimia harus menentukan secara eksperimen bobot molekul disamping rumus empirisnya.

Stoikiometri memungkinkan dihitungnya susunan persentase (bobot) suatu senyawa dari rumus empiris maupun molekul. Lebih penting dalam kehidupan nyata ialah bahwa stoikiometri memungkinkan dihitungnya rumus empiris dari susunan persentase, yang harus ditentukan dengan ekperimen. Dua metoda klasik untuk melakukan hal ini ialah analisis pengendapan dan analisis pembakaran. Sekali rumus empiris diketahui, rumus molekul dapat ditentukan dari bobot molekul senyawa itu yang ditentukan dengan kira – kira. Akhirnya, dari rumus molekul yang telah diketahui, bobot molekul cermat dapat dihitung.

Hidrat adalah zat padat yang mengikat beberapa molekul air sebagai bagian dari struktur kristalnya.

Stoikiometri larutan, banyak reaksi yang berlangsung dalam bentuk larutan. Sebagaimana telah diketahui jika kadar atau konsentrasi larutan diketahui.

Salah satu cara yang paling umum digunakan untuk mrnyatakan konsentrasi (kepekatan) larutan adalah kemolaran (M). Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah mmol zat terlarut dalam tiap ml larutan.

 mol L-1  atau  mmol ml-1

Salah satu keuntungan menggunakan cara kemolaran adalah kemudahan untuk mengetahui jumlah mol zat terlarut dalam volume tertentu larutan.

Reaksi kimia menggabungkan unsure – unsure menjadi senyawa, penguraian senyawa menghasilkan unsure – unsurnya dan transformasi mengubah senyawa yang ada menjadi senyawa baru. Oleh karena atom tidak dapat dimusnahkan dalam reaksi kimia, maka jumlah atom(atau mol atom) dari setiap unsure sebelum dan sesudah reaksi harus selalu sama. Kekekalan materi dalam perubahan kimia ini terlihat dari persamaan kimia yang balans untuk proses tersebut.

Persamaan dapat disetarakan dengan menggunakan penalaran yang bertahap. Perhatikan penguraian amonium nitrat (NH4NO3) yang dipanaskan secara hati – hati menjadi dinitrogen oksida (N2O) dan air. Persamaan tak balans untuk proses ini ialah :

NH4NO3 → N2O + H20

Rumus – rumus disebelah kiri menyatakan reaktan dan yang disebelah kanan adalah produknya. Persamaan ini tidak balans karena ada 3 mol atom O di sebelah kiri (dan 4 H) tetapi hanya 2 mol atom O dan 2 mol atom H di sebelah kanan. Untuk menyetarakan persamaan, mula – mula tetapkan 1 sebagai koefisien salah satu spesies, biasanya yang palinf banyak mengandung unsure. Kemudian, carilah unsure – unsure yang hanya muncul satu kali di ruas lainnya dan tetapkan koefisien untuk mengimbangkan jumlah atom mereka, menjadi :

NH4NO3 → N2O + 2H20

Metode untuk menyetarakan persamaan dengan pengamatan seperti ini dapat diterapkan untuk banyak hal, tetapi tidak untuk semua kasus. Begitu reaktan dam produk diketahui, menyetarakan persamaan kimia merupakan proses perhitungan yang mekanis dan rutin. Bagian yang sulit ialah mengetahui zat mana yang bereaksi dan produk yang terbentuk.

Hukum – hukum dasar ilmu kimia :

Hukum Kekekalan Massa dari Lavoiser

“Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap atau sama”

Hukum Perbandingan Tetap dari Proust

“ Tiap – tiap senyawa memiliki perbandingan massa unsure yang tetap”

Hukum Perbandingan Berganda dari Dalton

“Jika dua buah unsur dapat membentuk lebih dari satu macam persenyawaan, perbandingan massa unsur yang satu dengan yang lainnya adalah tertentu, yaitu berbanding sebagai bilangan yang mudah dan bulat”

Hukum Perbandingan Volume dari Gay Lussac

“Pada reaksi gas, yang bereaksi berbanding sebagai bilangan mudah dan bulat asal diukur pada tekanan dan temperatur yang sama”

Hukum Boyle – Gay Lussac

“Untuk gas dengan massa tertentu, maka hasil kali volume dengan tekanan dibagi oleh suhu yang diukur dalam Kelvin adalah tetap.

 

Hubungan mol dengan Massa zat

Mol =   atau mol =

Gram = mol . Ar  atau  Gram = mol . Mr

Hubungan mol dengan Jumlah Partikel

Mol =

Dengan jumlah partikel = mol . L (6.02×1023)

 

 

Hubungan mol dengan Volume

-          Keadaan standar (STP)

Volume gas STP = mol x 22.4 Liter

-          Pada sembarang keadaan

=

-          Bukan keadaan STP

PV = nRT

P = tekanan

V = Volume

R = Tetapan gas (0.082 L

T = Suhu dalam Kelvin

 

 

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

3.1    Alat dan Bahan

3.1.1    Alat – alat yang digunakan

- Gelas kimia 100 ml

- Termometer

- Gelas ukur 25 ml

- Pipet tetes

- Pipet ukur 10 ml

 

3.1.2    Bahan – bahan yang diperlukan

- Larutan NaOH 1 M

- Larutan HCL 1 M

- Larutan H2SO4 1 M

 

3.2     Prosedur Percobaan

1. Stoikiometri sistem NaOH – HCl

Ke dalam gelas kimia 50 ml, dimasukkan larutan NaOH 1 M sebesar 2.5 ml lalu diukur suhunya kemudian dicampurkan larutan HCl 1 M sebesar 12.5 ml yang sudah diukur pula suhu awalnya. Setelah tercampur, suhu campuran tersebut lalu diukur. Begitu seterusnya pada NaOH 1 M sebesar 5 ml dengan HCl 1 M sebesar 10 ml, NaOH 1 M 7.5 ml dengan HCl 1 M 7.5 ml, NaOH 1 M 10 ml dengan HCl 1 M 5 ml, dan NaOH 1 M 12.5 ml dengan HCl 1 M 2.5 ml.

2.  Stoikiometri sistem NaOH – H2SO4

                              Kedalam gelas kimia 50 ml, dimasukkan larutan NaOH 1 M sebesar 2.5 ml lalu diukur suhunya kemudian dicampurkan larutan H2SO4 1 M sebesar 12.5 ml yang sudah diukur pula suhu awalnya. Setelah tercampur, suhu campuran tersebut lalu diukur. Begitu seterusnya pada NaOH 1 M sebesar 5 ml dengan H2SO4 1 M 7.5 ml, NaOH 1 M 10 ml dengan H2SO4 1 M 5 ml, dan NaOH 1 M 12.5 ml dengan H2SO4 1 M 2.5 ml. Sama seperti pada sistem NaOH – HCL dan dengan segera suhu campurannya diukur.

 

 

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1    Hasil Pengamatan

1.         Sistem NaOH – HCl

Volume NaOH Volume HCl Suhu NaOH Suhu HCl Suhu Campuran
2.5 ml 12.5 ml 30° 30° 31°
5 ml 10 ml 30° 30° 31°
7.5 ml 7.5 ml 30° 30° 32°
10 ml 5 ml 30° 30° 31°
12.5 2.5 ml 30° 30° 30°

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.         Sistem NaOH – H2SO4

Volume NaOH Volume H2SO4 Suhu NaOH Suhu H2SO4 Suhu Campuran
2.5 ml 12.5 ml 30° 30° 31°
5 ml 10 ml 30° 30° 31°
7.5 ml 7.5 ml 30° 30° 32°
10 ml 5 ml 30° 30° 31°
12.5 2.5 ml 30° 30° 30°

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.2    Pembahasan

4.2.1  Perhitungan

1. Sistem NaOH 1 M – HCl 1 M

a. 2,5 ml NaOH 1M + 12,5 ml HCl 1 M

mmol = V x M

= 2.5 x 1

NaOH  = 2.5 mmol

 

mmol = V x M

= 2.5 x 1

HCl = 2.5 mmol

b.  5 ml NaOH 1M + 10 ml HCl 1 M

mmol = V x M

= 5 x 1

NaOH   = 5 mmol

 

mmol = V x M

= 10 x 1

HCl = 10 mmol

c.  7.5 ml NaOH 1M + 7.5 ml HCl 1 M

mmol = V x M

= 7.5 x 1

NaOH   = 7.5 mmol

 

mmol = V x M

= 7.5 x 1

HCl = 7.5 mmol

d.  10 ml NaOH 1M + 5 ml HCl 1 M

mmol = V x M

= 10 x 1

NaOH   = 10 mmol

 

mmol = V x M

= 5 x 1

HCl = 5 mmol

e.  12.5 ml NaOH 1M + 2.5 ml HCl 1 M

mmol = V x M

= 12.5 x 1

NaOH   = 12.5 mmol

 

mmol = V x M

= 2.5 x 1

HCl = 2.5 mmol

 

2. Sistem NaOH 1 M – H2SO4 1 M

                        a.  2.5 ml NaOH 1M + 12.5 ml H2SO4 1 M

mmol = V x M

= 2.5 x 1

NaOH   = 2.5 mmol

 

mmol = V x M

= 12.5 x 1

H2SO4   = 12.5 mmol

b.  5 ml NaOH 1M + 10 ml H2SO4 1 M

mmol = V x M

= 5 x 1

NaOH   = 5 mmol

 

mmol = V x M

= 10 x 1

H2SO4   = 10 mmol

c.  7.5 ml NaOH 1M + 7.5 ml H2SO4 1 M

mmol = V x M

= 7.5 x 1

NaOH   = 5 mmol

 

mmol = V x M

= 7.5 x 1

H2SO4   = 7.5 mmol

d.  10 ml NaOH 1M + 5 ml H2SO4 1 M

mmol = V x M

= 10 x 1

NaOH   = 10 mmol

 

mmol = V x M

= 5 x 1

H2SO4   = 5 mmol

 

 

 

 

e.      12.5 ml NaOH 1M + 2.5 ml H2SO4 1 M

mmol = V x M

= 12.5 x 1

NaOH   = 12.5 mmol

 

mmol = V x M

= 2.5 x 1

H2SO4   = 2.5 mmol

 

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu “Stoicheon” yang berarti unsure atau elemen dan “metron” yang berarti mengukur. Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam suatu reaksi atau istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan – hubungan kuantitatif dari reaksi kimia atau senyawa kimia.

1.Stoikiometri sistem NaOH – HCl

a. 2,5 ml NaOH 1M + 12,5 ml HCl 1 M

NaOH      +       HCl                         NaCl      +      H2O

Mula-mula :  2,5 mmol         12,5 mmol                     -                    -

Reaksi        :  2,5 mmol         2,5 mmol                 2,5 mmol     2,5 mmol

 

Sisa            :       –                   10 mmol                 2,5 mmol     2,5 mmol

b. 7,5 ml NaOH 1 M + 7,5 ml HCl 1 M

NaOH      +        HCl                         NaCl      +      H2O

Mula-mula : 7,5 mmol       7,5 mmol                     -                      -

Reaksi        : 7,5 mmol       7,5 mmol               7,5 mmol         7,5 mmol

Sisa            :       –              -    mmol                7,5 mmol         7,5 mmol

c. 10 ml NaOH 1 M + 5 ml HCl 1 M

NaOH      +        HCl                         NaCl      +      H2O

Mula-mula : 10 mmol        5 mmol                       -                      -

Reaksi        : 5 mmol          5 mmol                      5 mmol            5 mmol

Sisa            :    5 mmol      -   mmol                     5 mmol           5 mmol

Tersisa 5 mmol NaOH

Reaksi pembatasnya 5 mmol HCl

Reaksi di atas merupakan reaksi non stoikiometri

 

d. 12,5 ml NaOH 1 M + 2,5 ml HCl 1 M

NaOH      +        HCl                         NaCl      +      H2O

Mula-mula : 12,5 mmol     2,5 mmol                       -                      -

Reaksi        : 2,5 mmol       2,5 mmol                 2,5 mmol        2,5 mmol

 

Sisa            :   10 mmol           -                          2,5 mmol        2,5 mmol

 

 

Tersisa 10 mmol NaOH

Reaksi pembatasnya 2,5 mmol HCl

Reaksi di atas merupakan reaksi non stoikiometri

 

 

 

 

 

 

2. Stoikiometri sistem NaOH – H2SO4

a. 2,5 ml NaOH 1 M + 12,5 ml H2SO4  1 M

2NaOH      +      H2SO4                    Na2SO4     +       2H2O

Mula-mula :  2,5 mmol        12,5 mmol                     -                      -

Reaksi        :  2,5 mmol        1,25 mmol              1,25 mmol      2,5 mmol

Sisa            :         -           11,25 mmol               1,25 mmol      2,5 mmol

b. 7,5 ml NaOH 1 M +  7,5 ml H2SO4 1 M

2NaOH      +      H2SO4                    Na2SO4   +    2H2O

Mula-mula : 7,5 mmol          7,5 mmol                     -                   -

Reaksi        : 7,5 mmol          3,75 mmol             3,75 mmol    7,5 mmol

 

Sisa            :         -               3,75 mmol             3,75 mmol   7,5 mmol

c. 10 ml NaOH 1 M + 5 ml H2SO4 1 M

2NaOH      +      H2SO4                    Na2SO4   +    2H2O

Mula-mula :  10 mmol            5 mmol                      -                   -

Reaksi        :  10 mmol            5 mmol                   5 mmol       10 mmol

 

Sisa            :       -                       -                          5 mmol      10 mmol

d. 12,5 ml NaOH 1 M + 2,5 ml H2SO4 1 M

2NaOH      +      H2SO4                    Na2SO4   +    2H2O

Mula-mula : 12,5 mmol        2,5 mmol                    -                   -

Reaksi        :  2,5 mmol         1,25 mmol             1,25 mmol      2,5 mmol

 

Sisa            :  10 mmol        1,25 mmol              1,25 mmol     2,5 mmol

 

 

 

Reaksi stoikiometri adalah reaksi yang reaktannya tidak bersisa atau semua reaktannya habis bereaksi. Pada system NAOH-HCl yang merupakan reaksi stoikiometri terdapat pada volume 7,5 mL Naoh 1M dengan 7,5 mL HCl 1 M. Sedangkan pada NaoH-H­2SO4 yang merupakan reaksi stoikiometri terdapat pada volume 10 mL NaOH dengan 5 mL H2SO4.

Reaksi non stokiometri adalah reaksi yang salah satu reaktannya masih bersisa atau tidak habis bereaksi dan ada yang menjadi reaksi pembatas. Pada system NaOh – HCl yang merupakan reaksi non stoikiometri terdapat pada volume 2,5 mL NaOH dengan 12,5 mL HCl , 5 mL NaOh denagn 10 mL HCl, 10 mL NaOH dengan 5 mL HCl, dan 12,5 mL NaOH dengan 2,5 mL HCl. Sedangkan pada system NaOH – H2SO4 yang merupakan reaksi non stoikiometri adalah 2,5 mL NaOh dengan 12,5 mL H2SO4, 5 mL NaOH dengan 10 mL H2SO4, dan 12,5 mL NaOh dengan 2,5 mL H2SO4.

Pereaksi pembatas adalah zat (pereaksi) yang habis terlebih dahulu oleh karena zat tersebut telah habis bereaksi terlebih dahulu.  Jumlah hasil reaksi bergantung pada jumlah pereksi yang habis lebih dulu.Pada system NaOH-HCl untuk 2,5 mL NaOH dengan 12,5 mL HCl reaksi pembatasnya adalah NaOH, 5mL NaOH dengan 10 mL HCl reaksi pembatasnya NaOH, 10 mL NaOH dengan 5 mL HCl Pereaksi pembatasnya adalah HCl, 2,5 mL NaOH dengan 12,5 mL reaksi pembatasnya adalah HCl. Pada system NaOH-H2SO4 untuk 2,5 mL NaOH dengan 12,5 mL H2SO4 pereaksi pembatasnya adalah NaOH, 5mL NaOH dengan 10 mL H2SO4 reaksi pembatasnya NaOH, 10 mL NaOH dengan 5 mL H2SO4 Pereaksi pembatasnya adalah NaOH, 2,5 mL NaOH dengan 12,5 mL reaksi pembatasnya adalah H2SO4.

Reaksi eksoterm adalah reaksi pelepasan kalor dari system ke lingkungan sedangkan reaksi endoterm adalah reaksi penerimaan kalor dari lingkungan ke sistem. Pada system NaOH-HCl adalah termasuk reaksi endoterm, sedangkan pada system NaOH- H2SO4 adalah termasuk reaksi eksoterm.

Faktor-faktor kesalahan yang  terjadi pada saat percobaan yaitu thermometer yang selalu menempel ke dinding/kaca gelas sehingga membuat praktikan memegang ujungnya. Hal ini menyebabkan suhu pada thermometer terganggu pada suhu badan.

Berdasarkan grafik stoikiometri, telah dapat di tentukan diman titik maksimum dan minimum di masing-masing system (system NaOH-HCl dan system NaOH- H2SO4).

Perbandingan antara suhu campuran dan volume campurannya membuat terlihatnya titik maksimum dan titik minimum dari system. Pada system NaOH – HCl telah diketahui :

Ø Titik maksimum sebesar 32º pada campuran ke tiga.

Ø Titik minimum sebesar 30º pada campuran keloma.

Pada system NaOH – H2SO4 telah diketahui :

Ø Titik maksimum sebesar 34 º pada campuran keempat

Ø Titik minimum sebesar 31º pada campuran pertama.

 

BAB 5

PENUTUP

5.1    Kesimpulan

-           Pada percobaan yang telah dilakukan, titik maksimum dan titik minimum pada sistem NaOH – HCl adalah 32°C pada campuran ketiga dan 30°C pada campuran kelima.

-           Sedangkan titik maksimum dan titik minimum pada sistem NaOH – H2SO4 adalah 34°C pada campuran keempat, 31°C pada campuran pertama.

-           Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan disimpulkan sistem NaOH – HCl merupakan reaksi endoterm dan sistem NaOH – H2SO4 adalah reaksi eksoterm

-           Reaksi pembatas pada NaOH – HCl dalam 2.5 ml NaOH + 12.5 ml HCl, 5 ml NaOH + 10 ml HCl adalah NaOH dan pereaksi sisanya adalah HCl. Sedangkan dalam 10 ml NaOH + 5 ml HCl, 12.5 ml NaOH + 2.5 ml HCl reaksi pembatasnya adalah HCl dan pereaksi siasanya adalah NaOH. Dan pada sistem NaOH – H­2SO4 2.5 ml NaOH + 12.5 ml H­2SO4 , 5 ml NaOH + 10 ml H­2SO4 , pereaksi pembatasnya adalah NaOH sedangkan dalam 10 ml NaOH + 5 ml H­2SO4 , 12.5 ml NaOH + 2.5 ml H­2SO4 reaksi pembatasnya adalah H­2SO4.Dan pereaksi sisanya adalah NaOH.

 

5.2    Saran

Sebaiknya dalam percobaan ini larutan yang digunakan tidak terbatas pada 2 larutan yang hamper signifikan atau sama. Larutan – larutan dapat ditambah sehingga wawasan para praktikan dapat lebih meluas. Sebagai contohnya dapat digunakan larutan Na2CO3 – HCl atau KOH – CH3COOH

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hendayana, Sumar.1984.Kimia Analitik Instrumen.IKIP Semarang press : Semarang

Keenan,Kleinfeiter,wood.1980.Kimia Untuk Universitas Edisi Keenam Jilid I Erlangga : Jkarta

Ralph H,Petrucci.1985.Kimia Dasar.Gelora Aksara : Jakarta

Respati,1992.Dasar – Dasar Ilmu Kimia.Rineka Cipta : Jakarta

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on February 25, 2012 in Kimia

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,273 other followers

%d bloggers like this: